Selasa, 15 Oktober 2013

Thanks for the Memories




Penulis: Cecelia Ahern
Penerjemah: Nurkinanti Laraskusuma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Februari 2012
Jumlah hal.: 496 halaman
ISBN: 978-979-22-8044-9

Bagaimana kau bisa mengenal seseorang yang bahkan tak pernah kautemui?
Joyce Conway mengingat hal-hal yang seharusnya tidak dapat dia ingat. Dia tahu jalanan kecil berbatu pipih di Paris, padahal dia tidak ke sana. Setiap malam dia bermimpi tentang seseorang gadis kecil berambut pirang.
Justin Hitchock adalah duda cerai yang kesepian dan gelisah. Dia datang ke Dublin untuk memberikan kuliah seni, dan bertemu dengan dokter cantik yang membujuknya mendonorkan darah. Sudah lama tak ada apa pun yang keluar langsung dari jantungnya.
Ketika Joyce meninggalkan rumah sakit setelah mengalami kecelakaan yang menghancurkan hati, dengan hidup dan perkawinannya luluh lantak, dia pindah ke rumah ayahnya yang sudah tua. Sementara itu, ada rasa déjà vu yang terus membayanginya, namun dia tidak tahu sebabnya...
***

Bagaimana rasanya jika kamu mendadak mendapati banyak keanehan yang pada dirimu setelah moment terburuk terjadi di hidupmu? Joyce yang baru saja kehilangan bayi yang dikandungnya dan disusul dengan berakhirnya perkawinan yang telah ia bina selama 10 tahun mendadak merasa dirinya gila. Ini karena sejak pulang dari rumah sakit, ia mendapati dirinya menjadi orang yang berbeda.


Ia mendapati dirinya memiliki pengetahuan tentang Arsitektur, tentang sejarah yang bahkan tidak pernah ia pelajari. Ia yang seorang vegetarian pun memutuskan makan steak setengah matang di restoran. Semua perubahan itu membuat banyak orang di sekitarnya menjadi khawatir padanya. Ayahnya dan dua sahabatnya, Kate dan Frankie, mengira itu adalah efek dari rasa kehilangan yang mendalam akibat keguguran dan perceraiannya. Namun Joyce yakin bahwa ada hal lain yang menyebabkan semua itu. Bagaimana mungkin ia bisa saja mendadak berbahasa Latin, Perancis, dan Italia padahal mempelajari ketiga bahasa itu pun ia belum pernah? Adakah yang bisa memberikan penjelasan tentang hal ini?

Justin Hitchcock adalah laki-laki yang cukup egois. Ia bercerai dari istrinya dan memiliki satu anak perempuan dari pernikahan tersebut. Istrinya kini telah memiliki kekasih baru, sedangkan ia masih berkutat di masa lalu. Ia datang ke Irlandia untuk menjadi pengajar yang mengisi beberapa kelas di Trinity College. Di sana ia bertemu dengan Sarah, seorang dokter, yang berhasil membujuknya untuk melakukan donor darah. Ia belum pernah donor darah sebelumnya karena takut pada jarum suntik. Namun entah karena keputusasaan atau hal lain, ia bersedia mendonorkan darah demi janji kencan dengan sang dokter.

Suatu hari tanpa sengaja Justin dan Joyce bertemu di sebuah salon. Bagi keduanya mereka tidak mengenal satu sama lain, namun rasanya mereka sudah saling mengenal lama. Mereka bahkan tidak sempat berkenalan. Namun beberapa kali berpapasan membangun rasa penasaran di hati mereka masing-masiang.
Hm..saya rasa pembaca sebenarnya bisa menarik benang merah antara Joyce dan Justin melalui kata “donor darah” dan “kecelakaan”. Pada akhirnya kecurigaan pasti akan mengaitkan ke arah sana. Namun pertanyaan yang menarik adalah bagaimana Cecelia Ahern akan membaut cerita ini tetap menarik meskipun benang merah bisa segera ditebak?

Bagi saya Cecelia Ahern berhasil menggali lebih banyak dimensi di dalam cerita ini. Ia berhasil membuat cerita menjadi berputar-putar. Pertemuan keduanya diperumit oleh perasaan yang muncul di antara mereka sendiri. Hubungan Joyce dan ayahnya juga ikut menambahkan warna dalam cerita.

Tapi tetap saja karya Cecelia Ahern kali ini belum mengalahkan cerita P.S I Love You yang ia tulis. Jadi, jika harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 7,5 (^_^). (Unsur sampul yang didominasi warna gelap ikut mengurangi nilai buku ini..he..he..Sorry, buku yang bagus memang harus didampingi oleh cover yang bagus. Jika tidak, maka tidak akan banyak yang tahu tentang seberapa bagus buku tersebut..he..he..)

Quote:
“Perfer et obdura; dolor hic tibi proderit olim?” artinya “Bersabar dan tabah; suatu hari rasa sakit ini akan berguna bagimu”
“Seperti kebunku, Sayang. Semuanya tumbuh termasuk cinta. Dan karena kebun itu bertumbuh tiap hari, bagaimana kau bisa berharap kerinduan pada dirinya bisa surut? Semuanya bertambah, termasuk kemampuan kita untuk menghadapinya. Itulah cara kita terus maju.”
“Yah, bahkan kebun-kebun bisa menghasilkan pembunuh, Sayang.Kebun-kebun itu menumbuhkan secara alami. Merayap naik dan mencekik tanaman-tanaman yang tumbuh dari tanah yang sama dengan tempat mereka tumbuh. Kita semua punya ketakutan sendiri, tombol penghancuran diri. Bahkan di kebun. Betapa pun indahnya. Kalau kau tidak menyibukkan diri, kau tidak akan menyadarinya”
“Di zamanku, semua begitu adanya. Tidak perlu beratus-ratus kali. Tidak ada kuliah dengan orang yang lulus bergelar Mengapa, Bagaimana, dan Karena. Kadang-kadang, Sayang, kau hanya perlu melupakan kata-kata itu dan ikut kuliah kecil berjudul “Terima Kasih”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar