Minggu, 01 Desember 2013

Dewey




Penulis: Vicki Myron & Bret Witter
Penerjemah: Istiani Prayuni
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: V, April 2010
Jumlah hal.: 400 halaman
ISBN: 978-979-024-191-6
Diterjemahkan dari Dewey terbitan Grand Central Publishing, New York, 2008

Bagaimana mungkin seekor kucing buangan mengubah sebuah perpustakaan kecil menjadi daya tarik wisata, memberi inspirasi penduduk sebuah kota, mempersatukan warga di seluruh kawasan, dan pelan-pelan menjadi terkenal di seluruh dunia?

Kisah Dewey si kucing malang dimulai dengan cara paling menyedihkan. Umurnya baru beberapa minggu ketika pada malam terdingin itu dia dimasukkan ke sebuh kotak pengembalian buku Perpustakaan Umum Spencer, Iowa, oleh orang tak dikenal. Dia ditemukan keesokan harinya oleh direktur perpustakaan, Vicki Myron, orang tua tunggal yang berhasil bertahan dari kehilangan tanah pertanian, penyakit kanker payudara, dan suami yang kecanduan minuman keras. Dewey kemudian berhasil mencuri hatinya dan hati para pegawai perpustakaan, serta menaklukkan mereka semua dengan kasih sayang.

Saat ketenarannya berkembang dari kota ke kota, melintasi berbagai negara bagian, dan akhirnya merebak ke seluruh dunia, Dewey menjadi sumber kebanggaan bagi sebuah kota pertanian yang bangkrut di pedalaman Amerika dan membuatnya bangkit dari krisis berkepanjangan yang berakar jauh ke masa silam.

Buku yang diangkat dari kisah nyata ini sangat menyentuh hati, sekaligus lucu dan memberi inspirasi bagi para pembacanya untuk berpikir positif di tengah segala kesulitan hidup.
***

Saya membeli buku Dewey ini dari obral buku salah seorang BBIers. Buku ini sudah ada di rak buku saya pada awal bulan Oktober lalu. Namun, baru sekarang saya membacanya. Saya tertarik membaca buku ini karena teringat dengan kisah yang pernah saya baca di Chicken Soup *entah seri yang mana* dan penasaran tentang apa yang dilakukan kucing ini pada sebuah kota. *ya, intinya kamu tergoda oleh blurbnya, Tria*

Buku ini dibuka dengan cerita tentang bentang alam Iowa secara umum dan kota Spancer secara khusus. Menarik saat penulis membuka cerita tentang kecintaannya pada kota Iowa. “Biar saja orang lain memiliki laut dan gunung, pantai dan kawasan ski. Aku tetap memilih Iowa” (Hal. 10). Penulis menjelaskan tentang jalan-jalan di Iowa dan menutup gambaran ini dengan memfokuskannya pada perpustakaan kota Spencer.

Antara prolog dan bab pertama buku ini terdapat foto Dewey yang berwarna hitam-putih (cukup jelas namun tidak benar-benar jelas, mengingat ini foto hitam putih). Fotonya biasa saja, bukan tipe foto-foto kucing lucu yang biasa kita temukan berseliweran di berbagai sosial media. Yang terlihat adalah seekor kucing yang matanya menatap lurus ke kamera dengan emosi yang tidak bisa saya gambarkan.

Bab pertama dibuka dengan cerita penemuan Dewey di hari terdingin tahun 1988 (saya belum lahir euy). Kucing itu ditemukan berada di dalam kotak pengembalian buku (di Indonesia kapan ada nih?? *salah fokus* #kemudianDiKeplakPembaca) Perpustakaan Spencer. Tujuan kotak pengembalian ini adalah agar para pengunjung bisa tetap mengembalikan buku saat perpustakaan sudah tutup. Dalam bab ini sempat digambarkan tentang dinginnya kotak tersebut dan “keberuntungan” Dewey karena bisa bertahan hidup meskipun tubuhnya sudah sangat dingin dan bantalan pada keempat cakarnya menjadi beku. Vicki menceritakan betapa ia terpesona pada “keberanian” Dewey saat pertama kali menatap matanya. Dan setelah itu semua pustakawan di Perpustakaan Spencer seketika jatuh cinta pada ke”tampanan” Dewey.

Dewey digambarkan oleh Vicki sebagai kucing berbulu panjang warna jingga dna indah (hal.24) “Mantelnya adalah perpaduan warna jingga dan putih dengan garis-garis yang lebih gelap....Banyak kucing mempunyai hidung terlalu mancung, atau moncongnya terlalu jauh, atau terlalu melingkar. Tetapi wajah kucing ini bentuknya sangat proporsional. Dan matanya besar keemasan” (hal. 31). Membaca gambaran ini dan didukung oleh foto cover dan foto pembuka Bab I, saya jadi mencoba menghayalkan wujud Dewey. *mendadak jadi ingin pelihara kucing (>_<)*

Setelah itu mengalirlah cerita tentang Dewey dan perilakunya yang ramah pada manusia. Dewey digambarkan sebagai kucing yang benar-benar bersahabat dengan manusia. Ia kucing yang pengertian dan mampu membaca mood orang-orang di sekitarnya. Salah satu penggambaran ini adalah cerita bahwa biasanya Dewey akan “beramah-tamah” dengan seseorang selama 10-15 menit, namun terkadang saat seseorang nampak lesu dan bermasalah, maka Dewey bisa saya menghabiskan waktu selama 1-2 jam di pangkuan orang tersebut dan biasanya ini mengbuahkan sebuah senyum di wajah orang tersebut.

Penyelamatan Dewey atas Kota Spencer pada khususnya dan Iowa pada umumnya adalah karena kucing ini membantu penduduk kota menghadapi krisis ekonomi yang terjadi tepat pada tahun kedatangannya. Saat itu penduduk Spencer mengalami masa yang cukup suram dan bahkan sejumlah orang memilih meninggalkan Iowa untuk mendapatkan peluang di tempat lain. Kehadiran Dewey di perpustakaan membuat sejumlah orang yang datang merasa lebih nyaman. Orang-orang tersebut datang ke perpustakaan untuk memanfaatkan informasi dan sarana perpustakaan guna mendapatkan pekerjaan atau peluang ekonomi yang baru.

Dalam buku ini kita akan membaca harapan seorang pustakawan tentang sebuah perpustakaan yang menjadi pendukung masyarakat bukan sekedar pelengkap. Vicki Myron, penulis utama buku ini, menggambarkan bahwa di tengah krisis tersebut yang membuat jumlah penggangguran naik menjadi sekitar 10%, perpustakaan berusaha membantu masyarakat dengan menyediakan info lowongan kerja serta satu komputer yang bisa dimanfaatkan untuk mengetik sejumlah surat-surat untuk lamaran kerja. Selain itu perpustakaan juga menyediakan buku dan memudahkan pengunjungan untuk menemukan buku-buku terkait keterampilan, deskripsi pekerjaan dan pelatihan teknis. Ini semua demi mendukung dan memberi informasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (Ah, semoga ini bisa dicontoh oleh pustakawan-pustakawan Indonesia).

Dalam buku ini saya membaca dedikasi dan impian seorang pustakawan yang mencintai perpustakaan yang ia kelola dan pekerjaannya. Ia menyadari bahwa mengelola perpustakaan bukan hanya sekedar mendata buku-buku mencatat keluar masuknya buku. Ia menceritakan tentang bagaimana ia ingin masyarakat merasa memiliki dan menjadi bagian dari perpustakaan kota. Bagaimana perpustakaan bisa memberi jalan keluar dan sedikit kemudahan bagi kehidupan masyarakat kota tempat ia berdiri. Sedangkan yang saya lihat di Indonesia, perpustakaan tergolong “kumuh” dan sekedar ala kadarnya. Dan jujur saja saya belum pernah menemukan pustakawan yang benar-benar ramah dan benar-benar melayani. Saya sejujurnya sering agak kesusahan menemukan sejumlah literarur yang saya butuhkan dan biasanya pustakawan tidak cukup ramah melayani permintaan saya (T_T) *entah saya yang belum pernah datang ke perpustakaan yang “tepat” atau pengalaman saya ini dialami juga oleh teman-teman lain*.

Kisah Dewey menjadi fenomenal karena ia merupakan kucing yang ramah pada semua orang dan sangat optimis menghadapi manusia. Tidak ada rasa curiga terhadap manusia yang ia temui di perpustakaan. Ini membuat banyak orang jatuh cinta padanya. Dewey adalah teman yang menyenangkan bagi semua yang datang. Ia memperhatikan pengunjung perpustakaan sehingga ia pun balas mendapat perhatian dari pengunjung. Ia mencintai perpustakaan dan mengganggp tempat itu sebagai rumah.

Pernah ia mencoba “melihat” dunia luar. Ia kabur lewat pintu belakang perpustakaan yang terbuka. Namun sayangnya ia menemukan bahwa dunia luar sangat menakutkan dan ini membuat dia trauma dan tidak lagi berminat mencicipi pengalaman di luar perpustakaan.

Dalam buku ini juga diceritakan kehidupan Vicki Myron sebelum dan setelah menjadi pustakawan. Ia dengan semua masalahnya berhasil survive dan akhirnya mampu mendapatkan pekerjaan yang membuatnya jatuh cinta. Ia berhasil menghadapi kanker payudara yang membuatnya kehilangan hal yang berharga bagi kaum perempuan. Dan juga tentang ikatan yang tercipta antara Vicki dan Dewey. Vicki adalah “ibu” bagi Dewey. Ia adalah orang yang selalu disapa pertama kali oleh Dewey dan orang yang suaranya selalu dikenali oleh Dewey.

Dan jujur saja, diakhir buku ini saya ikut menangis *yah, silahkan sebut saya cengeng* saat membaca cerita Vicki menghadapi kematian Dewey. Bagaimana ia merelakan kawan terbaiknya itu pergi meninggalkannya. Ia menghargai setiap sikap pengertian Dewey saat ia merasa bahwa beban hidup yang ia tanggung sangat berat. 

Sejujurnya, membaca buku ini saya jadi “mengintip” banyak hal. Mulai dari perjuangan Iowa bertahan dari sejumlah “ujian”, bagaimana Vicki jatuh cinta pada Dewey, dan bagaimana Vicki menghadapi berbagai cobaan hidup yang ia terima. Setelah itu saya pun belajar banyak. Saya mencoba mengambil hikmah dari bacaan ini bahwa sikap optimis harus selalu kita kedepankan (saya tahu itu tidak mudah. Tapi jika ada yang bisa, berarti itu bukannya tidak mungkin, kan? (^_^)). Ah, selalu menyenangkan menemukan buku yang bercerita sambil berbagi tentang kebaikan dalam hidup. Membuat kita bersyukur dan lebih optimis memandang hidup *uh..oh..jangan mulai ceramah deh, Tria*

Hm..saya jadi bingung mau menutup review ini bagaimana. Jadi, lebih baik langsung saya rating aja, deh. Jika harus memberi buku ini nilai dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8. Ini karena buku ini didukung oleh cover yang manis, cerita yang membumi (dan berhasil membuat saya menangis), serta memperkaya saya dengan “kebaikan” dalam memandang kehidupan. *tsah..sok bijak*

Quote:

“Seorang pahlawanku, Dr. Charlene Bell, pernah berkata bahkan setiap manusia memiliki barometer penderitaan dengan ukuran satu sampai sepuluh. Tidak seorang pun akan berubah, sebelum penderitaan mereka mencapai angka sepuluh. Sembilan belum cukup. Pada peringkat kesembilan, kau masih takut. Hanya peringkat sepuluh yang akan membuatmu tergerak. Namun, kapan kau berada di sana, hanya kau yang tahu. Tak seorang pun dalam membuat keputusan untukmu.” (hal. 141-142)

“Temukan tempatmu. Berbahagialah dengan segala yang kau miliki. Bersikaplah baik kepada semua orang. Jalani hidup yang baik. Ini bukan soal materi; ini soal cinta. Dan kau tidak akan pernah mengantisipasi datangnya cinta.” (Hal. 391)

1 komentar:

  1. waaaa pengen baca ini waktu liat di toko buku x( *suka kucing
    yahh kok akhirnya matiiii

    BalasHapus