Senin, 30 September 2013

Dewi Sartika



Penulis: Rochiati Wiriaatmadja
Penerbit:  Depdikbud Proyek Pembinaan Sekolah Dasar
Cetakan: 1985
Jumlah hal.:  vi + 128 halaman
ISBN: ---

Jangan tanya bagaimana saya bisa menemukan buku ini. Perlu sedikit perjuangan yang keras. Saya bahkan baru menemukan 3 buku yang membahas tentang Dewi Sartika. Buku ini salah satunya dan setahu say buku ini sudah tidak dicetak ulang lagi. Dan sekedar info, sebenarnya di halaman depan buku ini tertera tulisan “Tidak Untuk Diperdagangkan”.

Menurut saya seharusnya buku ini dicetak kembali saja agar bisa memberi banyak manfaat bagi generasi muda. Mereka perlu banyak tokoh idola yang bisa mereka jadikan teladan selain para entertainer yang berseliweran di layar kaca. *mendakak terpikir, kenapa tidak ada film atau mini seri untuk mengangkat kisah hidup para pahlawan-pahlawan Indonesia. Jangan yang epic. Tapi yang nyata dan memang punya peran penting untuk kemerdekaan Indonesia*

Buku ini adalah buku biografi tentang tentang Raden Dewi Sartika. Siapa yang familiar dengan nama ini? Ya, di saat kita SD dan belajar tentang pahlawan, maka nama beliau akan ikut disebut secara sambil lalu oleh guru sebelum atau setelah menjelaskan tentang kepahlawan Kartini. Ini karena Dewi Sartika pun memperjuangkan hak-hak kaum perempuan.


Buku ini dibuka dengan prolog kejadian pemboman pacuan kuda Tegallega. Bagi yang tidak paham, mereka akan bingung dengan hal ini. Apa hubungannya dengan Dewi Sartika. Kejadiannya kan terjadi pada tahun 1893. Saat itu Dewi sartika baru berusia 9 tahun. Kemudian penulis menjelaskan tentang kehidupan kaum menak priangan. Sejujurnya saya menangkap kehalusan penuturan penulis dalam menampilkan kaum Menak. Sejujurnya Kaum Menak adalah perpanjangan tangan pemerintah kolonial dalam mengatur rakyat jajahannya. Maka saya secara langsung menyatakan bahwa pribumi kita sendirilah yang menjajah pribumi lain. Keberadaan kelas-kelas dalam masyarakatlah yang menyebabkan hal ini. Dan selain itu, kondisi inilah yang kian menghambat berkembangnya bangsa Indonesia melawan penjajahnya.

Diceritakan mengenai skandal politik keluarga Dewi Sartika. Dewi Sartika merupakan keturunan menak atau priyayi. Dari garis keturunan ibunya, ia adalah cucu dari Dalem Bintang, yakni Bupati Bandung pada tahun 1846-1874. Namun ayahnya, Raden Somaganara, yang sempat menjabat menjadi Patih Bandung bersama dengan kakek Dewi Sartika, R.Demang Soeriadiprdja menyusun sebuah penentangan terhadap terpilihnya RA Martanegara sebagai Bupati Bandung menggantikan Raden Adipati Kusumadilaga. Kejadian ini dikenal dengan Peristiwa Dinamit Bandung. Peristiwa ini terjadi pada 17 dan 20 Juli 1893. Akhirnya karena hal ini, Somanagara diasingkan ke Ternate dan kakek Dewi Sartika diasingkan ke Pontianak.

Saat ayahnya diasingkan, ibu Dewi Sartika turut serta ke Ternate. Dewi Sartika dan saudara-saudaranya dititipkan terpisah-pisah ke kerabat mereka. Dewi Sartika dititipkan pada pamannya, Raden Demang Suriakarta Adiningrat, kakak dari ibu Dewi Sartika. Pamannya adalah Patih Afdeling Cicalengka. Dewi Sartika tnggal disana sampai ia berusia 18 tahun. Kehidupannya di Cicalengka cukup berat. Ia adalah anak seorang buangan politik. Keluarganya sangat berhati-hati saat berinteraksi dengannya karena takut dicap sebagai pemberontak. Ia juga tidak bisa diperlakukan dengan seenaknya seperti rakyat biasa karena Dewi Sartika dari garis keturanannya adalah seorang menak. Ini menjadi dilema tersendiri. Kondisi ini yang kemudian menempa karakter Dewi Sartika. Bahkan diceritakan bahwa ia dengan kepandaiannya karena sempat bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) meski hanya sampai kelas 2, mengajarkan baca-tulis dan sedikit bahasa Belanda kepada anak-anak abdi dalam yang ada di lingkungan keluarga pamannya. Dan akhirnya setelah ibunya kembali dari Ternate ke Bandung karena kematian ayahnya di pengasingan, Dewi Sartika pun membuka sebuah sekolah di halaman belakang rumah ibunya.

Di Bab III buku ini sempat disinggung kondisi pendidikan anak perempuan di Indonesia yakni dimana pelajaran baca-tulis tidak dianggap cuku penting. Perempuan Indonesia diajar dan diharapkan untuk tahu tugas-tugasnya dalam mengelola rumah tangga, menerapkan tata krama, dan cara melakukan perjamuan. Akhirnya Dewi Sartika berinisiatif membuat sekolah yang mengajarkan baca-tulis dan keterampilan agar perempuan pribumi bisa lebih mandiri dan tidak benar-benar tergantung pada kaum laki-laki seperti ayah, suami atau kakak laki-lakinya.

Dalam bab IV diceritakan tentang perjuangan Dewi Sartika merintis Sakola Istri yang kemudian berubah nama menjadi Sakola Keutamaan Istri  dan kemudian menjadi Sekolah Raden Dewi. Banyak tantangan yang dihadapi Dewi Sartika. Mulai dari kecurigaan orang atas apa yang sedang ia lakukan, mengingat latar belakang keluarganya yang memiliki skandal sebagai orang-orang yang menentang kepemimpinan Martanegara yang saat itu masih menjabat sebagai Bupati; ada pula sikap antipati yang diterimanya dari kaum Menak yang menganggap Dewi Sartika tidak menghormati adat karena bersedia mengajari anak-anak perempuan dari berbagai kalangan, tidak dari kaum menak saja; hingga dia harus menelan harga diri dan menemui RA Martanegara untuk memperoleh dukungan agar sekolahnya bisa tetap berdiri. Perjuangan ini juga menunjukkan keteguhan hati seorang Dewi Sartika. Ia tidak hanya berbicara tentang pendidikan kaum perempuan, tapi melakukan perlawanan atas keberadaan kasta-kasta dalam masyarakat tempatnya hidup. Ia menentang feodalisme tidak hanya oleh penjajah mereka yang berbeda bangsa namun jaga kolonialisme yang dilakukan olah orang-orang sebangsanya sendiri terhadap yang lain.

Selain itu diceritakan tentang pilihan Dewi Sartika untuk menikah dengan R Agah Soeriawinata yang kerap disapa Raden Agah. Raden Agah adalah seorang duda. Dan tidak lazim saat itu perempuan menikah yang masih gadis menikah dengan lelaki seorang duda. Selain itu, Dewi Sartika juga sangat prihatin dengan masalah pelacuran, dan baginya untuk menghentikan pelacuran maka ia harus mendidik perempuan pribum untuk bisa mandiri. Caranya? Dengan mengajarkan mereka keterampilan yang bisa menghasilkan produk sehingga bisa menjadi sarana untuk memperoleh penghidupan. Inilah yang membuat ia semakin yakin untuk melanjutkan perjuangannya.

Dalam bab VI kita akan menemukan bahwa banyak juga cerita sedih yang mewarnai kehidupan Dewi Sartika. Saat 25 Juli 1939, Raden Agah meninggal secara mendadak. Kemudian pada saat kedatangan Jepang yang menggantikan Belanda menjajah Indonesia, Sekolah Raden Dewi diubah menjadi Sekolah Gadis No.29. Dewi Sartika menolak mengajar di sekolah itu. Setelah itu pada tahun 1946, Dewi Sartika mengungsi ke Garut saat terjadinya Bandung Lautan Api. Dan sejak saat itu ia tidak lagi kembali ke Bandung. Dewi Sartika menghembuskan nafas terakhir di kota Cineam pada 11 September 1947 karena sakit yang dideritanya.

Itu sedikit yang bisa saya bagi tentang Dewi Sartika berdasarkan buku ini.
ingin tahu lebih banyak silahkan lihat di sini
 

11 komentar:

  1. aku harus cari buku ini, thx for review.
    Eh, nama belkang atria itu dewi sartika ya => Atria Dewi Sartika, ibumu pengagum dewi sartika ya?

    BalasHapus
  2. Sama-sama, Hib.

    Iya, nama belakang saya "Dewi Sartika" tapi ibu saya sama sekali tidak tahu tentang Dewi Sartika selain bahwa dia salah satu pahwalan perempuan juga. Mengingat saya berasal dari Sulawesi dan tidak ada campuran darah Sunda atau Jawa, maka wajar ibu saya tidak mengenal Dewi Sartika.

    Tapi kemudian saya melakukan pengejaran atas makna nama saya dan kemudian membuat saya mengejar segala literatur tentang beliau. Dan pengejaran saya atas tulisan Dewi Sartika malah menjerumuskan saya ke bacaan sejarah Bandung.. ha..ha.. *curcol*

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. iya, cerita kepahlawanan sudah jarang ditemui ya sekarang ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, patut disayangkan. Generasi nanti akan semakin lupa untuk menghargai negerinya karena lupa pada perjuangan pahlawannya
      *sedih*

      Hapus
  5. Terlihat jelas kan ya diskriminasi pada catatan sejarah kita?!! Lihatlah Kartini yang cuma bisa ngeluh dan curhat tanpa melakukan apa-apa malah dibuatkan hari untuk mengenangnya. Dan lihatlah Dewi Sartika yang lebih dulu mengajarkan anak-anak perempuan baca tulis, bukan hanya dikalangan priyayi tetapi juga abdi dalem, malah hanya diucapkan sambil lalu.
    Belum lagi pahlawan-pahlawan perempuan di luar Jawa yang sangat banyak!!! Tapi tahukah kita?


    BalasHapus
    Balasan
    1. hm..saya secara fair mengakui kecerdasan seorang Kartini. Di usia yg masih muda beliau lebih sensitif membaca lingkungannya.
      tapi disisi lain jg menyesali "setting" yg dibuat dalam mengangkat kepahlawanan Kartini. Ini membuat banyak tokoh lain tidak terangkat kiprahnya.
      Yah, mgkin kita yg tahu bisa berbagi pada yang balum tahu (^_^)

      Hapus
  6. Ah, pengen baca.. tapi jarang lihat buku ini. Sepertinya saya harus hunting ke perpustakaan deh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mudah-mudahan masih. Mengingat sudah lama diterbitkan dan saya belum pernah menemukan cetakan ulangnya. Makanya saya berharap buku ini bisa dicetak ulang dengan tampilan yang lebih menarik biar generasi muda tergoda membacanya

      Hapus
  7. sejarah2 penting seperti ini perlu diangkat lagi ya, sayang banget kalo bangsa kita 'salah' mengenali para pahlawan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Rasanya miris lho saat saya bertanya ke anak perempuan Sunda usia SMA di Bandung malah lebih kenal Kartini dan bahkan hanya tahu bahwa Dewi Sartika itu pahlawan perempuan dan dia tidak tahu bahwa Dewi Sartika berasal dari Priangan (>_<)

      Hapus