Kamis, 15 Agustus 2013

12 Menit


Penulis : Oka Aurora
 Penerbit: Noura Books
Cetakan: Pertama, Mei 2013
Jumlah hal. : 343 halaman




Untuk pertama kalinya sejak membuat blog ini saya memberi nilai di atas 8,5 untuk sebuah buku yang ditulis oleh penulis Indonesia. walau sejujurnya, cover buku ini menurut saya kurang menarik. Warnanya terlalu gelap. Kurang cerah. Kurang merepresentasikan apa yang disajikan dalam cerita ini. Hal ini sempat mempengaruhi minat saya untuk membaca buku ini.

Bahkan jujur di awal membaca novel ini pun saya sempat merasa bosan. Membuat perhatian saya teralih ke novel lain. Dan kini setelah berhasil menamatkannya dalam waktu 3 jam di sela perjalanan kembali ke Bandung setelah mudik lebaran di Majene, maka saya harus mengakui bahwa kali ini saya ditemani oleh salah satu teman seperjalanan terbaik yang pernah saya punya.

Novel ini dibuka dengan situasi latihan marching band disertai berbagai istilah yang sangat asing bagi saya. Tapi ini salah satu kesenangan yang saya temukan dalam membaca yaitu mendapat ilmu baru yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Nah, setelah itu menyusul deskripsi beberapa anggota marching band. Perlu diingat, dalam novel ini penulis menggunakan kata ganti orang ketiga sehingga tokoh yang bisa dieksplorasi hidup, pikiran dan sudut pandangnya menjadi lebih banyak. Hal ini jelas bisa menjadi keuntungan sekaligus menjadi petaka jika penulis tidak mampu mengolahnya dengan baik.


Ada beberapa tokoh yang menjadi fokus dalam novel ini. Ada Rene, pelatih baru Marching Band Bontang Pupuk Kaltim yang memiliki karakter kuat dan dominan. Ia tegas, keras kepala, dan pantang menyerah. Ia sudah sangat lama menghabiskan waktunya di dunia Marching Band, bahkan di Amerika ia sempat bergabung dengan salah satu marching band profesional berskala internasional. Namun, tantangan yang ia hadapi di Bontang tidak mudah. Dengan karakter dan kebudayaan yang berbeda dari Jakarta, Bontang menghadirkan kesulitan tersendiri bagi Rene untuk membuat semua orang punya percaya diri, bahwa dari mana pun asal mereka, mereka bisa menang. Rene harus mampu menyesuaikan diri dengan pribadi dan karakter yang berbeda yang dimiliki oleh pemain dan staff Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.

Ada pula Elaine, anak tunggal yang ikut pindah dari Jakarta ke Bontang untuk mengikuti sang ayah yang dipindah tugaskan ke Bontang. Ia meninggalkan zona nyamannya dan akhirnya menemukan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim sebagai dunianya yang baru.ia meninggalkan teman-temannya, klub musik yang dicintainya. Syukurlah perhatian ibunya dapat membantunya menghadapi semua tantangan dalam proses adaptasi yang dijalani Elaine. Namun, ketika ia menemumakan mimpi baru bersama Marching Band Bontang Pupuk Kaltim, ia pun menyadari  bahwa mimpi tidaklah mudah untuk diraih.

Selain Rene dan Elaine ada pula Tara. Kehidupan Tara mengajarkan kita tentang bahwa terkadang hidup kita yang tadinya baik-baik saja bisa tiba-tiba terbalik dan menjadi sangat susah dijalani. Tara yang harus kehilangan pendengaran sekaligus Ayahnya dalam sebuah kecelakaan. Setahun kemudian dia harus rela berpisah dari ibunya yang berhasil memperoleh beasiswa ke Inggris. Ia pun tinggal bersama Opa-Omanya di Bontang. Namun sejak kecelakaan itu Tara bukan lagi Tara yang dulu. Ia yang pering menjadi tertutup dan emosional. Namun ia akhirnya mencoba untuk menata kembali hidupnya dan bergabung dengan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. 

Lain Tere lain pula Lahang. Lahang adalah bagian dari color guards tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Lahang, anak Dayak yang hidup berdua dengan sang ayah sejak ibunya meninggal. Ia menyimpan sesal terkait kematian ibunya. Dan kini sang ayah menderita sakit parah. Lantas sanggupkah ia membagi dirinya di antara dunia tarian yang ia cintai dengan keinginannya untuk selalu menjaga sang Ayah? 

Satu persatu masalah dalam kehidupan tokoh-tokoh ini pun dikuak oleh penulis. diceritakan bahwa latihan yang keras membuat Tara tertekan. Ia pun berfikir untuk menyerah. Dan di lain pihak dia masih menyimpan rasa bersalah atas kematian sang ayah. Ia pun merasa bahwa latihan Marching Band sangat berat terutama bagi dia yang pendengarannya sudah hilang. Dan ia harus bertarung dengan dirinya sendiri. Bertarung melawan keterbatasannya dan luka hatinya. Namun benarkah keputusannya untuk berhenti? Itukah yang terbaik untuknya?

Elaine, hidupnya nyaris sempurna. Cerdas, cantik dan berbakat. Namun apa semua kelebihan itu membuat mimpi serta merta menjadi mudah di raih. Butuh keberanian untuk meraih impian. Dan ternyata tantangan itu datang dari sang Ayah. Ayahnya tidak setuju jika Elaine aktif di Marching Band. Ia ingin Elaine jadi ilmuwan. Maka kisah Elaine mungkin juga adalah kisah dari kehidupan kita saat impian kita harus terbentur dengan impian orang tua, harapan mereka, dan apa yang mereka pikir terbaik untuk kita.

Semua masalah ini pada akhirnya mempengaruhi penampilan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Mampukah mereka tampil di Grand Prinx Marching Band (GPMB) yang diadakan setiap tahun? Siapkah mereka? Mampukah Rene membawa timnya tampil memukau di Jakarta? Mampukah mereka mengejar mimpi di bawah atap yang sama, di bawah naungan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim?

Buku ini akan membawa emosi kita untuk memandang masalah yang bisa muncul dalam sebuah kelompok. Sekelompok orang yang tengah memperjuangkan mimpinya, membuktikan diri, dan berusaha membanggakan orang-orang terkasih. Kita akan bisa meresapi beban yang ditanggung seorang Lahang saat berjuang meraih impiannya. Dan saya pun menangis bersama Elaine yang terjebak diantara baktinya pada sang Ayah dan mimpinya tampil bersama Marching Band. Saya pun belajar memahami pikiran-pikiran seorang Tara yang awalnya memiliki indra yang sempurna dan hidup yang normal namun kemudian harus menerima hidup yang berbeda saat salah satu indranya tak lagi berfungsi dengan baik.

Dari segi kekuatan cerita harus saya beri dua jempol. Mungkin untuk cetakan berikutnya, sampulnya bisa didesain lebih menarik. Dengan begitu novel ini akan semakin menarik perhatian dan akan semakin banyak orang yang bisa terinspirasi oleh cerita ini.

Untuk setting tempat, maka membaca buku ini akan menambah khasanah kita tentang satu lagi daerah di Indonesia beserta budaya dan ke-bhineka-an yang melingkupinya. Ya, kota Bontang mungkin masih asing bagi beberapa orang. Namun tidak begitu asing bagi saya yang pernah tinggal di Kalimantan Timur. Dan kembali saya harus mengacungi jempol untuk dialog yang dituliskan dalam buku ini. Dialognya menggunakan logat yang memang digunakan di Kalimantan. Maka saya cukup yakin bahwa penulis tidak hanya melakukan riset tentang Marching Band Pupuk Kaltim ini tapi juga melakukan riset tentang budaya dan kondisi masyarakat di Bontang.

Ah, bangga saya pada penulis Indonesia yang bisa menulis sebagus ini. :) 

Nah, jika harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8,75. Kelak mungkin bisa jadi 9 jika sampulnya dibuat lebih menarik. He..he.. (^_^)v



Quote:

Keberuntungan adalah kesiapan dalam kesempatan. Kesempatan sebenarnya selalu ada, tetapi hanya orang2 yg siap jasmani dan rohani yg bisa cpat mendeteksi kesempatan.

Betapa musik bisa lebih halus berkata, sekaligus lantang bermaksud.

2 komentar:

  1. wah ini musti dibaca nih, ratingnya tinggi euy. awalnya saya kira ini cerita horror(liat covernya) tapi kemudian ada gambar alat musik ternyata ya klo diperhatikan. ceritanya kayaknya mirip2 laskar pelangi gitu ya, atau mungkin 5 menara, diakhiri dengan klimaks pertunjukan. cerita2 semacam ini memang bikin greget dan penasaran, walaupun sebenarnya kita tahu pasti endingnya para tokohnya berhasil semua (eh iya gak sih?). kayaknya bagus ya,, pengen baca (pengen baca mulu ya, tp gak pengen beli *longok dompet)

    BalasHapus
  2. Jadi pengin baca 12 menit! Gara-gara review Mbak Atria makin memantapkan hati masukin ini novel ke tas buku xD 2 jempol buat review Mbak Atria yang always cetar dan mendetail xD

    BalasHapus