Sabtu, 09 November 2013

Wonder




Penulis: R.J Palacio
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Atria
Cetakan: I, September 2012
Jumlah hal.: 430 halaman
ISBN: 978-979-024-508-2

Don’t judge a book boy by its cover his face

“Kuharap, setiap hari adalah Hallowen. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu kita bisa berjalank-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita di balik topeng.”

August (Auggie) Pullman lahir dengan kelainan ­Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Meskipun dia sudah menjalani serangkaian operasi, penampilan luarnya tetap saja terlihat berbeda. Namun, bagi segelintir orang yang mengenalnya, dia adalah anak yang lucu, cerdas, dan pemberani.

Auggie mengalami petualangan yang lebih menakutkan daripada operasi-operasi yang dijalaninya ketika dia menjadi murid kelas lima di Beecher Prep. Kalian pasti tahu menjadi murid baru itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi Auggie adalah anak biasa dengan wajah yang tidak biasa.

***

Arghh.. tampaknya daftar buku favorit bertambah satu lagi yakni novel Wonder karangan R. J Palacio ini. Awalnya saya tertarik membaca Wonder karena melihat cuplikan yang dibuat oleh anggota Blogger Buku Indonesia lainnya. Selain itu cukup banyak yang merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Maka mantaplah tekad saya untuk membelinya. Bahkan buku ini adalah buku yang saya beli sebagai hadiah ulang tahun untuk diri sendiri *ada gitu orang yang memberi hadiah ulang tahun untuk dirinya? Ada. Saya orangnya*

Saat menulis resensi ini saya heran karena buku  Wonder yang saya beli September lalu adalah cetakan I yang keluar pada September 2012. Hm..rasanya aneh buku ini tidak digandrungi. Tapi lupakanlah. Bukankah begitu? Tren buku itu suka terlambat. Tidak jarang, buku-buku yang sudah lebih dulu mendapat pengakuan di dunia internasional baru mendapat sambutan luas di Indonesia beberapa tahun kemudian. Hm..sebut saja The Hobbit. Buku itu pun tidak terlalu terkenal di Indonesia.

Ok, di luar animo masyarakat Indonesia, saya malah melihat bahwa novel ini adalah salah satu bacaan yang sebaiknya dibaca oleh banyak orang. Wonder bercerita tentang Auggie yang mengalami kelainan ­Mandibulofacial Dysostosis (sejujurnya saya pun baru tahu tentang penyakit tersebut saat membaca novel ini). Kelainan ini adalah anomali gen (saya tidak hafal penjelasan medisnya, dan rasanya pasti akan membosankan jika saya menyebutkannya di sini). Penyakit ini membuat Auggie memiliki wajah yang benar-benar “berbeda” dari anak-anak normal lainnya. Matanya yang posisinya sangat rendah. Telinganya yang tampak mencuat, dan wajah yang tidak simetris. Kelainan ini membuat Auggie dan kelurganya; yakni Ayah, Ibu, dan kakaknya, Via; harus terbiasa menghadapi pandangan aneh orang kemanapun mereka pergi bersama.


Awalnya Auggie tidak bersekolah. Ia belajar dari pengajaran privat ibunya, Isabel, yang bahkan bukan seorang guru. Hingga akhirnya ibunya mengusulkan agar Auggie bersekolah di sekolah umum untuk kelas 5. Nah, di sinilah semua cerita mengalir. Auggie yang harus mulai terbiasa muncul di depan banyak orang. Ia pun harus menghadapi hubungan personal dengan teman-teman yang ada di kelas dan sekolahnya.

Auggie selalu menyadari bahwa dirinya berbeda. Wajahnya membuat banyak orang ngeri dan tidak sedikit yang merasa jijik saat harus berhadapan dengannya. Ini bukan hal yang mudah untuk dihadapi seorang anak berusia sepuluh tahun.

Hm..izinkan saya menyebutkan beberapa perlakuan orang padanya. Memang tidak ada yang secara langsung mencela Auggie, namun tidak ada yang mau duduk di sampingnya atau di depannya selain Summer, seorang gadis kecil yang sangat cantik dan baik hati. Tidak ada yang bermaksud memukulnya, namun semua orang tidak ingin bersentuhan dengannya seolah ia adalah sebuah wabah, orang yang memiliki penyakit menular.

Selain itu, buku ini akan menceritakan pandangan personal orang-orang yang bergaul dengan Auggie. Ada Via atau Olivia, kakak Auggie, yang sebenarnya jauh di dalam hatinya menyimpan beban atas posisinya sebagai kakak Auggie. Terkadang ia malu, namun sering kali ia mengabaikannya. Sayangnya Olivia yang baru saja masuk ke Sekolah Menengah Atas harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Banyak dilema yang dirasakan oleh Via. Dilema ini pula yang mungkin dirasakan oleh orang-orang yang memiliki saudara seperti August ataupun yang memiliki saudara yang menyandang disabilitas.

Selain itu ada juga cerita dari Summer dan Jack, teman-teman yang benar-benar menyukai August. Orang yang bisa melihat August di dalam permukaan kulit dan wajahnya yang “berbeda”. Ada juga sudut pandang Justin, pacar Olivia, yang membuat saya pribadi semakin menyadari tentang perlunya saya bersyukur atas semua yang saya miliki. Serta Miranda, sahabat Olivia, yang selalu mencintai August dan menyayanginya seperti adiknya sendiri.

Di akhir buku ini, kita disuguhi tentang indahnya merayakan keberasamaan dan kebaikan hati. Bagaimana dunia akan semakin indah jika semua orang mau bersikap baik pada orang lain. Bagaiman sosok seperti Auggie mengajarkan kita tentang keberanian, kebesaran hati, dan ketabahan. Saya menangis membaca akhir buku ini. Saya ikut merasakan kebahagian yang dirasakan Auggie saat dia menyadari bahwa semua orang kini melihatnya sebagai Auggie, bukan sebagai anak laki-laki berwajah aneh.

Hm..thanks to Penerbit Atria (yup, nama penerbitnya sama dengan nama depan saya..ha..ha..) yang menerbitkan buku ini. Buku ini sarat dengan nilai-nilai moral. Dan jujur saja saya lebih menyukai buku ini dari The Fault in Ous Stars karya John Green yang juga banyak dirokumendasikan oleh BBIers.

Hm..Nilai?? sampulnya yang simple menarik kok. Ceritanya juga kuat dan saya sukai, jadi wajar jika menurut skala 1 – 10 saya memberinya nilai 9 (^_^)

Quote:
“Di dunia ini akan selalu ada orang-orang brengsek, Auggie,” Mom berkata sambil menatapku. “Tapi aku benar-benar yakin, dan Daddy juga yakin, di dunia ini lebih banyak orang baik daripada orang jahat, dan orang-orang baik selalu melindungi dan saling menjaga...”

Banyak pemahaman yang menarik di dalam buku ini seperti pemahaman Justin bahwa meskipun alam memberi Auggie cobaan yang begitu berat, namun ternyata alam semesta tidak mengabaikan Auggie. Auggie diberi anugerah berupa orang-orang yang mencintainya dengan tulus, yang bahkan Justin sendiri ragu apa dia memiliki hal itu. (baca halaman 277)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar