Kamis, 05 Desember 2013

CineUs







Penulis : Evi Sri Rezeki
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, Agustus 2013
Jumlah Hal.  : 304 halaman
ISBN: 978-602-7816-56-5

Demi menang di Festival Film Remaja, Lena rela melakukan apa saja. Bukan hanya demi misi mengalahkan mantan pacarnya yang juga ikut berkompetisi, tetapi karena dia pun harus mempertahankan Klub Film sekolahnya. Soalnya klub kecilnya bersama Dania dan Dion itu kurang didukung oleh pihak sekolah. Padahal salah satu kreativitas siswa bikin film, kan! 

Untung ada satu orang yang bikin hari-hari Lena jadi lebih seru. Si cowok misterius yang kadang muncul dari balik semak-semak. Apaaa? Eh, dia bukan hantu, lho … tapi dia memang punya tempat persembunyian ajaib, mungkin di sanalah tempat dia membuat web series terkenal favorit Lena. Nah, siapa tahu cowok itu bisa membantu Lena biar menang di festival. 

Kisah Lena ini seperti film komedi-romantis yang seru. Jadi, selamat tonton, eh, baca! :)

CineUs adalah buku pertama dari seri S-Club, cerita tentang seru-seruan di klub-klub sekolah.
***

Lena, murid kelas XI SMA Cerdas Pintar Bandung. Dia dan dua sahabatnya, Diaon dan Dania, membentuk sebuah klub baru di sekolah. Klub Film, ini karena mereka sama-sama tertarik untuk membuat film. Dan cerita di dalam novel ini akan banyak mengangkat cerita perjuangan mereka mempertahankan klub tersebut dalam sudut pandang Lena.


Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama yakni sudut pandang Lena, cerita dibuka dengan pengalaman awal (yang pahit) tentang pembentukan Klub Film. Kegiatan pertama mereka yakni pemutaran film, tidak memiliki penonton kecuali 2 orang reporter dari majalah Cerdas Pintar, majalah sekolah mereka. Dan ternyata reporter tersebut malah memuat berita yang cukup membuat kecut hati Lena.

Setelah itu cerita langsung bersetting di basecamp Klub Film, yang terletak di pojok utara bangunan sekolah yang berhadapan dengan taman. Sudah ada 7 anggota yang berhasil di rekrut. Kesemuanya adalah siswa kelas X dengan sifat yang “beda”. Ha..ha.. membayangkan klub ini nyata, pasti setiap hari ribuuuuttt aja dengan ada sebuah suara yang menciciiitt ketakutan. Yang paling saya ingat tentu saja Romi (dia akan punya peran besar di dalam cerita ini, tapi sebagai antagonis), Balia (manusia setengah-setengah), dan Aya (cewek yang penggambarannya mengingatkan saya pada Betty La Fea, tapi tentu saja minus kawat gigi dan dengan rambut hitam berkepang *heh?! Trus bagian mananya yang mirip??* Hm..auranya kali (^_^)v).

Dania, sahabat Lena dan juga ketua Klub Film digambarkan sebagai tokoh yang keibuan. Dion, sahabat Lena yang juga ikut membentuk Klub Film (ingat??!) adalah sosok yang unik. Ia menderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang membuatnya kesulitan untuk fokus dalam sebuah percakapan. Ketiga orang ini adalah tiga sahabat yang tidak terpisahkan. Namun kali ini Klub Film yang menjadi impian mereka akan menjadi ujian bagi persahabatan mereka.

Lena punya seorang mantan kekasih (tsahhh..) yang tingkahnya sangat menyebalkan. Ia pernah kalah di Festival Film Remaja dalam kategori Naskah Skenario Terbaik, dan sejak itu ia memperlakukan Lena sebagai musuh. Ugh..sumpah setiap membaca tokoh ini saya benar-benar dibuat kesal (sambil menaikkan) alis mata atas sikap arogannya dan mentalnya yang tidak bisa menerima kekalahan. Ia membuat sebuah taruhan besar yang intinya adalah untuk mempermalukan Lena, sebab ia yakin Lena pasti akan kalah.

Setelah menerima tantangan tersebut, Lena dibuat pusing. Bagaimana mungkin ia bisa memenangkan dua kategori sekaligus yakni Film Terbaik dan Skenario Terbaik? Apa iya, Klub Film bisa menang dalam lomba itu? Jangankan untuk menang, untuk menambah anggota saja mereka kesulitan. Dan jalan keluar secara kebetulan muncul di depan mata.
Pertemuannya dengan Rizki yang kemudian dia ketahui sebagai pembuat web series Stream of Stars yang terkenal. Selama ini sosok pembuat web series tersebut masing sangat misterius. Itu sebabnya ia menggunakan rahasia itu untuk memeras Rizki agar mau bergabung dengan Klub Film.
Sayangnya masuknya Rizki dan Ryan, sahabatnya, malah menimbulkan perpecahan. Buntutnya, seluruh siswa kelas X yang jadi anggota mereka keluar (bukan dengan sukarela sih, lebih karena diancam oleh Romi. Yeah.. I told you. He’s a villain).  Sejak itu dimulailah perjuangan Lena, Diana, Dion, Rizki, dan Ryan untuk membuat karya yang akan diikutkan dalam Festival Film Remaja.

Berhasilkah Klub Film memboyong piala? Apa ujian untuk persahabatan Lena, Diana dan Dion? Untuk tahu lebih lanjut, baca saja novelnya. Soalnya kalau saya cerita lebih detail, bisa-bisa saya dikeplak penulis dan penerbitnya (^_^)v

Oiya, tonton juga Trailer bukunya di sini:
 
***
Kehidupan masa SMA bagi banyak orang adalah salah satu fase kehidupan yang tidak akan terlupakan. Proses pencarian jati diri (bahkan penemuan jati diri) sering kali dialami saat mengecap bangku SMA. Masalah-masalah sering dirasa semakin rumit. Posisi serba nanggung membuat anak SMA kadang bingung mengambil sikap. Disebut masih anak-anak, mereka sering dianggap sudah mampu mengambil keputusan sendiri. Disebut sudah dewasa, tapi kok pendapat nggak didengerin sih!

Sosok Lena digambarkan mewakili perjuangan para remaja untuk meraih impiannya. Ia mengejar impian dengan pandangan optimis anak muda. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah mengalami banyak hal dalam hidup, sehingga terkesan lebih pesimis namun semata-mata karena mencoba lebih realistis. Hal ini saya tangkap dalam pembicaraan Lena dengan Apeng di halaman 250. Saya kutip ya:

“Malasnya ngobrol sama orang dewasa, tuh, kalian terlalu realistis. Tapi, yeah, aku juga belum dewasa. Jadi, nggak tahu gimana rasanya di posisi kalian. Kenapa nggak kejar impian dari sekarang? Kenapa harus tunggu kaya? Itu juga kalau kaya. Kalau nggak?”

Ha..ha.. saya setuju dengan kalimat ini. Tapi saya sendiri juga merasa bahwa memang sih semakin kita dewasa, semakin banyak kekecewaan dan semakin banyak hal yang membuat kita lama berfikir sebelum melangkah. Dan tanpa sadar, kenyataan jadi merongrong keberanian kita. Padahal mengejar impian itu perlu keberanian yang besar. Bravo buat Mbak Evi untuk scene ini.

Oiya, ada salah satu scene yang membuat saya tersenyum yakni kemunculan tokoh Eva dan Evi sebagai cameo naskah ini. Saya yakin kalau tokoh yang ini bukan tokoh fiktif, iya kan mbak Eva. Ha..ha.. (^_^)v
***
Nah, bicara tentang kelebihan dan kekurangan karya ini, nih. Dari segi sampul dan ide cerita sudah menarik. Tapi om penerbit, saya jadi susah nyampulin sampulnya pake plastik nih, kalau kreasinya begitu. Saya suka sih dengan modifikasi sampulnya, tapiiiiiii kan kalau nggak disampul nanti covernya rusak. Apalagi tangan saya lebih sering basah daripada kering (T_T).

Ide cerita tentang Klub Film ini memang menyenangkan. Bisa membuat teman-teman yang masih duduk di SMA semakin termotivasi mengejar impian mereka. Apalagi kalau membayangkan bahwa “hiruk-pikuk”nya akan seheboh yang ada di novel. Tapi, ada scene  yang saya rasa terlalu drama terutama dibagian mereka menarikan Tari Kemenangan di taman dan setelah itu berbaring bersama di atas rumput. Ugh..scene itu rasanya (bagi saya pribadi lho tidak begitu realistis.
Tapi secara keseluruhan, novel ini bagus untuk dibaca remaja. Berbeda dengan novel yang terlalu cengeng. Novel ini saya rasa lebih bisa mendorong remaja untuk berani berkreasi, berani mengejar mimpi, dan bisa bersikap sportif dalam berkompetisi. Moral-moral seperti ini yang selalu ingin saya baca dalam karya anak negeri dan dalam kemasan yang ringan.(^_^)
Jadi, kalau harus memberi nilai untuk novel ini dalam skala 1 -10, maka saya memberinya nilai 8. Yeah!! Terus berkarya mbak Evi, terus menyebarkan semangat optimis. Terus membuat karya yang membangun anak negeri . (^_^)9
Kutipan-kutipan Favorit:
"Bersyukurlah kalau kalian dapat kritikan, berarti karya kalian diapresiasi. Kalau sebuah karya sudah dilempar ke masyarakat, karya itu bukan milik kalian lagi. Sudah jadi milik publik. ... Satu hal yang mesti kalian renungkan baik-baik. sehebat apapun seorang movie maker, dia pasti pernah dikritik. Coba kalian pikir, film mana yang lolos kritikan? Sutradara sebesar apapu pernah mendapat kritikan. Karena itulah, mereka bisa menjadi besar"
 "Sahabat pasti akan selalu kembali sekalipun bertengkar hebat. Sahabat sejati selalu punya tempat di hati, kehilangan mereka akan menyisakan ruang kosong yang tak bisa ditambal lagi."
"...kemenangan lahir dari proses, dari perjuangan! kamu tahu, sebanyak apa pun kamu mencari pengakuan dari orang lain, kamu tidak akan pernah bisa memuaskan diri sendiri! Karena kepuasanmu bukan berasal dari hatimu sendiri!..."
"Hujan adalah musik alam paling merdu, paling sunyi. Ketajamannya melukai setiap inci memori."
"Setinggi apapun impianmu, kamu hanya butuh percaya. Seperti aku mempercayai impianku. Sertakan orang-orang yang kamu cintai dalam impianmu. Karena mereka adalah sumber kekuatan bagimu."  

http://www.smartfren.com/ina/home/ 

 www.noura.mizan.com

25 komentar:

  1. Buku dengan tema yang langka ya Mbak. Cucok untuk remaja bahkan orang dewasa. Tak banyak mengeskpos cinta-cintaan tapi kuat mengaskan tentang pentingnya bermimpi dan meraihnya selagi sempat. ga perlu nunggu kaya atau kondisi mapan. Tokoh-tokohnya asyik, konfliknya juga dapet walaupun agak ga sreg dengan pemenangnya yg semua dari Bandung :)

    Kutipan dua dari bawah memang jleb banget tuh!--Bravo buat penulisnya... Semoga menang ya Mbak. Salam kenal. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, temanya beda. Dan lebih riil menggambarkan tokoh dan konfliknya. Gak cengeng dan nggak meanstrem, seperti cowok idaman itu harus kaya, tampan, baik, dan serba sempurnya. Buktinya tokoh Rizki bisa bikin saya jatuh cinta dengan cara dia menjaga Lena (^_^)

      Hapus
  2. Makasih reviewnya kak..... asyik kali ya jadi Lena ada secret admire gitu, tapi yang paling bikin aku penasaran adalah tentang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) soalnya jarang-jarang ada novel yang mengangkat tema dengan Disorder ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya sendiri baru tahu tentang ADHD saat baca buku CineUs ini. Makanya senang karena penulisnya memberi banyak pesan positif melalui buku-bukunya (^_^)v

      Hapus
  3. Hai Kak Atria, numpang berkomentar di reviewnya. Sebenarnya aku udah penasaran banget sama buku ini, kalau dibaca dari kalimat Kakak yang memang bikin penasaran pasti semuanya bikin penasaran. Apalagi buku CineUS ini mengambil tema yang unik dan beda dari yang lain, terlebih settingnya cerita anak SMA, aku banget deh :D

    Aku lumayan suka sama reviewnya, lengkap tapi nggak nyebutin spoiler. Informasi yang ingin disampaikan ke pembaca juga mudah dipahami. Sayangnya, ada beberapa kalimat yang aku sendiri jadi bingung. Pertama, yang di awal (yang dimiringkan) itu sinopsis buku atau hanya pengantar dari Kak Atria aja? Pada beberapa kalimat yang aku temukan juga, ada kesalahan ketik, seperti “Dia dan dua sahabatnya, Diaon dan Dania, membentuk...” yang ada di kalimat kedua paragraf 5. Ada juga nih di kalimat “Sejak itu dimulailah perjuangan Lena, Diana, Dion, Rizki, dan Ryan untuk...”, tidak terlalu berpengaruh besar memang, hanya saja sedikit membingungkan, apakah tokohnya bernama Dania atau Diana? Heheh...

    Aku juga setuju kalau Kak Atria bilang novel ini nggak mainstream, mendorong remaja berani berkreasi, berani mengejar mimpi, dan bisa bersikap sportif dalam berkompetisi, itu pun yang aku pernah baca dari review orang lain sebelumnya. Overall, review ini bagus, ada sisi dimana seorang reviewer harus mengutarakan suka dan tidak sukanya, dengan alasan tentu saja 

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he..iya saya sering typo saat nge-review. Maaf (>_<)
      Oiya, yang awal-awal yg dimiringin itu "blurb" yang biasa ditulis di belakang buku.

      Hapus
    2. Siip, nggak papa Kak, typo itu anugerah manusia :D Eh font di review ini beda ya sama tulisan blog post lain? Heheh... Nggak masalah sih, tapi biar lebih eye-catching dan selaras aja :))

      Hapus
  4. Terima kasih sudah mengapresiasi novel CineUs. Semoga nanti berkenan mengapresiasi sekuelnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap. Ditunggu sekuel-nya, mbak (^_^)v

      Hapus
  5. Ide yang menarik! Bahkan sedikit sekali yang berani mengangkat tema seperti ini, keren! aku jadi penasaran bacanya. Dan soal typo, nggak masalah sih, nggak gitu ganggu. ^ ^
    Reviewnya juga udah oke banget, sedikit banyak memberikan gambaran terhadap buku cine us ini :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksudnya aku jadi penasaran pengen baca. Dan itu typo di reviewnya ya ^ ^
      saking semangatnya komen nih xD

      Hapus
    2. He..he.. hidup typo #eh

      Terima kasih sudah mampir di review ini (^_^)

      Hapus
  6. Jadi pengen baca deh.... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he.. ntar kalo udah baca kita seseruan ngobrol soal CineUs ya (^_^)

      Hapus
  7. Yup! Setuju banget sama Atria, nilainya 8! Lho, kok bisa ngasih nilai gitu aja tanpa baca novelnya?? Karena udah terhipnotis sama reviewnya sih. Hahaha..

    Ceritanya jadi ingetin jaman2 SMA, waktu berjuang bersama anggota lain mempertahankan ke-eksisan Mading yang terancam ditutup sama kepsek. Baca reviewnya aja udah ikut larut nih..

    "Hujan adalah musik alam paling merdu, paling sunyi. Ketajamannya melukai setiap inci memori."

    Suka banget juga sama kalimat yang itu.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. SMA zaman kapan?? Saya mah nggak dapat masa SMA yang seru gitu.. (T__T) *salah fokus..kemudian curcol..kemudian ditimpuk buku*

      Iya di buku ini banyak kalimat yang touching..

      Hapus
  8. Suka sama review nya. Saya jadi penasaran dengan perjuangan Lena untuk menggapai impiannya itu. Benar-benar berisi sebuah perjuangan seorang ramaja yang patut diacungi jempol.
    Saya paling suka dengan kutipan -> "Sahabat pasti akan selalu kembali sekalipun bertengkar hebat. Sahabat sejati selalu punya tempat di hati, kehilangan mereka akan menyisakan ruang kosong yang tak bisa ditambal lagi." Yup benar sekali. Dalam kehidupan kita sahabat menempati ruang terpenting dalam kehidupan kita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju (^_^)9

      Makanya saya suka dengan kalimat itu. (^_^)

      Hapus
  9. Nice post mbak. Kesal sama mantannya Lena. Dimana-mana kan pasangan itu seharusnya mendukung apa yang dilakukan oleh pasangannya. Ini malah mau mempermalukan -.- zzzz
    Sesuai sama kutipan yang ini, "Setinggi apapun impianmu, kamu hanya butuh percaya. Seperti aku mempercayai impianku. Sertakan orang-orang yang kamu cintai dalam impianmu. Karena mereka adalah sumber kekuatan bagimu."
    *ehh kok malah bicara mantannya Lena?* Soalnya aku greget baca kalimat review dibagian mantannya Lena. Masa iya kalah sedikit langsung jadi musuh :3 hihihihii

    BalasHapus
  10. Ha..ha.. setuju, saya juga cuma bisa geleng2 kepala lihat kelakuan mantan Lena.
    *ngegosip di pojokan sambil lirik cowok cakep di meja sebelah*

    Mudah2an nggak ketemu cowok seperti itu. Kalo ketemu langsung saya timpuk pake tissue. *eh*

    (^0^)

    BalasHapus
  11. Cara mereview-nya keren, detail banget. Tema yang bagus untuk dibaca pada dunia remaja bahkan orang dewasa pun. cerita perjuangan tentang impian atau mengejar sebuah mimpi memang menarik untuk di ulas karena bisa menginspirasi bagi para pembacanya, terutama untuk para remaja, yang masih dalam proses pencarian jati diri atau belum terbentuknya karakter mereka. Nice book sepertinya. Jadi penasaran hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bukunya lebih mendidik dengan latar kehidupan masa SMA *masa-masa paling indah kata sejumlah orang* (^0^)

      Hapus
  12. kutipan ini :

    Sahabat pasti akan selalu kembali sekalipun bertengkar hebat. Sahabat sejati selalu punya tempat di hati, kehilangan mereka akan menyisakan ruang kosong yang tak bisa ditambal lagi.

    Ouuuu benar benar mewakili apa yang lagi aku alami hehehe (nah looh, ko malah curhat) ,,

    Kutipan ini :

    Setinggi apapun impianmu, kamu hanya butuh percaya. Seperti aku mempercayai impianku. Sertakan orang-orang yang kamu cintai dalam impianmu. Karena mereka adalah sumber kekuatan bagimu.

    Iniiii juga mewakili apa yang sedang aku alami sekarang (nah loooh, lagi dan lagi curhat ckckck) ,,

    Seru nih pastinya! Kalo novel ini di angkat ke layar lebar! Isinya memotivasi banget baik dalam hal pencarian jati diri, persahabatan, perjuangan buat ngejar cita-cita dan percintaan ala remaja ,, masa SMA itu benar-benar wow! yupz, masa di mana aku suka m cowok (red: sebagai penyemangat) mpe ikut kegiatan salah satu ekskul di sekolah cuma u/ bisa melihatnya dari dekat apalagi melihat senyumannyaaaa hahahaha (kangen masa SMA)! ,, sangat ingin membaca buku iniiiiiiii!

    BalasHapus
  13. Ketiga-ketiga novel yang aku baca review-annya hari ini rata-rata nilainya 8 :D
    Dari pertama terbit, terus pas ada lomba review-nya aku semakin penasaran sama novel ini. Tema novelnya menarik, meraih impian. Entah kenapa, merasa cocok sama tema ini, soalnya aku lagi bingung sama impian yang aku mau kak :D *ditimpuk buku, ditangkap trus dibawa pulang:p*
    Aku suka sama cara review-an kakak yang selalu menyisakan quote diakhirnya, terus yang lengkap banget, pengen bacaaa (pengen beli, cuma selalu kedeluan sama keperluan sekolah #curcol:D)
    Nice post kak, cuma ada sedikit typo, tapi gak masalah, gak ngurangin rasa penaranku terhadap buku ini hihiiii

    BalasHapus
  14. Temanya menarik nih.., kisah di klub-klub sekolah. Sampulnya, kata Kak Tika juga keren. Nilai plus buat sebuah buku. Mengenai ceritanya sendiri sudah banyak yang mengangkat, tapi tekanan nilai "keberanian" yg disampaikan review Kak Tika jadi buat tertarik. Soalnya suka banget sama buku yg membawa nilai, bukan sekedar cerita bagus.
    Dari reviewnya sendiri, Kak Tika niat banget bikinnya (mungkin karena buat lomba kali ya.., hehehe peace..). Salut ma trailer buku sama kutipan-kutipan favorit yang dicantumin. Jadi makin berani buat baca buku ini. Makasih Kak Tika buat reviewnya.. :)

    BalasHapus