Sabtu, 05 Oktober 2013

Menyemai Harapan




Penulis: Maria A. Sardjono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 2013
Jumlah hal.: 376 halaman
ISBN: 978-979-22-5788-5
Buku ini adalah edisi revisi dari novel yang sebelumnya telah diterbitkan oleh Penerbit Alam Budaya.
Buku ini dipinjam dari Zoe Library

Tumbuh dewasa dalam perkawinan poligami orangtuanya membuat Dewi bertekad takkan membiarkan dirinya bernasib seperti ibunya, yang nrimo begitu saja. Ia tak ingin terombang-ambing mencari jati diri dan martabatnya sebagai perempuan diinjak-injak. I bertekad menyejajarkan pernanya sebagai perempuan dalam rumah tangganya kelak. Dan kini ia siap menyongsong kehidupan barunya bersama Pujisatriya, yang pasti akan jauh berbeda dari perkawinan orangtuanya.
Namun menjelang pernikahan mereka, Dewi malah dikejutkan kabar bahwa calon suaminya itu menikahi perempuan lain. hanya dalam hitungan jam, nasib dan nama baik keluarga besarnya dipertaruhkan. Dan ketika Puji tetap berniat memenuhi kewajiban untuk melangsungkan pernikahan mereka, Dewi dihadapkan pada dilema: menolak mentah-mentah pria yang mengkhianatinya, atau membiarkan sejarah kembali terulang dalam perkawinannya sendiri...
***
Itu adalah blurb yang menggugah saya meminjam buku ini. Terutama karena beberapa waktu terakhir saya membaca buku tentang Kartini yang juga menentang poligami seperti halnya tokoh dalam novel ini. Saya pikir melalui buku ini saya bisa menemukan sudut pandang baru tentang poligami sekaligus mendapat gambaran psikologis anak perempuan yang hidup dalam rumah tangga yang berpoligami.

Buku ini dibuka dengan menggunakan kacamata Dewi dalam memandang persiapan pernikahannya. Meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga, namun yang menjadi fokus cerita adalah Dewi. Seolah narator ada di sebelah Dewi, menceritakan apa yang dirasakan oleh Dewi dan membaca isi hati Dewi keras-keras.

Persiapan pernikahan dalam kacamata Dewi lebih berfokus pada sang ibunda tercinta. Ibunda Dewi adalah perempuan yang harus rela membagi suaminya dengan perempuan lain. posisinya sebagai istri pertama jelas lebih perih karena memunculkan sisi rendah diri karena seolah ia tidak cukup baik untuk sang suami sehingga sang suami perlu kehadiran perempuan lain untuk memenuhi keinginannya. Dewi yang melihat penderitaan ini sejak ia kecil dan tumbuh dengan kepekaan atas perasaan ibunya, berjanji bahwa ia tidak akan mengalami apa yang dialami ibunya.

Namun kini ia harus menerima takdirnya demi menjaga nama baik keluarga. Ia bersedia dimadu. Bahkan dialah sang istri kedua. Meskipun Pujisatriya (Puji) mengatakan bahwa ia mencintai Dewi, bukan istri pertamanya yang juga adalah mantan kekasih Puji. Namun Dewi sudah tidak mampu lagi membalas cinta sang suami. 

Di lain pihak, Dewi bertemu kembali dengan Pramono. Pramono adalah pria yang pernah Dewi cintai. Hubungan mereka berakhir ketika mereka akan bertunangan. Perpisahan terjadi karena orang tua Pramono tidak suka dengan keluarga Dewi karena ayahnya memiliki dua istri. Dewi sakit hati, terlebih saat menyadari bahwa Pramono bahkan tidak berusaha memperjuangkan Dewi di mata keluarganya. Akhirnya hubungan mereka berakhir dan tidak pernah bertemu lagi. Namun setelah menikah, Dewi yang bekerja di media cetak tanpa sengaja bertemu dengan Pramono.

Di lain pihak, Dewi terus merasa bersalah pada Indah, wanita yang lebih dulu dinikahi Puji, karena ia seolah telah menjadi penghalang bagi rumah tangga Indah dengan Puji. Apalagi Indah telah melahirkan anak Puji. Dewi pun semakin ingin bercerai dari Puji. Namun sulit karena Puji terus berkata tidak mau menceraikannya. Ibu mertuanya pun sangat menyayanginya dan berharap ia mempertahankan pernikahannya, bahkan kalau perlu merebut Puji dari Indah. 

Bagaimana Dewi akan menghadapi semua dilema hidupnya?  Bagaimana Dewi menerima kenyataan bahwa ia harus menjalani kehidupan yang ia benci? Apa alasan Dewi memilih melanjutkan pernikahan itu? Akankah ia mengakhiri pernikahannya? Apakah Dewi akan kembali pada Pramono yang pernah menyakitinya?

Membaca buku ini saya melihat perempuan yang berpendirian namu  juga tidak bisa menolak ikatan adat yang menjeratnya. Tidak bisa melepaskan begitu saja tanggung jawab untuk menjaga nama baik keluarga demi kebahagiaannya sendiri.

Penulis pandai mengolah konflik dalam cerita ini. Konflik batin tokoh Dewi pun sangat menarik diikuti. Pilhan-pilahannya  yang terkait prinsip hidupnya, harus diperhadapkan pada realita membuat novel ini pun punya nilai moral dan bisa menjadi bahan bacaan yang menarik khususnya untuk kaum perempuan.

Jika harus memberi nilai pada novel ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8,5 (^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar