Kamis, 05 September 2013

Tarakan “Pearl Harbour” Indonesia (1942-1945)




Penulis: Iwan Santosa
Penerbit: PT Primamedia Pustaka
Cetakan: Maret 2005
Jumlah hal.: 190 halaman
ISBN: 979-696-301-9
Dipinjam dari: Bang Ridwan

Saat membaca judulnya saya langsung tergugah. Ya, sudah menjadi bagian dari psikologi pembaca untuk  tertarik dengan hal-hal yang familiar dengan hidup mereka. Melihat kata Tarakan dalam judul buku ini membuat saya tertarik membacanya. Alasannya cukup sentimentil. Saya pernah tinggal di kota ini dan sampai sekarang masih menganggap kota itu sebagai salah satu “rumah” tempat saya pulang.
Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah adanya keterangan dari sampul yang menuliskan
”Sebuah tank Matilda milik Angkatan Darat Australia mendarat di Pantai Lingkas melintasi jembatan ponton besi yang disiapkan kesatuan Zeni Angkatan Laut AS “Sea Bee”. Dewasa ini kawasan tersebut dinamakan “Jembatan Besi” untuk mengenang operasi amfibi Sekutu di Tarakan”
Keterangan itu jelas menggugah saya yang mengenal daerah tersebut dan bahkan dulu sering melewatinya. Akhirnya saya pun tertarik meminjam buku ini.

Membaca bagian awal buku ini diangkat tentang kekuatan militer Jepang. Mereka melakukan penyerangan bersamaan di beberapa titik di wilayah kekuasaan AS-Sekutu. Penulis meyakini bahwa serangan itu dilakukan untuk melemahkan sekutu sehingga Jepang bisa menguasai Nusantara dan wilayah Asia Tenggara untuk mendapatkan minyak bumi. Ini karena Jepang menyadari bahwa kebutuhan akan minyak dan gas sangat penting bagi negara industri. Dan wilayah Nusantara yang paling dekat dengan Jepang adalah Pulau Tarakan. Pulau Tarakan pada saat itu mampu menghasilkan 80.000 ton minyak per bulan. Akhirnya sampailah tentara Jepang pada dini hari 11 Januari 1942.


“Satuan khusus Angkatan Laut Jepang yang ditugaskan untuk mengambil alih Tarakan, merupakan bagian dari rencana Gurita Tengah (Central Octopus). Panglima Angkatan Laut Jepang termahsyur Takeo Kurita memerintah unit tempur ini bergerak dari dua arah di utara melalui Kepulauan Filipina dan satuan dari Kepulauan Palau di utara Papua di bawah komando Mayor Jenderal Shizou Sakaguchi.” (Hal. 14)

Perebutan pertama antara Jepang dengan Sekutu atas Pulau Tarakan di mulai pada akhir Desember 1940. Pada 28 Desember 1940 sebuah pertempuran udara pecah antara pesawat tempur Zero milik Jepang dengan Pesawat Brewster Buffalo Belanda. Setelah itu pihak Belanda menyusun pertahanan. Lucunya, yang tergabung menjadi personil dari pasukan pertahanan Belanda ini adalah pegawai Bataafsche Petroleum Maatscapij (BPM-Pertamina Belanda). Mereka menyusun rencana pertahanan yang salah satunya adalah membumi hanguskan sejumlah sumur-sumur minyak yang berharga agar tidak jatuh ke tangan musuh. Malam hari pada 10 Januari 1941, Tarakan menjadi lautan api. Api berkobar dari ladang-ladang minyak yang tersebar di pulau Tarakan. (ugh..mendadak saya teringat pada peristiwa Bandung Lautan Api)

Pasukan pertama Jepang tiba di darata Tarakan sekitar pukul 00.00, 30 menit kemudian menyusul pendaratan khusus Angkatan Laut Kure. Pasukan-pasukan ini mendarat 4 km di sebelah utara Sungai Amal dan berlabuh di muara sungai. (Saya ingat pernah menyusuri daerah ini. Berjalan-jalan cukup jauh hingga menyebrangi sungai Amal. Tapi sayang saat itu saya bahkan tidak tahu mengenai sejarah peperangan ini sebanyak yang diceritakan oleh buku ini)

Subuh tanggal 12 Januari 1941, tentara Jepang berhasil menguasai lapangan udara Juata. Pada saat itu tentara Belanda telah menyerah. Namun kurangnya koordinasi membuat satuan pengebom tetap melakukan serangan. Setelah itu Jepang memperluas pendudukannya hingga ke desa Juata. Saat itu belum semua pasukan Belanda menyerah karena rusaknya jalur komunikasi. Hal ini juga menyebabkan susahnya komunikasi antara pasukan Jepang hingga kontak senjata masih saja terjadi di dermaga Tarakan.

Sebenarnya pada tanggal 12 Januari itu, pasukan Belanda di Tarakan sudah menyerah, namun baru tanggal 13 Januari Jepang benar-benar menguasai Tarakan tanpa perlawanan lebih lanjut. Sebab pada tanggal 12 Januari masih ada serangan bomber dari pesawat perang Belanda yang berasal dari Pangkalan Samarinda II. Para bomber ini berangkat tanpa pengawalan dari pasukan pemburu Brewster Bufallo. Dalam salah satu pesawat bomber Glenn Martin ini ada seorang warga negara Indonesia yang ikut. Beliau adalah Luitenant Waarner R.S Soeriadarma. Soeriadarma ini kelak menjadi Kepala Staf Angkatan Laut pertama Indonesia. Pesawat yang beliau gunakan bersama Lukkien dan Vermey sempat tertembak namun syukurlah mereka berhasil mendarat di Manggar di Balikpapan.

Setelah berhasil mengusai Tarakan, Jepang langsung menyerang dengan cepat. Sepuluh hari setelah menguasai Tarakan, Jepang berhasil menguasai Balikpapan. Pada bulan Maret Jepang berhasil menguasai Denpasar, Bali.

Setelah mengusai Tarakan, penjajahan Jepang di Tarakan di mulai. Sekitar 5000 penduduk sipil (tidak dijelaskan secara terperinci persentase jumlah pribumi, Belanda, dan Indo-Belanda) hidup dengan menderita. Karena berada di pulau mereka akhirnya terisolir dan tidak memiliki jalan keluar. Warga sipil akhirnya hidup dengan berbagai penyakit mulai dari kurang gizi, luka infeksi sampai penyakit kulit. Selain itu mereka pun dipaksa melakukan kerja keras untuk kepentingan Jepang tanpa diberi asupan gizi yang cukup.
Jepang berhasil memperbaiki fasilitas-fasilitas perminyakan yang telah dibakar oleh Belanda dalam waktu 2 bulan. Eksploitasi minyak di Tarakan pun dimulai. Eksploitasi ini digunakan untuk kepentingan militer Jepang.

Namun pada akhir tahun 1943, Sekutu mengambil inisiatif untuk menghancurkan jalur pelayaran kapal Jepang di perairan Nusantara. Hal ini karena terdapat tanda-tanda melemahnya kekuatan Jepang dengan kalahnya Jepang di beberapa front pertempuran. Penyerangan terhadap Tarakan sendiri dilakukan pada tahun 1944. Pada tanggal 10 Desember 1944, Sekutu mengebom ladang minyak di Lingkas, Tarakan.

Ternyata melemahnya pertahanan Jepang di Nusantara juga disebabkan oleh faktor internal dimana ada persaingan antara Angkatan Darat dengan Angkatan Laut mereka. Yang seharusnya keduanya bisa saling mendukung akhirnya malah jadi saling melemahkan karena tidak mau saling bantu dan malah sibuk melakukan pembuktian diri masing-masing.

Tapi dilain pihak tentara Jepang cukup cerdik. Mereka berhasil melakukan kamuflase untuk beberapa titik-titik penting tempat mereka menyimpan cadangan senjata. Ini membuat mereka tetap memiliki kekuatan untuk melawan pasukan sekutu yang berhasil mendarat di Tarakan.

Aksi bombardir Sekutu atas pulau Tarakan tidak seluruhnya berhasil menghancurkan benteng-benteng perlindungan yang dibuat tentara Jepang yang dikamuflase dengan menutupinya dengan tanaman-tanaman. Di lain pihak aksi bombardir selama 4 hari itu malah memberikan kerugian yang besar bagi pihak sipil. Bahkan akibat aksi bombardir tersebut Bandar Udara Croydon (kini lapangan Udara Juata) tidak dapat digunakan selama 59 hari. Ini ternyata menghambat kesiapan kekuatan Angkatan Udara Sekutu.

Selanjutnya perebutan kota Tarakan berlanjut hingga ke wilayah perbukitan setelah pihak Australia yang mewakili Sekutu berhasil menduduki kota Tarakan. Jepang melakukan perlawanan sengit dan melakukan perang di pedalaman.

Akhirnya perang di Tarakan benar-benar berakhir pada bulan Agustus 1945. Saat itu Jepang telah mengakui kekalahannya dalam Perang Dunia Kedua. Dilakukanlah rekonstruksi Tarakan. Kota Tarakan dibenahi bersama oleh pihak Sekutu dibantu oleh bekas tahanan perang yang berkebangsaan Eropa, tentara KNIL Indonesia hingga warga sipil Tarakan.

Patut disayangkan semua kenang-kenangan atas kejadian bersejarah ini sudah sangat sulit ditemukan. Bahkan seingat saya, saat menjalani masa SD dan SMP di Tarakan, saya bahkan tidak tahu banyak tentang kota tersebut. Dokumentasi atas perang ini sangatlah sedikit. Padahal peran Tarakan saat itu cukup strategis. Keterangan-keterangan tentang perang di Tarakan banyak diambil dari hasil wawancara dengan sejumlah orang Tarakan.
Peninggalan Perang Dunia Kedua di Tarakan tersebar di sejumlah lokasi, seperti: tiga pucuk kanon 75milimeter di kawasan Peningki Lama, beberapa Bunker, dan pillbox di Juata Laut, di ujung landasan Bandara Juata, dan di dekat kota Tarakan

Hm..seperti biasa, membaca buku yang berbau kesejarahan sering membuat saya mengantuk. Butuh waktu sepekan lebih bagi saya untuk bisa menyelesaikan buku ini. Sejujurnya banyak bagian-bagian saya lewati karena bingung dengn keteranga tentang persenjataan. Saya lebih banyak tertarik dengan penjelasan tentang waktu dan tempat kejadian kontak senjata.

Dari segi judul, buku sudah baik. Menggugah pembaca untuk bertanya-tanya “Kenapa Tarakan di sebut sebagai Pearl Harbour? Di mana posisinya? Apa pentingnya?”. Hal ini akan membuat orang tertarik untuk mencari tahu. Sejujurnya harus saya akui bahwa banyak tempat yang aku kenal di Tarakan tanpa tahu sejarahnya. Membaca buku ini membuat saya menjadi lebih tahu.

Jika harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar