Sabtu, 23 November 2013

The Man Who Loved Books Too Much




Karya: Allison Hoover Bartlett
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penerbit: Pustaka Alvabet
Cetakan: 1, April 2010
Jumlah hal.: 300 halaman
ISBN: 978-979-3064-81-9

Apa yang sanggup kaulakukan demi cintamu pada buku?

Bagi John Charles Gilkey, jawabannya: masuk penjara.

Gilkey, si pencuri buku yang tak pernah bertobat, telah mencuri buku-buku langka dari seluruh penjuru negeri. Namun, tak seperti kebanyakan pencuri yang mencuri demi keuntungan, Gilkey mencuri demi cinta: cinta pada buku. Barangkali, sama obsesifnya dengan Gilkey adalah Ken Sanders, seseorang yang menyebut dirinya “bibliodick” (penjual buku yang merangkap sebagai detektif) dan sangat ingin menangkap si pencuri. Sanders—seumur hidup menjadi kolektor dan penjual buku langka berubah menjadi detektif amatir—tak akan berhenti memburu si pencuri yang mengacaukan perdagangannya.

Mengikuti kedua karakter eksentrik ini, jurnalis Allison Hoover Bartlett terjun ke dalam gairah dunia buku yang fanatis, hingga akhirnya mendapati dirinya terjebak di antara orang-orang yang tertarik menemukan harta kekayaan yang dicuri Gilkey dan seorang lelaki yang ingin tetap menyembunyikan harta kekayaan itu: sang pencuri itu sendiri. Dengan perpaduan ketegangan, wawasan, dan humor, Bartlett merangkai permainan kejar-kejaran ala kucing dan tikus menjadi narasi yang sangat memukau dan memacu adrenalin: tidak saja menunjukkan bagaimana Gilkey melakukan kejahatannya dan bagaimana Sanders akhirnya menangkapnya, tapi juga mengeksplorasi romansa buku, keinginan untuk mengoleksinya, dan godaan untuk mencurinya. Semua kolektor punya cerita tentang bagaimana mereka bisa jatuh cinta pada buku, begitu juga dengan Gilkey dan Sanders. Dan, Bartlett meletakkan cerita mereka ke dalam konteks yang lebih besar dari gairah terhadap buku, pengoleksian, dan pencurian selama berabad-abad.

Mengantarkan pembaca ke dalam dunia obsesi kesusastraan yang luas dan kaya, The Man Who Loved Books Too Much menunjukkan peran besar buku dalam kehidupan kita, penghormatan yang menjadikan buku-buku itu tetap dipertahankan, dan keinginan yang membuat sebagian orang mempertaruhkan apa saja demi memiliki buku yang mereka sukai.
***

Buku ini saya temukan di Book Fair Bandung bulan Oktober lalu dengan harga 15ribu rupiah. Tertarik dengan judulnya, dan blurb buku ini akhirnya saya pun membelinya. Sayangnya baru pada awal November ini saya bisa membaca dan menamatkannya. *sedangkan buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa yang sudah lebih dulu saya baca belum kunjung tamat..maaf (-__-“)*

Diceritakan tentang penulis, Allison Hoover Bartlett yang meminjam sebuah buku tua yang diterbitkan pada 1630 dari seorang teman yang dititipi oleh saudaranya yang baru saja meninggal untuk mengembalikannya ke perpustakaan asalnya. Namun ternyata buku tersebut sudah tidak terdaftar di perpustakaan tersebut lagi. Ini membuat penulis menganggapnya sebagai buku curian.


Hal ini yang membuatnya tertarik pada pencurian buku serta dunia buku langka. Awalnya ia tidak paham dengan “kegilaan” sejumlah orang terhadap buku-buku tua dan bersedia membeli dengan harga yang sangat mahal hingga ribuan dollar hanya untuk mendapatkan cetakan pertama dari sebuah buku lama.  Ketertarikannya ini membuat ia melakukan peneliatian secara menyeluruh tentang kegemaran para kolektor untuk memiliki buku langka dan juga mengenai pencurian buku.

Penelitian ini membawanya pada dua tokoh yang memiliki kecintaan pada buku namun memiliki prinsip dan sikap yang sangat bertolak belakang. Gilkey, adalah seorang pencuri buku yang mengaku bahwa ia mencuri buku karena kecintaannya pada buku. Di lain pihak ada Ken Sanders, seorang detektif buku yang merupakan seorang kolektar dan penjual buku-buku langka.

Namun ternyata semakin dalam ia memnyelidik dunia perbukuan langka dan mempelajari psikologi Gilkey ada keanehan dari bentuk kecintaan pria ini pada buku. Ia tampaknya terobsesi untuk memiliki buku-buku langka nan mahal itu demi sebuah posisi prestisius. Ia meyakini bahwa dirinya akan dianggap sebagai golongan intelek dan kaya dengan memiliki buku-buku tersebut. Kecintaan Gilkey pada buku-buku langka dipicu oleh kehidupan masa kecilnya dan lingkungan tempat ia tumbuh.

Dengan membaca buku ini rasanya menarik memahami  pikiran-pikiran para kolektor buku langka. Kecintaan mereka pada buku tua. Sebab sejujurnya saya tidak pernah paham tentang kecintaan seseorang pada buku yang membuatnya rela mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah demi memiliki sebuah buku tua atau buku langka. Saya pribadi lebih suka membeli edisi modern jika memang edisi modernnya tersedia.

Buku ini lambat laun  memberi saya pemahaman tersendiri tentang hal ini. Menarik menemukan bahwa sejarah sebuah buku bisa tercipta dan bahkan menghilang dalam perdagangan dan pencurian buku. selain itu cukup miris juga mengetahui bahwa pencurian buku dianggap sebagai bentuk “kriminalitas kecil-kecilan”. Kepeduliaan kepolisian untuk menindak kasus pencurian buku tergolong rendah. Ini tentu membuat saya patah hati. Ditambah lagi dengan informasi tambahan yang banyak saya temukan dalam  buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa, maka saya semakin sebal dengan para pencuri buku yang membuat sejarah sejumlah buku menjadi sulit dilacak karena sulit menemukan pemilik pertama buku tersebut.

Hm jika harus memberi buku ini nilai dalam skala 1 - 10, maka saya memberinya nilai 8. Tadinya ingin memberi nilai yang lebih tinggi, sayangnya covernya agak kurang menarik. Namun bagi saya buku ini sangat informatif (^_^)v

Quote:
“Aku menghabiskan semua uangku untuk membeli buku-buku pada hari itu. Sampai sekarang aku masih melakukannya.  Aku semakin tua, semakin botak, semakin gendut, tetapi rupanya tidak semakin bijaksana” - ya ampun, saya paham tentang hal ini. Tentang betapa sulitnya menahan diri dari godaan untuk membeli buku (-_-“)

Quote-Quote lain ada yang saya posting di www.atriasartika89.tumblr.com

5 komentar:

  1. Huwaaaa sepertinya menarik buku ini >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, cukup menarik karena dapat cukup banyak informasi tentang dunia buku langka. Juga keanehan psikologi Gilkey yang cinta buku bukan pada isinya tapi "status sosial" atas kepemilikan buku-buku tersebut (>_<)

      Tapi sekarang saya malah jadi penasaran dengan The Book Thief karya Markus Zusak. Udah baca belum, kak??

      Hapus
  2. aku beli lah bukunya 15 bribu..heheheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. ogah.. bukunya ada kok ternyata di Rumah Buku :D
      SOk atuh beli di sana aja, mas
      (^_^)

      Hapus
  3. “Aku menghabiskan semua uangku untuk membeli buku-buku pada hari itu. Sampai sekarang aku masih melakukannya. Aku semakin tua, semakin botak, semakin gendut, tetapi rupanya tidak semakin bijaksana”
    fik ngena banget kata-katanya haha...Aku baru nemu cerita yang ngambil tema kayak gini, biasanya kalau menyangkut pautkan buku, paling cuma digambarin kutu buku nggak sampe ke buku-bukunya dan cara ngeapetinnya.

    BalasHapus