Jumat, 20 September 2013

Janji Es Krim




Penulis: Nimas Aksan
Penerbit: Stiletto
Cetakan: I, Maret 2012
Jumlah hal.: ix - 267 halaman
ISBN: 978-602-7572-00-3

Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama untuk menggambarkan kehidupan Mia Aminatiara yang penuh dengan kesialan. Bagaimana tidak, Mia sudah 9 kali putus dengan 9 pria berbeda, ia pun sudah 9 kali dipecat dari pekerjaannya. Semua itu bertolak belakang dengan kehidupan kakaknya, Nia, yang sempurna. Nia punya pekerjaan dengan fasilitas dan gaji yang menggiurkan. Nia pun memiliki dua putra yang lucu-lucu dan suami yang kaya.

Ini membuat Mia tidak bisa menahan diri untuk mendramatisir hidupnya. Jujur saja, saat membaca buku ini saya cukup kesal pada Mia. Ia sibuk menyalahkan orang lain atas setiap kesialan yang menimpanya. Kesannya dia benar-benar seorang dramaqueen.


Sahabat Mia, satu-satunya sahabat yang ia miliki, bernama Dudi membantunya untuk menemukan masalah yang membuat hidupnya dipenuhi kesialan. Karena sebuah ramalan aneh Dudi pun meyakini bahwa kesialan Mia  terjadi karena ia belum menepati sebauh janji. Mia berjanji akan mentraktir Dudi dan Karin, teman mereka semasa SMA, makan es krim Cinderella’s Shoes di Kedai Es Krim Yoyo jika ia berhasil masuk ke PTN. Dan sampai saat itu janji tersebut belum terpenuhi.

Karenanya, Dudi dan Mia pun mencoba menemukan Karin yang sudah lama tidak mereka ketahui kabarnya. Karin merupakan seorang perempuan yang egois dan manipulatif, itulah kenapa mereka tidak lagi berteman. Namun demi menghilangkan kesialannya, Mia pun berusaha untuk mengajak Karin untuk makan es krim di Kedai Es Krim Yoyo.

Namun ternyata itu tidak sesimple yang ia duga. Butuh pengorbanan besar hanya untuk sekedar mengajak Karin makan es krim. Ia harus rela menjadi babu yang diperintah semena-mena oleh Karin untuk membantu Karin mempersiapkan pesta pernikahannya. Dan itu melibatkan kedekatannya dengan Gardi, calon suami Karin. Semua kian runyam saat Mia menyadari bahwa ia jatuh cinta pada Gardi.

Di saat yang sama ia pun menemukan kunci untuk bisa membuat pernikahan Karin batal. Apa yang harus ia lakukan? Diam dan membiarkan Karin dan Gardi menikah meskipun ia yakin pernikahan mereka tanpa cinta? Ataukah ia harus membuka semua kebenaran dan menghentikan pernikahan tersebut? Selain itu, muncul pula kabar buruk tentang kakaknya, Nia. Ia pun benar-benar yakin bahwa dia harus menata hidupnya.

Berhasilkah dia? Apakah misi untuk bisa melunasi hutangnya berhasil? Apakah kesialannya akan berakhir? Apakah perasaannya pada Garin harus diakhiri?

Hm..covernya manis, sinopsisnya pun bagus. Ide cerita juga menarik. Dan sudah cukup bisa mempengaruhi emosi pembaca. Sayang ada beberapa bagian yang agak missing terutama di bagian akhir cerita. Tentang hubungan Mia dengan Dudi yang dibiarkan begitu saja oleh Mia dan kemudian membaik secara mendadak. Namun secara keseluruhan buku ini cukup bagus.

Jika harus memberi nilai untuk novel ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 8.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar