Rabu, 02 Oktober 2013

Good Memories




Penulis: Lia Indra Andriana
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, September 2013
Jumlah hal.: 336 halaman
ISBN:978-602-7742-22-2

“Tiga bulan lagi, di waktu dan tempat yang sama, aku akan mengevaluasi apakah kau layak diberi tambahan kupon pertemanan”
Saat banyak orang berharap bisa kuliah di luar negeri, Maya malah rela melakukan apa pun agar bisa meninggalkan Kwanghan University dan kembali bersama kekasihnya, Alva, di Indonesia. Sayangnya, semua tidak semudah itu.
Seakan hidupnya sekarang belum cukup rumit, Maya juga harus menghadapi Luc, teman sekelasnya, seorang pria berkebangsaan Prancis yang terang-terangan menyatakan suka padanya.
Luc bahkan tidak keberatan hanya menjadi teman Maya setelah mendapatkan kupon Friendvitation buatan gadis itu.
Ketika kupon Friendvitation yang Maya berikan kepada Luc telah expired, akankah Maya memperpanjang masa berlaku kuponnya? Ataukah Maya akhirnya akan kembali kepada Alva dan melupakan semua yang terjadi di Korea?
Inikah cinta? Membuatmu rela melakukan tindakan bodoh yang tidak masuk akal?
***

Barisan kata di atas akan kita temukan di belakang novel ini. Cukup membuat penasaran meskipun dengan begitu kita juga sudah bisa menebak jalan ceritanya bahwa tokoh Maya akan terjebak di antara dua pilihan. Tapi tetap saja kita akan bertanya-tanya seperti apa tokoh Luc? Dapatkah dia membuat Maya berpaling dari Alva?


Novel ini merupakan salah satu dari seri “Hi!Kwangdae” yang diterbitkan Penerbit Haru. Serial ini mengambil tempat di sebuah universitas fiktif bernama Kwanghan University yang berlokasi di Seoul, Korea Selatan. He..he.. ini mengingatkan saya pada seri lain yang mengambil tempat di sebuah kota fiktif kecil sehingga tokoh-tokoh dari buku yang satu dengan buku yang lain saling mengenal dan menceritakan beberapa kejadian yang sama namun dalam sudut pandang berbeda tergantung tokoh utama masing-masing buku. Ah, jadi penasaran bagaimana cerita dari buku-buku lain di seri Hi!Kwangdae ini. Soalnya buku ini adalah seri Hi!Kwangadae pertama yang saya baca dan miliki. (^_^)v

Nah, buku Good Memories ini menggunakan point of view orang ketiga namun dengan dunia yang berputar di sekitar Maya. Tokoh utama novel ini adalah Maya, cewek berusia 19 tahun yang tidak menyukai keberadaannya di Korea. Jelas ini berbeda dengan cewek-cewek Indonesia lain yang masih bermimpi ingin menjejakkan kaki di kota Ginseng itu. Maya lebih menyukai berada bersama sang kekasih, Alva, daripada bertemu cowok-cowok Korea. Hal ini juga yang membuat dia kurang memperhatikan pelajarannya di kelas. Hingga membuatnya ketinggalan kelas. Dia harus mengulang kelas Bahasa Korea Level 2-nya. Maya pikir, dengan tinggal kelas Ayahnya akan murka dan akan memanggilnya pulang ke Indonesia, tapi  nyatanya tidak. Sang Ayah malah mengeluarkan ultimatum bahwa ia tidak boleh menginjakkan kaki di Indonesia sampai dia meraih gelar S1. Itu artinya masih butuh 4,5 tahun lagi.

Keadaan makin gawat saat Alva mengeluarkan ultimatum bahwa jika Maya tidak bisa datang di hari ulang tahun Alva, maka itu berarti Maya tidak lagi sayang pada Alva dan hubungan mereka berakhir. Ini membuat Maya makin panik. But thanks God, Maya punya adik bernama Rani yang tidak berhenti mengingatkan Maya bahwa ia harus berteman dan membuat kenangan yang indah dengan teman-temannya di Korea. Saat itulah Maya menyadari bahwa selama ini dia tidak memiliki teman. Maya terlalu sibuk dengan gadget-nya untuk “mempersempit” jarak antara dia dan Alva. Ini membuat dia lebih sering memperhatikan handphone saat di kelas dan lebih memilih ber-skype ria di laptop.

Kemudian hadir Luc, teman sekelasnya yang baru di level 2. Luc, cowok Prancis yang menjadi ketua kelas; disukai oleh Yujin, teman sekelas mereka; humoris; dan sering menolong Maya. Saat tahu Maya memiliki Project “Good Memories”, hasil desakan Rani, maka Luc pun sibuk membantu Maya membuat kenangan Indah. Kelas mereka yang tadinya kaku dan tidak akrab mulai sering berkumpul dan bercakap-cakap. Membuat acara makan malam bersama, piknik bersama, dan kegiatan lainnya. Namun terkadang teman-teman mereka menganggap Maya sebagai perusak suasana. Tapi syukurlah Luc selalu menjadi penyelamat suasan tersebut.

Luc akhirnya sering menemani dan membantu Maya. Luc salah paham bahwa Maya suka dengan Soda hingga sering mentraktir Maya sekaleng soda. Hingga suatu hari Luc menyatakan perasaannya. Maya tidak ingin Luc memiliki perasaan padanya. Maya ingin tetap setia. Maya ingin bisa bersama Alva lagi. Tapi Luc selalu bertanya apakah Alva benar-benar menyayanginya? Layakkah Alva mendapatkan semua cinta dan pengorbanan Maya?

Hm..sepertinya ada yang salah. Tidak hanya tentang hubungan Maya dan Alva, namun juga hubungan Maya dan Luc. Kenapa Maya tidak suka Luc dekat dengan Yujin? Mengapa Maya tidak bisa menolak Luc dengan tegas? Apakah hati Maya sudah mendua?

Cerita dalam buku ini alur dan kecepatannya sangat pas. Kita dibuat bertanya-tanya di waktu yang tepat. Membaca buku ini membuat kita tanpa sadar berhasil menyelasaikan ke 336 halamannya. Selain itu untuk yang sering menonton film Korea, ada beberapa selipan kata bahasa Korea yang cukup familiar ditemukan dalam percakapan di film-film Korea.

Cover  buku ini menampilkan sebuah kamera polaroid dengan berbagai potongan kertas dengan berbagai tulisan. Setelah menyelesaikan buku ini, saya barulah mengamati tulisan-tulisan di dalam potongan kertas tersebut. Ternyata itu adalah kupon yang dibuat Luc. Hm..cover buku ini sangat manis (apalagi saya pencinta warna biru..ha..ha..) dan cukup merepresentasikan isi cerita.

Jadi, jika harus memberi nilai untuk novel ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8. (^_^)v

Quote:
“Kenapa terlambat? Rasa suka kan nggak mungkin secepat itu menghilang. Di dunia ini, kita sering diajarin cara mengasihi dan mencintai orang lain, tapi nggak ada yang ngajarin cara berhenti mencintai...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar