Sabtu, 23 November 2013

Till We Meet Again




Penulis: Yoanna Dianika
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Kelima, 2012
Jumlah hal.: iv + 291 halaman
ISBN: 978-979-780-500-5

Saat pertama kali aku melihat dia hari itu aku sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumnya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu.

Dan suatu hari, kami bertemu lagi. Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin,”Ah, ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti  memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.
***

Hm..membaca blurb buku ini sekali lagi setelah membaca novel ini, saya malah memiringkan kepala, bingung. Karena sejujurnya bagi saya blurb ini menarik namun tidak mencerminkan cerita sama sekali. Kisah yang saya baca di dalam buku ini tidak pernah seterbuka itu mengungkapkan pikiran-pikirannya, bahkan dalam narasi sekalipun.

Novel ini berpusat pada kehidupan seorang gadis muda yang sangat mencintai biola dan seni teater. Ia bernama Elena. Ia tinggal berdua dengan ayahnya di kota Bandung. Ibunya yang merupakan orang Austria, Esther, telah meninggal saat ia kecil. Sebelum ibunya meninggal, Elena dan orang tuanya tinggal di Austria. Namun setelah ibunya meninggal, sang Ayah, Sebastian, memutuskan untuk kembali ke tanah airnya agar tidak selalu bersedih karena mengingat kepergian wanita yang dicintainya itu.


Di usia 9 tahun Elena kembali ke Bandung. Namun tepat sehari sebelum keberangkatannya, ia kehilangan kalung berleontin biola pemberian terakhir ibunya. Saat sibuk mencarinya, Elena bertemu dengan seorang anak laki-laki yang baik hati. Meskipun ia tidak berhasil menemukan kembali kalung pemberian ibunya, Elena berhasil menemukan cinta pertamanya. Ya, Elena tidak pernah bisa melupakan pertemuannya dengan anak laki-laki tersebut.

Hingga akhirnya suatu ayahnya menyampaikan berita bahwa Elena dapat melanjutkan pendidikannya di Austria. Saat di Austria inilah Elena bertemu dengan Christopher atau akrab di sapa Chris dan Häns Steffano yang akrab di sapa Häns. Selain itu ia pun mendapat teman se-apartemen yang baik hati yakni Dupont, perempuan Prancis, dan Kimiko, perempuan Jepang. Keduanya sangat baik dan perhatian pada Elena.

Elena sejak pertama kali melihat Häns sudah sangat terpesona oleh sosoknya karena mengingatkannya pada anak laki-laki yang ia temui saat mencari kalung ibunya yang hilang. Seketika itu juga Elena menjadi ingin tahu lebih banyak tentang laki-laki itu. Entah mengapa ia sangat yakin bahwa Häns adalah anak laki-laki tersebut. Di sisi lain Elena sangat nyaman dengan keakrabannya dengan Chris. Pria itu ceria dan selalu bisa membuat Elena bahagia. Apalagi Elena dan Chris ternyata sekelas.

Sosok Häns sangat bertolak belakang dengan Chris. Häns cenderung pendiam dan tertutup. Namun Häns juga sangat perhatian dan dapat bersikap sangat manis pada perempuan. Ini tentu saja membuat Elena tidak mampu melepaskan diri dari jerat pesona Häns. Hingga akhirnya Elena pun jadian dengan Häns. Sayangnya Elena kemudian mengetahui bahwa Häns berselingkuh dengan perempuan yang selalu bersikap kasar padanya, Jessica.

Bagaimana kisah Elena selanjutnya? Apakah ia berhasil menemukan “anak laki-laki cinta pertamanya”? Apakah Häns memang mengkhianatinya? Ke arah mana hubungan Chris dan Elena berkembang?
Hm..novel ini mengambil tema yang sangat umum yakni cinta. Saya rasa tema ini memang sudah sangat banyak. Untuk itu perlu kekuatan cerita dan karakter untuk membuatnya diingat oleh pembaca. Tentu saja ini menjadi tantangan tersendiri dari penulis.

Selain itu, kabarnya penulis novel ini belum pernah sekalipun ke Austria. Settingan tempat ini berhasil ia “bentuk” sesuai dengan kondisi di Austria berdasarkan riset yang dia lakukan. Wuih, kereeen..dan serius*
Hm, jika harus memberi nilai untuk buku ini, maka saya memberinya nilai 7,5. Konfliknya sudah cukup meanstream. Namun cover yang menarik juga menjadi nilai tambahnya (^_^)v.

Percakapan atau Qoute yang menarik:
“Cinta memang membingungkan. Dua laki-laki mencintai satu wanita = musibah. Satu laki-laki mencintai dua wanita = luar biasa. Satu laki-laki mencintai satu wanita = jodoh.”

***
“Apakah selama ini kalian tidak sadar bahwa kadang cinta itu absurd?”
“Absurd?” Suara Elena dan Kimiko nyaris bersamaan.
“Ya. Cinta adalah satu-satunya hal paling absurd di dunia ini.” Dupont memperbaiki letak duduknya sambil menyangga pipinya dengan kedua tangannya. “Cinta...seperti hantu. Muncul tiba-tiba..lenyap juga tiba-tiba...”
“Perumpamaan apa lagi itu? Sejauh aku menempuh ilmu, aku belum pernah mendengar perumpamaan semacam itu.” Kimiko protes lagi. Walaupun gadis Jepang satu itu suka asal, dia tidak mudah menerima teori yang tak memiliki dasar ilmiah seperti kalimat-kalimat Dupont. Kimiko seorang skeptis sejati.
Dupont tidak memedulikan protes Kimiko, dia terus berargumen sendiri, “Cinta tumbuh karena berawal dari rasa tertarik. Ada kalanya cinta tumbuh karena rasa penasaran. Yang lebih parah, ada rasa cinta yang tumbuh karena rasa benci. Namun, ada kalanya cinta tumbuh karena rasa malu..”
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar