Jumat, 08 November 2013

Rumah Cokelat




Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Buah Hati
Cetakan: I, Desember 2011
Jumlah hal.: 226 halaman
ISBN: 978-602-8663-74-8

Jadi ibu muda bekerja di Jakarta tidak mudah!

Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa kini di kota besar; bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari adalah passion-nya!), memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.

Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuhnya yang sehari-hari selalu bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya dimulai sejak momen itu.
***
Ini adalah buku pertama Sitta Karina yang saya resensi. Dengan genre MomLit, buku mengangkat cerita seorang ibu yang bekerja. Kisah ini jelas menjadi terasa real karena kondisi ini sudah banyak terjadi di masyarakat. Banyak perempuan yang memilih menjadi wanita karir karena sejumlah alasan. 

Hannah, seorang perempuan yang tengah menikmati kehidupannya sebagai wanita karir dengan seorang suami yang baik hati dan anak yang aktif. Cerita dimulai dengan menggambarkan rutinitas sehari-hari dan mungkin akan kita anggap wajar dan sering kita lihat dilakukan oleh ibu-ibu muda lainnya, yakni menemani si buah hati sambil membaca tabloid fashion atau gaya hidup. Awalnya ini adalah gambaran yang biasa saja. Hal yang wajar bagi Hannah.

Ia merasa semuanya baik-baik saja sampai ia mendengar anaknya bergumam mengatakan sayang pada pengasuhnya, Upik. Hal ini menjadi pukulan berat bagi Hannah. Hannah mulai merasa bahwa posisinya sebagai ibu di mata Razsya tersaingi oleh Upik. Ia menjadi lebih sensitif bahkan otaknya terus bekerja membandingkan antara dirinya dengan Upik.

Selain itu, ia semakin dibuat stress atas sikap ibunya yang ternyata terlalu memanjakan Razsya, padahal Hannah dan suaminya, Wigra, telah sepakat bahwa mereka akan mendidik Razsya dengan lebih disiplin. Seperti bahwa kalau makan harus di meja makan, bukan di depan tv. Belum lagi ibunya yang menggunakan “bahasa dewasa” kepada Razsya tanpa filter. Hal ini membuat hubungan Hannah dan ibunya sering kali diwarnai ketegangan.


Akhirnya, Hannah pun sampai pada keputusan akhir untuk keluar dari pekerjaannya dan fokus mengurus Razsya. Ia akan bekerja sebagai ilustrator freelancer untuk mendapatkan tambahan uang. Maka sejak itu hari-hari Hannah sebagai ibu rumah tangga purnawaktu dimulai. Awalnya ia kesulitan menjalaninya sebab hal ini berbeda dengan rutinitas sebagai perempuan kantoran yang sebelumnya ia jalani. Masalah lain pun muncul dengan mendinginnya hubungan Hannah dan Wigra serta munculnya Banyu yang memiliki ketertarikan pada Hannah.

Sanggupkah Hannah menghadapi semua itu? Bagaimana Hannah merawat dan mendidik Razsya selama menjadi ibu rumah tangga? Mampukan Hannah dan Wigra menjaga keutuhan rumah tangga mereka?

Buku ini merupakan buku bergenre MomLit pertama yang saya baca. Ceritanya sangat mencerminkan kondisi masa kini. Banyak pelajaran yang bisa didapatkan oleh perempuan Indonesia agar lebih bijak memandang dan menuntukan pilihan untuk menjadi wanita karir, ibu rumah tangga, atau freelancer. Ini karena ada sedikit sisipan cerita tentang Mbak Ria, tetangga Hannah, yang selalu mencela pilhan Hannah yang tetap bekerja setelah menikah dan punya anak. Namun ternyata Mbak Ria dihadapkan pada musibah yakni sang suami meninggal sedangkan Mbak Ria tidak memiliki pekerjaan selain menjadi ibu rumah tangga. Sisipan cerita ini menjadi lebih adil dalam melihat pilhan-pilihan itu.

Hm..namun satu yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa novel ini diberi judul Rumah Cokelat ya? Hm..entahlah, saya belum mendapat ide tentang hal ini. Oiya, jika saya harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8 karena sarat akan nilai-nilai kehidupan. (^_^)v

2 komentar:

  1. suka buku ini karena ditulis oleh penulis favorit aku, salam kenal ya atria :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini malah novel pertama Sitta Karina yang saya resensi..he..he..

      Salam kenal mbak peri (^_^)

      Hapus