Selasa, 27 Agustus 2013

Stasiun




Penulis : Cynthia Febrina
Penerbit : PlotPoint Publishing
Cetakan : Pertama, Mei 2013
Jumlah hal.: 171 + viii
ISBN : 978-602-9481-36-5

Buku ini sudah membuat saya tertarik beberapa kali di toko buku dan akhirnya saya pun membeli buku ini pada bulan Agustus berbekal THR yang saya dapat dari keluarga. Saya tertarik dengan covernya yang menarik. Selain itu saya merasa bahwa cerita ini terasa lebih akrab oleh saya karena saya pribadi pun pernah mengalami perjalanan menggunakan kereta ekonomi dan Commuter Line.

Buku ini mengambil sudut pandang orang pertama namun dalam kacamata dua orang tokoh utama yakni Adinda dan Ryan. Keduanya punya latar belakang yang berbeda. Adinda adalah pendatang baru dalam “Survival di dunia perkeretaan” sedangkan Ryan adalah “anak kereta” sejati.


Adinda orang yang kesulitan menikmati perjuangan yang harus dia lakukan setiap hari untuk ke kantor menggunakan kereta. Ia lebih suka menggunakan Commuter Line daripada kereta ekonomi. Ia tidak tahan jika harus menghadapi suasana di kereta ekonomi yang penuh sesak dan dengan berbagai semerbak bau-bauan yang menyeruak di dalamnya. Apalagi kegiatan naik kereta ini baru sebulan dia jalani karena tidak ada lagi Rangga yang mengantar jemputnya setiap hari. Rangga adalah mantan pacar sekaligus mantan tunangannya. Kondisi ini jelas semakin memberatkan Adinda untuk menikmati setiap fragmen yang terjadi di depan matanya saat berada di stasiun ataupun kereta.

Berbeda dengan Adinda, Ryan sudah bertahun-tahun menggunakan kereta. Ia bahkan sudah akrab dengan stasiun kereta Bogor sejak ia kecil. Kita akan tahu bahwa cerita hidup Ryan tidak bisa dari dilepaskan dari stasiun dan kereta api. Salah satu kisah pilu hidupnya pun berlatarkan stasiun Bogor. Ryan pun sudah kenal akrab dengan sejumlah orang yang mencari penghidupan di sekitar stasiun tersebut. Hingga suatu hari salah satu orang yang ia kenal dan sudah akrab bak sahabat berpulang. Dan sebelum meninggal orang tersebut memintanya mengejar kebahagiaannya. Ini mungkin ada hubungannya dengan status jomblo yang sudah lama ia sandang. Padahal di usianya sudah banyak teman-teman yang sudah menikah dan punya momongan, sedangkan ia punya pacara saja tidak.

Kehidupan kedua orang ini bertemu di stasiun Bogor. Bertemu dengan tidak sengaja atau bahkan pertemuan keduanya sudah di atur oleh Tuhan di waktu yang tepat. Lantas akankah Ryan akan menjadi pengobat kekecewaan Adinda atas cintanya yang kandas?

Jujur buku ini menurut saya sangat menarik. Ada banyak fragmen kehidupan yang disajikan dengan sangat real dan bahkan mungkin saja pernah kita alami. Latar tempat dan suasananya yang sangat “membumi” pun membuat novel ini semakin enak dibaca. Jempol buat penulisnya.

Kalau harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya akan memberinya nilai 8. Karena ceritanya yang saya sukai, cover dan pembatas bukunya pun unik (^_^)v

4 komentar:

  1. Beberapa buku terbitan plot point emang covernya menggoda :D Dan buku ini meskipun ngga jauh dari kehidupan sehari-hari, sepertinya cukup unik ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Menyenangkan baca buku yang nggak jauh dri kehidupan sehari-hari kita. Jadi berasa lebih nyata. (^_^)

      Hapus
  2. Hmm, kayaknya cuma aku aja ya yang emang gak bisa menikmati pesan-pesan sosial yang ada? (._.)v

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha..ha.. kan karakter tiap orang beda, Aul.
      Saya krn beberapa yg dia ceritakan mirip dengan apa yang saya amati waktu dulu ikut ngerasain jadi pengguna Commuter Line
      Nah Aul di suasana yang lain mgkin lebih sensitif daripada saya..
      (^_^)v

      *sok menganalisis*

      Hapus