Jumat, 08 November 2013

Sketsa Terakhir




Penulis: Kei Larasati & Vanny PN
Penerbit: PlotPoint Publishing
Cetakan: Pertama, Juni 2013
Jumlah hal.: viii + 221 halaman
ISBN: 978-602-9481-37-2

Saat waktu akhir mendekat, hidup terlihat seperti jalinan garis-garis yag kutorehkan di buku sketsa milikku. Serapuh helai kerta yang bisa kuremukkan saat garis-garis yang gagal tak bisa dihapus lagi. Aku sadar, keinginan hati tak bisa dibohongi. –Tio

Ketika ada cinta yang tulus memilihku, aku tetap tidak kuasa untuk tidak mengejar cinta yang kupilih. –Rena

Aku pikir hidupku akan sempurna bersama Tia. Kenapa Tuhan menciptakan akhir? Menciptakan sakit yang tak bisa diobati. –Dru

Aku menunggumu. Selalu. – Martin

Ini adalah kisah tentang ketulusan. Dalam persahabatan dan dalam cinta. Saat waktu tak berpihak padamu, sejauh mana ketulusan akan membawamu.
***

Sebuah cerita tentang persahabata, cinta, dan pilihan. Siapa yang menduga bahwas sebuah penyakit akan membawa hubungan di antara keempat tokoh ini menjadi rumit. Memaksa mereka membuat pilihan dan menghadapi kenyataan.

Tio Anata seorang design  director di Ruang Desain, usaha yang dia bangun bersama sahabatnya, Martin. Hidup Tio seketika berubah saat vonis dari dokter ia terima. Ia menderita Leukimia Mielositik Akut. Dokter berkata bahwa waktunya hanya tinggal 2-5 tahun lagi. Sejujurnya, ia sudah menduga hal itu. Mengingat ibunya pun meninggal karena kanker. Awalnya Tio menghadapinya dengan menutup diri. Ia memutuskan pertunangannya dengan Dru.

Dru, perempuan yang dengan setia mencintai Tio. Bertahun-tahun Dru bersabar di sisi Tio dan berusaha selalu ada untuk laki-laki itu. Laki-laki yang ia cintai sepenuh hati. Laki-laki yang membuatnya tidak bisa memandang pria lain yang lebih tampan sekalipun.  Namun, saat Tio memberitahunya mengenai penyakit Leukimia yang ia terima, Dru kembali bertanya-tanya. Sikap Tio yang memintanya memilih untuk mengakhiri pertunangan apakah didasari oleh keengganannya menjadi beban dalam hidup Dru, ataukah karena Tio belum mampu melupakan perempuan itu? Perempuan bernama Rena yang memberi Tio sebuah buku sketsa yang hingga kini masih dipakai oleh Tio. Tidak peduli meskipun Dru telah memberi Tio buku sketsa yang baru, tetap saja pria itu memilih menggunakan buku pemberian Rena yang sudah usang.

Di lain pihak, Martin terus menyimpan perasaan khusus kepada Dru. Ia terus menyembunyikan keinginannya untuk bisa menjadi pria beruntung yang dicintai Dru. Hingga ia mengetahui penyakit Tio dan mulai menyadari apa yang selama ini dirasakan Dru saat bersama Tio. Ia jadi tahu bahwa hubungan antara Dru dan Tio dihantui bayangan Rena. Namun tegakah Martin berharap Tio segera pergi dari dunia ini agar ia bisa memiliki Dru? Akankah Martin mengambil kesempatan untuk memiliki Dru di saat pertunangan Dru dan Tio kandas?

Rena yang datang dari London setelah meninggal Indonesia cukup lama akhirnya pulang. Pulang untuk mengadakan pameran tunggal. Namun kepulangannya ke Indonesia bukanlah hal yang ia inginkan. Masih ada mimpi yang terus ia kejar di London. Dan masih ada cinta yang harus dia kejar dan pertahankan di sana. Ia pun menyadari bahwa kedatangannya ke Indonesia seolah menjadi masalah yang semakin memisahkan Dru dan Tio.

Bagaimana hubungan Dru dan Tio? Akankah Tio menyadari betapa cinta yang diberi Dru cukup untuk mereka berdua? Bisakah Tio melihat semua pengorbanan Dru? Apakah Tio akhirnya mampu mencintai Dru? Atau ia berhasil meraih hati Rena?

Bagaiaman dengan sisa waktu yang dimiliki Tio? Berhasilkah ia melawan penyakitnya? Mampukah Martin menjadi sandaran bagi Dru? Siapkah Dru melepaskan Tio yang sudah bertahun-tahun ia cintai? Semua pertanyaan ini akan terjawab dengan membaca bukunya.

Konflik yang disajikan dalam novel ini cukup standar sih. Sudah banyak yang menggunakan cerita cinta segi empat ini. Dan sejujurnya ending cerita bisa ditebak. Yang berbeda adalah kompleksitas yang disajikan dengan membuat tokoh utama pria menderita sakit kanker. Dan satu hal lagi yang menjadi kekuatan buku ini yakni prolognya. Karena prolog novelnyalah saya terus berusaha mengejar akhir buku ini. Bertanya-tanya siapakah sang nenek?? Dan siapa pria yang ia kenang dengan memandang langit.

Hm..jika harus memberi nilai untuk novel ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8 karena didukung oleh sampul dan blurb yang menarik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar