Jumat, 23 Agustus 2013

Scene on Three (2)

"aku takut, Pak." Akhirnya Lahang berkata. Pelan sekali.
Bapaknya tak langsung menjawab. Dia tercenung, seperti melamun. Mereka berdua diam. Lama sekali.
 "aku tahu." Bapak menyahut. "Tapi, suka atau tidak, ajalku akan datang. Bisa karena penyakit ini, bisa juga karena yang lain."
Lahang menunduk.
"Berapa pun waktu yang diberikan, ta seharusnya dihabiskan dengan ketakutan," sambung bapaknya lembut, "karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian."
Lahang menelan liurnya. Kerongkongannya tercekat.
"Aku masih hidup, Lahang," ucap bapaknya, lebih tegas kali ini, "kau juga masih hidup. Maka hiduplah. Jangan seperti orang mati."
Dia berdiri, pelan-pelan sekali. Kemudian, berbalik tanpa berkata lagi.

Itu adalah sepenggal kejadian yang diceritakan dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora (resensinya baca di sini). Bagian ini saya baca saat berada di pesawat yang bertolak dari Makassar menuju Cengkareng. Saat membacanya saya harus menguatkan diri agar air mata saya tidak jatuh dan membuat bingung penumpang yang duduk di samping saya.
Air mata itu menggenang karena saya ikut membayangkan perasaan Lahang yang harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tengah sakit keras. Di saat yang sama dia pun harus berusaha untuk mengejar impiannya bersama seluruh tim dan staff Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Mengingat bahwa ia dan tim Marching Band-nya akan berlaga di Jakarta, maka ia menyimpan ketakutan bahwa sang ayah akan meninggalkannya saat dia tak ada di sisi beliau.
Namun ayahnya adalah seorang pria yang bijak. Ia tidak ingin menjadi penghalang impian anaknya. Ia mengingatkan anaknya untuk berani dalam menghadapi hidupnya. Dan ia menolak untuk membiarkan anaknya mengorbankan impian demi dirinya. Ah, sulit menjelaskannya. Perasaan haru yang saya rasakan hanya akan bisa dirasa secara utuh saat membaca seluruh novelnya.
Mau ikut  Scene on Three juga?? ini rulenya :

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

4 komentar:

  1. Terkadang kita sendiri yg menciptakan 'kematian' itu, kita lupa kalau selagi masih ada waktu, harus 'hidup' semaksimal mungkin :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. he..he.. jadi mengharu biru dan ber-wise ria :D
      tapi emang cerita di bukunya bikin pengen nangis sih (-_-")
      yah genrenya jadi semacam laskar pelangi tapi dengan cara bercerita yang lebih mudah dicerna. Gak banyak deskrpsi yang (saya) rasa mengganggu.

      Hapus
  2. selalu mewek kalau ada adegan family drama.
    Adegan cinta atau romantis aja aku gak pernah mewek. Giliran keluarga aja, gimana yah, soalnya mantan pacar/istri/suami ada, tapi kan ngga ada mantan keluarga.

    BTW BG-nya bagus, seperti warna teraacota

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha..ha.. setuju..
      berarti suka baca Jodi Picoult donk, mbak (^_^)v

      Hapus