Sabtu, 09 November 2013

Dear Friend with Love





Penulis: Nurilla Iryani
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: II, Januari 2013
Jumlah hal.: ix + 146 halaman
ISBN: 978-602-7572-07-2

Katanya, a guy and a girl can’t be just friends. Benarkah? How about Karin dan Rama?
Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cinta dengan puluhan wanita lain di luar sana. Puluhan wanita yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang nggak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku. Sahabatmu, tolol!

Satu di antara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasnnya membuat gue tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, man! Nggak malu-maluin diajak ke pesta kawinan kalau gue kebetulan sedang jomblo. Paket komplit!

***

Membaca blurb di sampul belakang buku ini, saya sadar bahwa ide ceritanya sudah umum. Cerita persahabat laki-laki dan perempuan. Novel yang membahas hubungan seperti ini biasanya pada akhirnya akan menjawab pertanyaan itu dengan membenarkan teori bahwa laki-laki dan perempuan tidak akan bisa bersahabat saja. Atau novel lain akan menghadirkan cerita yang menentang anggapan ini.
Buku ini pun seperti itu, ia menyuguhkan jawaban yang tidak lugas membenarkan ataupun menyalahkan. Ia memang membuka cerita dengan isi hati (tepatnya sering kali adalah teriakan hati) Karin yang menyimpan cinta untuk sahabatnya, Rama. Namun karena tidak ingin merusak hubungan persahabatan mereka, Karin memilih menunggu Rama menyadari perasaannya. Tidak berniat menyampaikan perasaannya.


Cerita dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dengan melakonkan dua tokoh secara bergantian membuat sudut pandang menjadi lebih luas. Tokoh aku, yakni Karin dan Rama, secara bergantian menceritakan pandangan mereka atas sebuah situasi yang sering kali dimaknai bertolak belakang oleh keduanya.

Hubungan Rama dan Karin baik-baik saja meski Rama sibuk gonta-ganti pacar yang selalu merasa insecure atas kehadiran Karin yang berujung pada pilihan Rama untuk memilih bersahabat dengan Karin daripada menuruti keinginan pacar-pacarnya yang ingin ia menjaga jarak dari Karin. Saat itu Rama merasa bahwa pacar-pacar yang telah jadi mantan itu masih kurang pengertian padanya. Hingga akhirnya dia bertemu seorang model cantik bernama Astrida Irsyad yang ia beri panggilan sayang, “Cicit”.

Cicit berhasil membuat Rama kagum dan tergila-gila. Ini karena Cicit yang seorang model ternyata jago memasak dan sangat pengertian. Cicit bahkan tidak mempermasalahkan kehadiran Karin. Cicit malah membantu Karin dengan menjadi model untuk koleksi terbaru butik Karin. Rama senang karena tidak perlu merasa terjepit lagi. Ia pun berniat melamar Cicit.

Karin di lain pihak menjadi benar-benar khawatir dengan kemunculan Cicit. Rama yang selama ini cuek dan lebih memilih menghabiskan waktu bersamanya daripada dengan pacar, kini lebih banyak memilih Cicit. Dan Karin menjadi panik saat mengetahui bahwa Rama ingin melamar Cicit. Semua keruwetan itu ditambah lagi dengan usaha orang tuanya yang ingin menjodohkan Karin dengan Adam. Adam adalah teman masa kecil yang sudah sangat lama tidak bertemu. Dan setelah bertemu, ternyata Adam telah menjadi laki-laki yang mempesona.

Di lain pihak Rama yang berhasil melamar Cicit menjadi heran karena akhirnya Cicit mulai merasa “terancam” dengan kehadiran Karin. Rama semakin bingung saat melihat Karin yang semakin dekat dengan Adam. Ia kemudian diminta oleh Cicit untuk memilih antara Cicit dan Karin.

Nah, apa pilihan yang diambil Rama? Mampukah ia melepaskan Karin? Atau cintakah ia pada Karin? Di lain pihak, berhasilkan Karin melupakan perasaannya pada Rama? Berhasilkah Adam membuat Karin jatuh cinta?

Hm..jujur saja akhir dari ceritanya tidak bisa saya duga. Penulis mengakhiri cerita dengan cara yang berbeda dengan yang saya perkirakan. Halah.memangnya cenayang menduga-duga & meramal? Cara berceritanya sangat ringan. Lebih banyak diisi dengan percakapan-percakapan searah dari tokoh aku dengan pembaca. Namun sayangnya dari segi emosi, buku ini tidak mampu membuat saya terhanyut. Penasaran iya. Tapi emosi saya tidak ikut terbawa ke dalam cerita, padahal saya membaca buku ini dengan fokus tanpa melakukan kegiatan lain selain menulis thesis.

Hm..cover dan tampilan buku ini kalah menarik dengan buku Stiletto lain seperti “Janji Es Krim” atau “Dunia Trisa”. Jadi, kalau harus memberi nilai untuk buku ini, maka saya memberinya nilai 7 (^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar