Sabtu, 23 November 2013

Pollyanna Grows Up




Penulis: Eleanor H Porter
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Orange Book
Cetakan: Pertama, September 2010
Jumlah hal.: x + 361 halaman
ISBN: 978-602-8436-95-3

“Oh, Ruth, aku ingin memberimu satu dosis Pollyanna!”
“Aku tidak menginginkannya Della, aku bukan pasienmu yang perlu diberi obat...”
“Pollyanna bukan obat, Sayangku, meskipun beberapa orang bilang dia sejenis penambah tenaga. Banyak orang mempraktikkan permainan sukacita yang dilakukannya.”
“Permainan sukacita? Sungguh tak lazim!”
***
Pollyanna beranjak dewasa, tapi perangainya tak berubah. Ia masih berusaha mempraktikkan permainan sukacita setiap saat. Ia menghadirkan keceriaan di rumah sahabat barunya, Mrs. Ruth Carew, yang dirundung duka akibat kehilangan keponakannya.
Namun, masih dapatkah Pollyanna melihat sisi menggembirakan dalam hidup ketika pamannya yang baik hati, Dr. Chilton, meninggal dunia dan perekonomian merosot? Mampukah ia menopang dna menghibur Bibi Polly, yang kembali menjadi pemuram dan menarik diri dalam kesedihan?
Keberadaan Jimmy Bean, Jamie dan Sadie di sekitar Pollyanna juga menghadirkan beragam warna dalam hidup gadis itu. Lika-liku persahabatan, keluarga dan romantika cinta.
***

Hei, sudah membaca buku Pollyanna?? Baca juga resensi buku pertamanya, Pollyanna di sini. Nah saya langsung melanjutkan membaca buku Pollyanna Grows Up begitu selesai membaca Pollyanna. Ini karena gadis kecil dalam buku ini membawa harapan optimis kita tentang kehidupan dan sukacita. Saya jadi penasaran bagaimana jika Pollyanna tumbuh dewasa? Apakah realita membuatnya berubah?


Hm..membaca buku ini saya menyadari bahwa ada dua buah cerita besar dalam buku ini. Satu adalah cerita tentang bagaimana Pollyanna yang berusia dua belas (atau tiga belas tahun ya?) berhasil memberi keceriaan dalam kehidupan Mrs. Ruth Carew yang selalu muram dan sepi. Serta kehidupan Pollyanna saat ia berusia 20 tahun.

Pollyanna yang setelah diterapi di Sanatorium akhirnya bisa berjalan lagi, diberi kesempatan untuk tinggal di Boston selama Bibi Polly dan suaminya pergi ke Jerman. Di Boston, Pollyanna tinggal dengan Mrs. Ruth Carew yang sangat kaya namun juga sangat muram. Ia mengalami banyak kesedihan dalam hidupnya. Ia pun terus bersedih karena tidak bisa menemukan Jamie, keponakannya yang hilang.

Awalnya, Mrs. Ruth Carew menolak untuk menerima Pollyanna di rumahnya, namun berkat bujukan sang adik, Della Wetherby, yang sudah lebih dulu mengenal Pollyanna dan berdo’a agar Pollyanna bisa kembali memberi keceriaan pada kakaknya, ia pun bersedia menampung Pollyanna di rumahnya.

Sejak itu dimulailah petualangan baru Pollyanna di Boston. Mrs. Carew demi kesopanan sebisa mungkin bersikap baik hati pada Pollyanna. Namun ia juga seringkali menyimpan kekesalan atas kecerewetan dan keceriaan Pollyanna. Ia merasa bahwa gadis kecil itu sudah merusak hidupnya yang selama ini teratur dan tentram *serta muram (-_-“)*. Di sisi lain, Pollyanna juga menghadapi berbagai kekecewaan.

Kekecewaan yang dihadapi Pollyanna datang dari sikap orang-orang Boston yang individualis. Mereka enggan di sapa. Setiap kali Pollyanna menyapa mereka dan tersenyum, mereka mempercepat langkah kaki dan meninggalkan Pollyanna. Ini membuat Pollyanna sangat kecewa. Rasanya menjadi semakin sulit bermain sukacita di tempat tersebut. Di tambah lagi Mrs. Carew yang menolak memainkan permainan tersebut.

Hingga suatu hari Pollyanna nyasar dan tidak tahu cara kembali ke rumah. Pollyanna akhirnya menangis dan ketakutan. Untunglah ia menemukan Jerry. Jerry yang bekerja sebagai loper koran adalah anak yang menyenangkan. Beberapa hari kemudian, Pollyanna bertemu lagi dengan Jerry yang tengah mengantar Jamie, anak laki-laki berkursi roda yang selama ini menarik perhatian Pollyanna setiap kali ia mengunjungi taman yang berada di tengah Avenue dekat rumah Mrs. Carew.

Sebuah pikiran terbersit oleh Pollyanna tentang Jamie, sebab nama keponakan Mrs. Carew yang hilang juga “Jamie”. Ini membuat Pollyanna mulai menduga-duga. Hingga akhirnya karena Jamie sakit dan tidak bisa datang ke taman, Pollyanna pun mengajak Mrs. Carew menjenguk Jamie. Sungguh yang mereka dapati sebagai tempat tinggal Jamie dan Jerry adalah sebuah tempat kumuh dan menyedihkan.

Hal ini dan kehadiran Jamie mulai mengganggu pikiran Mrs. Carew. Ia tidak bisa lagi bersikap tidak peduli dan mau tahu. Ada pula gadis bernama Sadie yang sempat ditemui oleh Pollyanna di taman dan tanpa sengaja kembali ia temukan di sebuah toko. Orang-orang ini yang kemudian membawa perubahan untuk kehidupan Mrs. Carew *tentu saja dengan bantuan keceriaan polos Pollyanna*.

Kedewasaan, pengalaman, dan semua realita yang dihadapi Pollyanna selama sakit dan selama tinggal di London mulai mengubah cara pandang Pollyanna. Ia tidak lagi sekedar bersukacita, namun benar-benar mampu bersyukur. Terkadang saat bahagia dia bisa menangi seperti saat melihat benda-benda indah. Pollyanna yang tadinya tersenyum dan tertawa bahagia melihat banyak hal yang indah mendadak menangis karena merasa sangat bersyukur sebab masih memiliki penglihatan yang baik untuk bisa melihat semua hal-hal indah tersebut.

Sepulang dari Boston, Pollyanna diajak serta oleh Bibi Polly dan suami ke Jerman. Namun saat Pollyanna berusia 20 tahun, mendadak ia dan Bibi Polly kembali ke Beldingsville dalam kondisi berduka dan jatuh miskin. Pamannya meninggal dan membuat Bibi Polly dirundung kesedihan yang sangat dalam. Saham dan usaha keluarga Harrington jatuh dan membuat Pollyanna dan Bibi Polly harus hidup dengan sangat hemat agar bisa hidup dari sisa tabungan yang ada.

Kepulangan mereka di Beldingsville disikapi dengan buruk oleh Bibi Polly. Ia takut orang-orang akan menggunjingkan dirinya yang jatuh miskin. Di lain pihak Pollyanna harus berusaha untuk membantu ekonomi keluarga. Ia pun lambat laun mulai lupa tentang permainan sukacita meski ia tetap melakukannya karena sudah terbiasa dengan hal itu seumur hidupnya. Namun ia mulai merasa sangat kesulitan untuk melakukannya. 

Di saat itu pula hubungan antara Pollyanna, Jimmy Bean *yang sudah berubah nama menjadi Jimmy Pendleton setelah diadopsi oleh Mr. Pendleton*, dan Jamie yang telah dewasa menjadi rumit. Kedatangan Mrs. Carew, Jamie, dan Sadie ke Beldingsville untuk berlibur menjadi penyelamat bagi ekonomi keluara Harrington namun juga merumitkan kehidupan Pollyanna.  Pada akhirnya Pollyanna menambatkan hatinya pada seorang pria. Namun sayangnya perjalanan cinta mereka tidak mudah.

Membaca buku ini sama menyenangkannya dengan buku pertama. Dan jujur saja buku kedua ini jauh lebih realistis. Saya rasa buku kedua ini tidak diperuntukkan untuk anak-anak lagi melainkan untuk teeneger. Kompleksitas perasaan yang dihadapi oleh Pollyanna selama di Boston yang kebingungan dengan sikap orang-orangnya sekaligus dengan keyakinan dirinya bahwa setiap orang harus saling mengenal, akan sulit dipahami oleh anak-anak usia 8 atau 10 tahun. Namun remaja usia 13 atau 15 tahun jelas mulai mampu memahami. Selain itu selipan cerita patah hati pertama Pollyanna pun jelas akan mampu dimengerti anak-anak usia remaja.

Cerita Pollyanna memang benar-benar “Grows Up”. Dan rasanya jadi agak iri dengan anak-anak Amerika dan Inggris yang tumbuh ditemani oleh karya-karya klasik seperti ini. Ah, saya di masa SMP menemukan buku saja masih sulit apalagi mendapatkan buku terjemahan. Selain itu saat itu harga buku masih tergolong mahal dengan nilai rupiah di masa itu.


Hm..jika harus memberi nilai untuk novel ini, maka saya akan memberinya nilai 8,5. Maafkan tendensi pribadi saya. Tapi saya tidak bisa melepaskan kecintaan saya pada “novel positif” seperti ini. Sebab saat membacanya banyak pesan moral dan “suntikan” pikiran positif. (^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar