Selasa, 17 September 2013

The Fault in Our Stars




Judul dalam Bahasa Indonesia: Salahkan Bintang-Bintang
Karya: John Green
Penerjemah: Inggrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Qanita
Cetakan: II, April 2013
Jumlah hal.: 424 halaman
ISBN: 978-602-9225-58-7

Siapa bilang penderita kanker orang yang kuat? Mereka mungkin orang yang terkadang berharap segera meninggal karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit akibat kanker yang mereka derita. Melalui karya John Green ini kita akan berkenalan dengan seorang tokoh fiktif yang mungkin saja sebenarnya berhasilkan merepresentasikan kehidupan sejumlah orang yang hidup dengan menerima bahwa sebuah penyakit telah menjadi bagian dari dirinya.

Melalui sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh penulis, kita akan memandang hidup melalui pikiran dan perasaan seorang Hazel Grace. Seorang anak perempuan yang berusia 16 tahun yang menderita kanker sejak usianya 13 tahun yang menjalani hidup dengan berbagai pikiran tentang itu atau ini adalah efek dari kanker atau keisitimewaan kanker atau hal lainnya. Menjelaskan tentang Hazel Grace saja merupakan sebuah kerumitan sendiri. Saya tidak begitu paham tentang istilah kedokteran atau bahkan bahasa kedokteran sehingga jika ada yang bertanya kanker apa yang diderita Hazel, maka saya akan menjawab dengan mengutip kalimat Hazel dalam salah satu perkenalan di Kelompok Pendukung yang ia ikuti

“Namaku Hazel. Usiaku enam belas. Tiroid dengan metastasis di paru-paru. Aku baik-baik saja” (ada catatan kaki untuk kata metastasis yakni berarti penyebaran penyakit kanker ke bagian lain tubuh). Hm..satu yang baru saya ingat yakni nama Hazel juga adalah nama boneka yang sering membuat saya merinding di kostan ini. *hm..abaikan keterangan ini*.

Hazel kemudian berkenalan dengan Augustus Waters di Kelompok Pendukung. Augustus adalah teman Isaac, teman Hazel di Kelompok Pendukung. Isaac menderita kanker di matanya yang pada akhirnya membuat ia kehilangan kedua matanya. Augustus sendiri menderita osteosarkoma yang membuat ia kehilangan sebelah kakinya.

Setelahnya hubungan Hazel dan Augustus menjadi fokus utama dalam cerita ini. Tentang Hazel yang berusaha mengabaikan Augustus dan perasaannya terhadap laki-laki itu seperi ia menghindari semua kedekatan yang ia miliki dengan orang lain. Hazel merasa dirinya sebagai bom waktu. Sebagai orang yang suatu hari pasti akan menyakiti orang-orang yang menyayanginya. Sebab ia tahu bahwa suatu hari dia akan meninggalkan mereka.

Maka menjadi hal yang wajar jika di dalam beberapa bagian akan ada air mata yang mengalir. Saat menyadari bahwa selain harus menahan rasa sakit yang tak tertahankan, mereka juga harus menahan diri dan berkutat dengan pikiran-pikiran yang tidak akan bisa dimengerti oleh orang yang sehat. Itulah kenapa kita harus mengakui tentang seberapa kuat mereka.

Pengejaran Hazel dan Augustus atas kelanjutan cerita dari novel Kemalangan Luar Biasa yang ditulis oleh Peter Van Houten semakin mendekatkan mereka. Mereka bahkan berhasil menyusul penulisnya ke Amsterdam. Namun ternyata sesampai di sana mereka harus mengakui bahwa dunia bukanlah pabrik pewujud keinginan. Van Houten tidak seperti yang mereka ekspektasikan. Namun kepergian mereka ke Belanda tetap tidak akan mereka sesali sebab di sana mereka menikmati perasaan mereka satu sama lain.

Namun sepulangnya mereka dari Belanda, sebuah kenyataan menghantam Hazel. Kanker kembali menguasai tubuh Augustus dan sepertinya kemenangan sudah jelas milik siapa. Di moment ini pikiran-pikiran terdalam Hazel kembali bisa kita baca. Mengingatkan kita kembali pada berbagai realitas dalam kehidupan.

Ya, buku ini menarik sekaligus mengharukan. Menampilkan pahlawan dalam sebuah perang yang hanya menjadi milik orang-orang tertentu. Tokohnya tidak sempurna namun cerdas. Hm..buku ini bisa menjadi salah satu buku favoritku tapi tetap berada dibawah Harry Potter dan My Sister Keeper karya Jodi Picoult. Ah, hidup drama keluarga. He..he..
Hm..jika saya harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8,5 (^_^)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar