Rabu, 21 Agustus 2013

Marginalia: Catatan Cinta di Pinggir Hati




Penulis                 : Dyah Rinni
Penerbit              : Qanita
Cetakan               : I, Februari 2013
Jumlah hal.         : 304 halaman

Pengejaran saya atas novel-novel pemenang Lomba Penulisan Romance Qanita masih terus berlanjut. Setelah memulainya dengan membaca Macaroon Love. Pengejaran saya berlanjut ke Seven Days dan kini Marginalia. Harus saya akui bahwa kualitas-kualitas cerita roman yang menjadi pemenang lomba ini memang bagus. Saya jadi kasihan pada jurinya yang pasti kebingungan dalam menetapkan pemenang.

Marginalia adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah kegiatan membuat catatan pinggir. Setelah mengetahui makna kata ini, maka kita bisa menebak bahwa konflik yang terjadi dalam novel ini pastilah ada hubungannya dengan catatan pinggir yang dibuat oleh pembaca pada sebuah buku.


Kisah ini berputar dalam kehidupan dua tokoh yakni Drupadi dan Aruna. Semua bermula dari Marginalia yang dibuat oleh Drupadi dengan terpaksa. Marginalia itu ia tulis demi memperoleh kesepakatan dengan pemilik Kafe Marginalia, sebab ia berusaha melobi agar Wedding Organizer yang ia kelola bisa menggunakan tempat itu sebagai venue. Ini semua karena keinginan sepupunya yang sekaligus musuh utamanya, Inez. Seandainya bukan karena Luna Nueva, Wedding Organizer milik Drupadi, membutuhkan Inez dan teman-temannya sebagai klien maka ia tidak akan mau terus menerus mengikuti semua keinginan Inez yang sangat hobi menggonta-ganti planing.

Namun ternyata Marginalia yang dibuat Drupadi membuat seseorang marah. Aruna, vokalis band rock Lescar, marah atas Marginalia singkat yang dibuat Drupadi. Drupadi menulis “Cengeng!” di dalam buku kumpulan puisi Rumi. Buku itu bukan buku biasa bagi Aruna. Buku ini berisi kenangan tentang ia dan Padma, kekasihnya yang setahun lalu meninggal dunia. Seandainya buku itu tidak menyimpan kenangan sedalam itu, maka marginalia Drupadi tidak akan dirisaukannya. Akhirnya terjadilah perang Marginalia di antara keduanya.

Hingga akhirnya mereka bertemu dan Aruna jatuh hati pada Drupadi. Namun sayangnya hati Drupadi telah beku. Ia tidak lagi percaya pada cinta. Ia tidak percaya pada keajaiban. Karenya ia pun menolak ketertarikan yang terjadi antara dirinya dan Aruna. di tengah pusaran perasaan di antara keduanya, hadir masa lalu mereka berdua yang membuat kebersamaan mereka semakin sulit terjadi. Konflik meluas hingga pertikaian Drupadi dan Inez ikut memperburuk kondisi.

Lantas sanggupkah Aruna meyakinkan Drupadi? Bisakah luka Drupadi terobati? Akankah Drupadi memberi kesempatan bagi perasaannya dan perasaan Aruna untuk berkembang? Konflik di dalam novel ini menarik untuk diikuti. Tokoh Padma hanya mampir sejenak di dalam novel ini. Padma menjadi kunci awal bagi pertemuan Drupadi dan Aruna.

Buku ini mencoba menceritakan bahwa ada sebab-akibat dalam sebuah kejadian. Tidak ada kejadian tunggal. Sesuatu hal yang terjadi pasti mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kejadian lainnya. Dan di tengah lingkaran kejadian itu, sebuah keajaiban mungkin saja terjadi. Ini mirip dengan nilai yang berusaha diceritakan dalam buku The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom.

Nah, kalau harus memberi nilai pada buku ini pada saya memberinya nilai 8 karena didukung pula oleh sampul buku yang menarik dan lucu. Selain itu bentuknya yang kecil jauh lebih mudah untuk dibawa-bawa (^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar