Senin, 19 Agustus 2013

The Book of Tomorrow



Penulis                 : Cecelia Ahern
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan               : pertama, Juli 2013
Jumlah hal.         : 477 halaman
Penerjemah       : Nurkinanti Laraskusuma

Sudah menjadi penyakit saya untuk membeli novel yang bercerita tentang buku atau perpustakaan. Penyakit ini masih tergolong baru. Baru beberapa bulan terakhir saya seperti tergila-gila pada hal yang berbau buku dan perpustakaan.  Buku-buku yang menyebabkannya adalah “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken” dan buku “Libri di Luca”. Maka ketika membaca sinopsis buku ini saya pun tertarik untuk membelinya. Ini adalah buku pertama yang saya beli di bulan Agustus ini dengan bermodalkan  THR yang tidak seberapa.

The Book of Tomorrow menceritakan tentang kehidupan Tamara Goodwin, seorang remaja berusia 16 tahun, yang hidupnya seketika berubah karena kematian sang Ayah. Ayahnya memilih mengakhiri hidup di ruang kerjanya dengan sebotol pil dan wiski akibat terlilit utang. Dengan itu sang Ayah pun mengakhiri kemewahan hidup yang selama  ia nikmati. Rumah dan sejumlah hunian di luar negeri ikut disita oleh Bank hingga akhirnya dia harus menumpang untuk tinggal di sebuah wilayah bernama Kinley yang bahkan tidak ditemukan dalam GPS.

Hidup Tamara yang benar-benar berlimpah selama 16 tahun membuat dia lebih sering bertindak sesukanya. Ia mengucapkan apa pun yang ingin diucapkannya. Melakukan apa pun yang dia inginkan sebab itulah yang diizinkan oleh orang tuanya. Mereka memberi Tamara kebebasan dan melimpahinya dengan liburan dan barang-barang mahal. Sikap ini pun benar-benar tidak membantu Tamara melewati hari yang sangat membosankan. Teman-teman lamanya yakni Zoey dan Laura tidak membantu sama sekali. Ia bahkan merasa bahwa mereka tidak (atau dirinya) tidak lagi cocok dalam pergaulan yang ia tinggalkan di Dublin.


Hingga suatu hari datanglah perpustakaan keliling ke desa tempat tinggalnya. Ia berkenalan dengan pria yang mengemudikan van perpustakaan keliling tersebut, Marcus. Dan dari sana ia tanpa senagja menemukan sebuah buku yang tergembok. Namun ketika ia berhasil membuka gembok tersebut, dengan bantuan Suster Igantius, ia bingung mendapati bahwa buku tersebut ternyata kosong. Ia cukup kesal saat mengetahuinya. Namun beberapa hari kemudian ia menemukan bahwa buku tersebut menulis sendiri. Ya, muncul tulisan yang ia kenali sebagian tulisannya yang rapi. Namun ia tidak merasa telah menulis di dalam buku tersebut. Dan hebatnya buku itu menuliskannya dengan menggunakan tanggal esok hari. Dan benar-benar menuliskan hal-hal yang akan terjadi keesokan harinya.

Akhirnya buku ini menjadi awal bagi Tamara untuk menelusuri sebuah hal misterius yang terjadi di keluarganya. Banyak keanehan yang ia temui. Mulai dari pamannya Arthur yang jarang berbicara serta bibinya Roseleen yang bertingkah aneh. Roseleen selalu berusaha mengurusi semua orang. Namun khususnya untuk Tamara ia seolah selalu mengawasinya. Bahkan Tamara merasa bahwa Roseleen tidak pernah membiarkannya berduaan dengan pamannya. Entah apa yang disembunyikan di rumah itu. Ia dilarang untuk turun ke gudang dan tidak dibiarkan menengok ibu Roseleen yang tinggal di seberang jalan rumah mereka.

Selain itu ia pun berkenalan dengan Weseley yang membantunya menghadapi beberapa hal yang ditakutinya. Ayah Weseley adalah seorang dokter dan Weseley adalah pekerja upahan Arthur.  Weseley menemani Tamara melihat gudang dan rumah di seberang jalan. Dan Weseley mungkin satu-satunya orang yang mempercayai cerita Tamara tentang buku diary yang aneh tersebut.

Namun, keanehan diary itu tidak seburuk misteri yang tersimpan di dalam keluarganya. Semua itu  semakin membuat Tamara frustasi. Hingga satu persatu bukti itu muncul. Namun pada akhirnya kita akan bertanya-tanya apakah sebenarnya semua yang dialami dan dilakukan Tamara adalah bentuk dari kegilaan akibat duka yang ia rasakan? Ataukah memang benar adanya?

Sejujurnya tokoh utama yang berusia 16 tahun ini tidak berarti bahwa buku ini diperuntukkan untuk remaja sebab konflik yang diceritakan oleh penulis terlalu kompleks untuk dicerna oleh remaja. Itulah sebabnya buku terbitan Gramedia ini tidak dilabeli sebagai novel teenlit. Selain itu jika saya membandingkan buku ini dengan P.S I love you, karya Cecelia Ahern yang lain, maka cerita di dalamnya masih agak membosankan. Hal ini jelas subyektif. Saya adalah pembaca yang tidak begitu suka dengan detail deskripsi pemandangan yang terlalu panjang. Sedangkan dalam buku ini detail seperti ini sangat sering ditulis.

Tapi dari segi olahan konflik dan ketegangan maka penulis berhak di beri acungan jempol. Saat satu persatu fakta terhubung dengan cerita dalam buku harian itu hingga menuntut Tamara untuk berani mengambil keputusan, maka rasa ingin tahu pembaca pun ikut meningkat. Ketegangan sesekali memuncak sebab pembaca jadi bertanya-tanya bagaimana jika Tamara melakukannya berbeda dengan yang tertulis di buku harian? Atau apakah seharusnya dia bertindak seperti yang tertulis agar ceritanya tidak lagi membingungkan? Semua ini berhasil dioleh dengan baik oleh penulis.

Jadi, jika harus memberi nilai pada buku ini maka saya memberinya nilai 8 (dengan memperhitungkan sampulnya yang simple tapi manis) (^_^)v

Quote:
“Kau lebih suka diberi kehidupan yang sudah dijalani juga, Tamara? Dengan begitu kau bisa duduk berpangku tangan dan menontonnya. Atau kau lebih suka menjalaninya sendiri?”

“Kupikir kebanyakan orang masuk ke toko buku tanpa gagasan sama sekali apa yang ingin mereka beli. Entah bagaimana, buku-buku itu duduk di sana, hampir secara ajaib menggerakkan orang untuk meraihnya. Orang yang tepat untuk buku yang tepat. Seakan-akan mereka tahu mereka perlu menjadi bagian dari hidup siapa, bagaimana mereka bisa membuat perbedaan, bagaimana mereka dapat mengajari, menyunggingkan senyuman di sebuah wajah pada saat yang tepat. Aku sekali berbeda sekarang.”memandang buku dengan sudut pandang yang sama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar