Sabtu, 09 November 2013

Travel in Love




Penulis: Diego Christian
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, April 2013
Jumlah hal.: 324 halaman
ISBN: 978-602-7816-42-8

Di peron stasiun,
Aku berdiri dengan carrier 85 liter di sisi. Sebentar lagi rangkain Argo Parahyangan akan membawaku mengawali perjalanan 30 hari: Jawa, Bali, dan Lombok.

Di atas bukit bintang,
Aku ditemani seorang sahabat yang masih berduka atas kekasihnya. Seperti aku yang belum merelakan si Pecinta Gunung, laki-laki si pemilik senyum teduh.
Di atas kapal yang berayun,
Aku harus kuat menghadapi hadirnya si Orang Asing. Juga ketika banyak rahasia yang terungkap atau kata-kata yang dulu tak terucap.
Di pantai yang indah,
Aku duduk menatap laut, sejauh ini aku tak tahu cinta macam apa yang kutemui di perjalanan ini. Karena perjalanan ini terlalu panjang untuk dilalui sendiri.
Di perjalanan ini,
Aku ingin kamu menemaniku....
***

Buku ini perpaduan antara buku traveling dan fiksi. Saya paham bahwa buku ini sebenarnya adalah pengalaman perjalanan yang di fiksikan. Ini semakin terasa saat penulis menceritakan secara detail alur jalan yang dilalui tokoh utamanya, Paras.

Sejujurnya ini adalah novel traveling pertama yang saya baca. Buku ini saya beli beberapa bulan lalu, dan sudah selesai saya baca di awal bulan Oktober, namun entah kenapa saya benar-benar lupa untuk menulis resensinya. Saya baru menyadari saat melihat pembatas buku magnetic-nya di kulkas pagi ini. Akhirnya saya pun mengecek daftar novel yang diawali hurut T untuk mengecek resensinya. Ternyata memang belum saya buat. He..he..

Paras melakukan traveling ini bersama sahabatnya, Jatayu. Mereka punya tujuan yang sama yakni melepaskan masa lalu. Paras ingin melupakan Kanta dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Jatayu ingin merelakan kepergian Kelana, saudara kembar Kanta, yang meninggal karena terlalu banyak menghirup asap belerang saat memimpin pendakian ke Gunung Semeru.


Perjalanan Paras di mulai dari Jakarta menuju Bandung untuk menjemput Jatayu. Saat itu adalah pengalaman pertama Paras pergi sendirian ke luar kota. Biasanya Jatayulah yang menjemputnya di Jakarta. Di Bandung, Paras menikmati Bukit Bintang yang terletak di daerah Dago Pakar. Dari gambaran Paras, Dago Pakar pernah menjadi tempat yang indah untuk melihat kota Bandung dari ketinggian. Sayangnya saya pribadi tidak sempat menikmati tempat itu. Untuk pertama dan terakhir kali saya ke sana, tempat itu sudah terlalu ramai didatangi oleh orang-orang yang berpacaran. Tidak lagi nyaman ada di tempat itu apalagi hanya untuk sekedar menikmati pemandangan.

Namun, Bukit Bintang ini punya makna penting bagi tokoh dalam novel ini. Ini adalah Bukit Bintang pertama yang mereka datangi selama perjalanan. Kelak mereka akan bertemu dengan bukit-bukit lainnya. Selanjutnya perjalanan di lanjutkan ke Jepara. Namun tanpa Paras duga, ia berpapasan dengan Kanta di Pelabuhan Kartini. Saat itu ia dan Jatayu sedang menunggu kapal yang akan mengantar ia dan Jatayu menuju Karimun Jawa, sedangkan Kanta baru saja menepi di pelabuhan.

Ini cukup membuat Paras sedih. Ternyata masih berat baginya untuk menghapus cintanya pada Kanta. Di Karimun Jawa, Paras berusaha memperbaik moodnya dengan menikmati hal-hal yang ia dapati. Di sana juga Paras berkenalan dengan Sean, seorang pria keturunan Indonesia-Swiss. Di Karimun Jawa, Jatayu dan Paras kembali menemukan sabuah bukit yang mereka Sebut Bukit Bintang.

Setelah itu perjalanan berlanjut ke Semarang dan dilanjutkan ke Yogyakarta. Di kota ini mood Jatayu memburuk. Jatayu pergi sendirian. Ini membuat Paras sakit hati. Tanpa sengaja ia bertemu dengan Sean. Dan lagi-lagi tanpa ia duga, ia bertemu kembali dengan Kanta. Saat itu Kanta marah saat tahu bahwa Paras tidak tahu keberadaan Jatayu dan bahkan tidak mencoba mencarinya. Saat itu Paras menjadi sangat marah. Namun kemarahannya mereda setelah melihat Jatayu yang diantar pulang oleh Kanta. Jatayu pingsan dan ditemukan orang di Pantai Sepanjang.

Saat itulah hubungan Jatayu dan Paras membaik. Dan sejak itu pula kelompok mereka membesar dengan tambahan Kanta dan Sean. Mereka berempat melanjutkan perjalanan ke Solo, Banyuwangi, Bali, dan Lombok. Di tengah perjalanan inilah masalah diantara mereka semakin pelik. Terutama antara Paras, Kanta dan Sean.

Namun akhirnya sebuah masalah muncul. Saat Paras mulai memberi tempat bagi hatinya untuk Sean, dia melihat kejadian yang tidak terduga. Penghianatan. Sakit hati. Seketika membaur. Seketika akhir cerita menjadi buram. Sudahkah Paras melupakan perasaannya pada Kanta? Adakah Kanta benar mencintai Paras? Apakah Sean benar-benar mempermainkannya?

Hm..untuk ukuran novel backpacker buku ini menyuguhkan destinasinya yang mainstream, namun untuk bukit bintang-bukit bintang yang diceritakan mungkin layak disusuri. Konfliknya sendiri masih terus berputar-putar hingga akhir cerita. Sayangnya emosi dalam buku ini masih kurang mampu saya tangkap. Dan ya, nilai persahabatan dalam buku ini juga bagus, namun tetap saja saya bingung menghadapi hubungan Paras-Jatayu.

Hm..di dukung cover yang menarik, saya rasa buku ini layak dibaca oleh anak muda. Meskipun dimensi “pesan moral”nya tidak banyak, namun cerita tentang perjalanannya mungkin bisa menginspirasi. Jadi, jika harus memberi buku ini nilai dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 7,5 (^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar