Minggu, 01 Desember 2013

Rebecca of Sunnybrook Farm




Penulis: Kate Douglas Wiggin
Penerjemah: Hani Iskadarwati
Penyunting: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Orange Books
Cetakan: Pertama, Februari 2011
Jumlah hal.: 310 halaman
ISBN: 978602843685-4
Diterjemahkan dari “Rebecca of Sunnybrook Farm” copyright @1903 by Houngton, Miffin, & Company

Keadaan memaksa Rebecca meninggalkan Sunnybrook Farm, tempatnya dibesarkan bersama keenam putra-putri keluarga Randall yang lain. ia mengerahkan keberanian untuk tinggal dengan keluarga Sawyer, bukan saja karena yang sebenarnya diminta pergi ke Rivervboro adalah Hannah, sang kakak, tapi juga ketidaksukaan keluarga Sawyer kepada almarhum ayahnya.

Rebecca harus beradaptasi dengan cara didik kedua bibinya yang keras, sekaligus harus membuat seluruh keluarga bangga akan prestasi dan perilakunya sehari-hari. Bagaimana Rebecca mengatasi rindu rumah? Apakah ia dapat bertahan di Riverboro dan menerapkan cara didik kedua bibinya? Dan siapakah Mr. Aladin yang telah “mencuri” hati Rebecca?

Kisah perjuangan seorang gadis cilik dalam terpaan persoalan hidup yang mengundang kontemplasi, rasa haru, dan tawa riang. Mengingatkan kita pada kisah Anne of Green Gables, A Little Princess, atau Pollyanna, meski sebenarnya Rebecca of Sunnybrook Farm terbit lebih dulu dari ketiga novel tersebut.
***


Ok, izinkan saya terlebih dulu menceritakan ringkasan cerita Rebecca of Sunnybrook Farm sebelum mengeluarkan sejumlah keluh tentang buku ini. *eh jangan berhenti baca ya. Iya memang ratingnya nggak bagus. Tapi mungkin ada baiknya membaca alasannya dulu (>_<)*

Novel ini adalah salah satu karya klasik yang diperuntukkan bagi anak-anak. Rebecca adalah seorang gadis kecil berusia sepuluh atau sebelas tahun yang dikirim ke rumah bibinya di Riverboro untuk mendapatkan pendidikan yang diharapkan akan bisa memperbaiki masa depan keluarganya. Ibunya, Mrs. Randall, adalah seorang janda yang memiliki 7 orang anak. Ia menerima kebaikan hati saudari-saudarinya yang bersedia memberi pendidikan untuk satu orang anaknya. Tadinya kakak beradik Sawyer (yang tidak menikah), menginginkan anak tertuanya, Hannah, untuk diajak tinggal di kediaman keluarga Sawyer; namun Mrs. Randall membutuhkan Hannah, itu sebabnya ia menyuruh Rebecca sebagai ganti Hannah.

Kakak-beradik Sawyer sebenarnya tidak sepenuhnya setuju menerima Rebecca sebagai ganti Hannah, namun akhirnya demi memenuhi tanggung jawab membantu saudari mereka, keduanya akhirnya setuju menerima Rebecca. Kedua bibi Rebecca dari pihak ibunya itu adalah dua perempuan yang kaku. Ms. Miranda Sawyer adalah yang paling tua dan paling kaku. Ia selau judes dan selalu melihat perilaku Miranda sebagai sebuah kenakalan. Ms. Jane Sawyer adalah perempuan yang pernah merasakan patah hati dan terus menerus menahan diri demi kebahagiaan kakaknya. Kelak kehadiran Rebecca akan membuat perempuan ini bersemangat menjalani hari-harinya.

Rebecca tiba dengan ketakutan sekaligus dengan hati yang tabah. Sejak saat pertama datang ke rumah bata, sebutannya untuk rumah keluarga Sawyer, ia telah disambut dengan sikap menjaga jarak dan serentetan perintah dari bibi Miranda-nya. Setelah itu hari-hari yang dilalui Rebecca tidak pernah mudah sebab hampir semua hal yang ia lakukan selalu saja tidak cukup baik bagi Bibi Miranda. Syukurlah ada Bibi Jane yang selalu bersikap lembut dan sebisa mungkin membela Rebecca meskipun lebih sering dipaksa bungkam oleh Bibi Miranda.

Puncaknya, suatu hari Rebecca melarikan diri setelah menanggung sakit hati atas penghinaan yang dilakukan oleh Bibi Miranda pada ayahnya. Namun kebijaksanaan Mr. Jeremiah Cobb, pengemudi kereta yang ditumpangi Rebecca saat pertama kali datang ke Riverboro dan kelak menjadi sahabat baik Rebecca, menyelamatkan Rebecca dari sebuah masalah yan bisa timbul karena tindakannya tersebut. Di lain waktu, Rebecca bertemu dengan Mr. Aladin yang kemudian terus hadir di hidupnya hingga Rebecca dewasa. 

Novel ini dipenuhi oleh sejumlah kutipan puisi yang indah dan cerita-cerita dongeng “karangan” Rebecca. Ceritanya juga menarik meski rasa penasaran saya atas hubungan Rebecca dan Mr. Aladin akhirnya tidak terjawab dengan tuntas. Namun di luar itu semua saya harus mengakui bahwa lagi-lagi ide cerita klasik anak-anak ini tidak jauh dari cerita anak perempuan yang tinggal dengan paman dan atau bibinya.
***

Kali ini izinkan saya menumpahkan sedikit rasa kecewa saya atas buku ini. Pertama yakni masalah covernya. Cover ini termasuk salah satu cover yang “paling nggak banget” menurut saya. Ini karena wajah anak-anak dalam cover ini sangat terlihat sebagai wajah hasil editan (>_<). Selain itu sangat tidak sesuai dengan gambaran Rebecca. Karena Rebecca digambarkan berlambut gelap sedangkan anak perempuan di cover buku ini memiliki rambut pirang terang. Jelas ini tidak memberi gambaran yang sesuai dengan isi novel.
Nah, protes yang kedua adalah editan buku ini. Buku ini di sejumlah kalimat menjadi agak membingungkan dan jujur ada beberapa kali typo terakit “aku” dan “kamu”. *sayangnya karena tidak diberi penanda saya pun lupa bagian mana*. Terjemahan ini saya yakin akan membuat saya dan mungkin saja anak-anak (yang merupakan sasaran utama buku ini) menjadi kebingungan. Salah satu contoh ada di halaman 270 ada kalimat “...seru Rebecca, duduk seketika lantai di samping tempat tidur...” dan beberapa tidak menempatkan spasi di antara dua kata.

Jadi jika harus menilai buku ini secara keseluruhan dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 5. Saya gagal menikmati terjemahan buku ini dan saya selalu saja kesal melihat covernya (T_T). Mungkin nanti saya akan membaca edisi import buku ini. Atau jika ada penerbit lain yang mengeluarkan edisi terjemahannya, maka saya akan membeli dan mencoba menikmati ulang karya klasik ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar