Sabtu, 23 November 2013

Pollyanna









Penulis: Eleanor H Porter
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Orange Book
Cetakan: Pertama, Mei 2010
Jumlah hal.: x + 300 halaman
ISBN: 978-602-8436-79-3

Tak pernah terpikir oleh Miss Polly Harrington bahwa hidupnya yang selama ini teratur dan penuh ketenangan akan ditingkahi kehadiran seorang gadis cilik. Gadis itu adalah keponakannya sendiri, POLLYANNA, yang dirawatnya karena sudah menjadi yatim piatu.

Pollyanna sosok yang ceria dengan cepat membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Ia menularkan kepada mereka suatu permainan ‘Sukacita’ (the glad game), sehingga siapa saja yang tidak menghabiskan waktu dengan mengeluh atau bermuram durja. Menurut Pollyanna, pasti ada sesuatu yang menyenangkan dalam kondisi apa pun.

Tetapi suatu ketika, Pollyanna mengalami kecelakaan dan terancam lumpuh seumur hidup. Masih bisakah ia bergembira dan bersukacita dengan keadaannya?
***

Buku ini adalah salah karya klasik Amerika dari seorang penulis perempuan Amerika. Buku ini sendiri pertama kali terbit di Amerika pada tahun 1913. Wah, berarti tahun ini karya itu sudah menginjak usianya yang ke 100 tahun. *tepuk tangan meriah* Eleanor H Porter sempat menikmati kejayaan tulisannya. Ia meninggal pada tahun 1920, saat karyanya memasuki cetakan ke 47. 

Novel Pollyanna adalah novel yang ditujukan untuk anak-anak. Judul Pollyanna ini berasal dari nama tokoh utamanya. Pollyanna adalah seorang gadis kecil sebatang kara. Ia kehilangan ibunya sejak kecil dan kemudian ayahnya yang bekerja sebagai pendeta meninggal dunia. Pollyanna akhir diasuh oleh bibinya yang bernaa Bibi Polly. Bibi Polly adalah adik dari ibunya.


Bibi Polly saat mendengar perihal kondisi Pollyanna memutuskan untuk menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Ia pun bersedia mengasuh Pollyanna demi memenuhi tanggung jawab itu mengingat sudah tidak ada keluarga lain yang bisa dituju Pollyanna. Bibi Polly yang merupakan seorang yang kaku dan sangat disiplin tidak menyangka akan mengasuh seorang anak berperangai sangat ceria (saya katakan SANGAT karena memang dalam buku ini, anak tersebut benar-benar selalu digambarkan mampu menemukan keceriaan dalam segala hal bahkan dalam kondisi yang paling buruk sekalipun).

Pollyanna yang tumbuh dari didikan penuh cinta kasih dari ayahnya dan dari para Ladies’ Aid berkembang menjadi anak yang sangat mencintai hidup. Baginya hidup itu bukan sekedar bernafas. Jika bernafas adalah hidup, maka saat tidur pun ia bernafas. Namun hidup baginya adalah menikmati setiap hal dan melakukan sesuatu yang dia sukai dan membuat dirinya bersuka cita. Ini jelas membuat Bibi Polly selau mengerutkan dahi dan kesal dengan sikap Pollyanna. Anehnya, semua hukuman yang diberikan oleh Bibi Polly tidak pernah dianggap sebagai kesengsaraan oleh Pollyanna. Dia selalu menemukan sesuatu untuk disyukuri dari setiap hukuman yang diberi oleh Bibi Polly.

Bahkan saat Bibi Polly menghukumnya untuk duduk membaca di kamar selama 30 menit tentang lalat, karena Pollyanna sudah dengan sengaja membiarkan jendela dan pintu kamarnya terbuka sehingga beberapa lalat masuk ke dalam rumah, pun tidak membuat Pollyanna bersedih. Ia malah berterima  kasih pada Bibi Polly karena disuruh membaca yang baginya ia disuruh mengerjakan hal yang dia sukai yakni membaca.

Keceriaan ini lambat laun membuat menular ke banyak orang. Ia mengajari Nancy, gadis yang membantu di rumah Bibi Polly, cara bermain the glad game atau permainan “sukacita”. Nancy yang iba kepada gadis cilik ini pun menyanggupi untuk ikut bermain. Awalnya ini ia lakukan untuk menyenangkan Pollyanna yang berkata akan bermain permainan ini sendiri karena tidak memiliki teman di Beldingsville. Namun ternyata permainan itu cukup membantu Nancy menghadapi hari-harinya yang selama ini penuh keluhan. Meskipun merasa kesulitan, Nancy pun terus berusaha ikut bermain.

Orang berikutnya yang diajari oleh Nancy tentang permainan tersebut adalah Mrs. Snow. Perempuan ini terkenal suka mengeluh. Ia hidup cukup miskin dan kakinya mengalami kelumpuhan. Ia sering kali diberi sumbangan makanan oleh warga sekitar. Sayangnya ia tidak mensyukuri hal ini. Ia sibuk mengeluh. Kabarnya, jika diberi Jelly ia akan mengeluh karena tidak diberi ayam, dan jika diberi ayam dia akan mengeluh karena ia ingin diberi kaldu domba. Pollyanna kemudian dengan keceriaannya menulari perempuan tua ini. Menghidupkan semangatnya dan mengajarinya untuk mensyukuri banyak hal dalam hidupnya bahkan mensyukuri sakit yang dialaminya. Awalnya ini terasa berat, namun lambat laun Mrs. Snow semakin aktif mengikuti permainan ini.

Selain itu, ada pula Jimmy Bean dan Mr. Pendleton. Awalnya Pollyanna mengenal Mr. Pendleton yang dianggap seram dan aneh oleh warga sekitar. Namun lagi-lagi (berkat sebuah kebetulan juga sih) Pollyanna berhasil masuk dan mewarnai hidup Mr. Pendleton. Awalnya Mr. Pendleton senang dikunjungi oleh Pollyanna hingga akhirnya sikapnya kembali kasar dan dingin setelah mengetahui siapa Pollyanna dan hubungannya dengan keluarga Harrington. Ternyata ada sebuah konflik yang sudah lama terjadi di antara kedua keluarga tersebut.

Kehadiran Jimmy Bean juga ikut menyibukkan hari-hari Pollyanna. Jimmy adalah anak panti asuhan yang berusaha menemukan sebuah tempat tinggal baru. Ia bahkan bersedia bekerja, ia menolak untuk mengemis. Mengetahui keinginan Jimmy ini, Pollyanna pun berusaha membantu menemukan rumah untuk Jimmy. Awalnya ia meminta pada Bibi Polly yang dianggap sangat bermurah hati namun ternyata bibinya menolak dengan keras (bahkan terkesan kasar). Pollyanna pun merasa sedih karena tidak bisa menolong Jimmy, namun dia tida berhenti di sana. Ia terus berusaha melakukan sesuatu untuk Jimmy.

Di akhir buku diceritakan tentang Pollyanna yang mengalami kecelakaan dan divonis akan mengalami lumpuh seumur hidup untuk bagian pinggul ke bawah. Ini membuat Pollyanna sangat sedih. Ia bahkan berkata ia tidak akan bisa melakukan permainan itu lagi. Namun ternyata sakitnya gadis kecil ini malah membuka banyak hal yang tidak diketahui Bibi Polly.

Satu-satunya orang yang tidak diajak bermaian “Sukacita” oleh Pollyanna adalah Bibi Polly. Namun alangkah herannya Bibi Polly dengan banyaknya orang yang datang ke rumah untuk menjenguk Pollyanna dan menitipkan berbagai pesan kegembiraan untuk Pollyanna. Mereka berkata, “Sampaikan pada Pollyanna bahwa saya ikut melakukan permaian sukacita. Dan sekarang saya bahagia. Saya sudah bla bla bla bla bla dan bla. Saya yakin dia akan bahagia mendengar kabar ini”

Semua pesan itu awalnya membuat Bibi Polly heran hingga akhirnya ia menanyai Nancy. Memintanya menjelaskan tentang permainan itu. Wah, akhir buku ini sungguh bisa ditebak dengan segera. Namun siapa yang menduga bahwa sakit Pollyanna juga membawa kebahagian bagi Bibi Polly. Ia akhirnya bisa berbahagia karena bisa memperbaiki hubungannya dengan kekasih lamanya. Bahkan mereka akan segera menikah. Hm..mungkin itu juga bisa menjadi bagian dari “sukacita” atas penyakit yang dialami oleh Pollyanna.

Karya ini sebenarnya membuat saya sadar bahwa buku-buku klasik tempo dulu yang ditujukan untuk anak-anak benar-benar sarat pesan moral. Namun sebenarnya dalam hal ini mungkin memiliki beberapa kesamaan. Semua karya Klasik yang saya baca tokoh utamanya adalah anak perempuan. Mereka digambarkan sebagai anak-anak yang ceria. Lihat saja tokoh Anne dalam “Anne of Green Gables” atau tokoh Emily dalam “Emily of New Moon”. Kedua tokoh ini hidupnya kurang lebih sama yakni yatim piatu dan tinggal dengan bibi mereka. Kekuatan keceriaan anak-anak seolah ingin diangkat dalam cerita-cerita ini.
Yang saya tangkap, jika buku ini dibaca oleh orang dewasa, mereka berharap mereka mau memaklumi sifat kanak-kanak. Bahkan seperti mengingatkan bahwa selalu ada jiwa kanak-kanak dalam diri orang dewasa.  Selain itu nilai-nilai kebaikan juga berusaha ditanamkan melalu bacaan ini. Tentang kecintaan pada alam. Tentang keceriaan yang  bisa membantu anak-anak menghadapi berbagai masalah.

Jujur, saya selalu berharap bahwa buku-buku klasik ini bisa menjadi bacaan pilihan untuk anak-anak Indonesia. Sebab banyak nilai-nilai luhur yang coba disebarkan melalui bacaan-bacaan tersebut. Sayangnya, bahkan bagi teman-teman seumuran saya, mereka masih menganggap bahwa buku ini “berat”. Katanya karena tebal dan gaya bahasanya tidak menarik (-__-“)

Rasanya sayang jika buku-buku ini tidak dikenalkan kepada anak-anak belasan tahun. Daripada mereka sibuk dengan teenlit, lebih baik jika mereka diberi bacaan “berisi” seperti ini. Tapi sudahlah ini hanya curhat pribadi *ala emak-emak* yang selama ini sering mengganggu saya.

Oiya, jika harus menilai buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 9 (^_^)v Saya selalu suka dengan karya klasik seperti ini. Apalagi buku ini berhasil membuat saya menangis bahagia di bagian akhir cerita.

2 komentar:

  1. Tapi meskipun rata-rata kisah klasik semacam ini hampir semua sama/mirip tapi kita tetap mau membacanya terus dan tak pernah bosan ya ^^

    BalasHapus
  2. iya, soalnya ini jadi "counteract" dari semua karya teenlit yang terlalu cengeng *menurut saya pribadi*

    Keceriaan masa kanak-kanak dan remaja harusnya diisi dengan karya ceria dan manis seperti karya-karya klasik ini.
    Dan mungkin karena saat saya masih kanak2 dan remaja, bacaan ini masih sulit saya temukan akhirnya "balas dendam" deh dengan membaca karya-karya ini sekarang.
    He..he..

    *curhat terselubung*

    BalasHapus