Jumat, 26 Juli 2013

Unforgettable




Penulis                 : Winna Efendi

Penerbit              : Gagas Media

Cetakan               : Pertama, 2012

Jumlah hal.         : 173 halaman

Dengan setting sebuah Kedai Wine bernama “Muse”, dua tokoh dengan jenis kelamin, sifat dan pembawaan yang berbeda dipertemukan. Dengan menjadikan nama-nama wine sebagai judul tiap babnya, novel ini memberikan pengetahuan singkat tentang wine. Sejujurnya pengetahuan tentang wine adalah salah satu hal yang tidak banyak saya ketahui. Dan tidak membuat saya tertarik. Mungkin nilai yang saya anut sebagai muslim membuat saya memfilter banyak hal termasuk tentang pengetahuan yang perlu dan tidak perlu saya ketahui.

Novel ini bercerita dengan gaya bernarasi. Agak sulit membedakan antara dialog dan deskripsi yang digunakan pencerita. Sudut pandang novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga. Orang yang memandang kejadian di luar kejadia tersebut. Dialog yang sedikit digabung dengan narasi yang padat.

Sejujurnya saya adalah pembaca yang menghindari cerita yang dituliskan denga bernarasi oleh penulisnya. Saya adalah pembaca yang mudah bosan. Deskripsi dan narasi membuat rasa bosan itu semakin memuncak dan menjadi rasa kantuk yang membuat mata enggan membuka dan meneruskan bacaan.

Secara ide, buku ini cukup menarik yakni tentang tokoh wanita yang pendiam dan lebih suka menjadi invisible person. Sang tokoh pria adalah sosok yang tengah bosan pada kehidupannya. Minum wine  di kedai Muse menjadi sebuah pelarian dari hiruk pikuk hidupnya. Mereka memandang berbagai hal dengan cara yang berbeda. Tentang cinta, tentang kenangan, tentang masa lalu.

Hingga akhirnya cinta muncul di antara keduanya. Namun bukankah tidak semua akhir sempurna dari cinta adalah duduk berdampingan di atas pelaminan? Bahkan saling melepaskan pun bisa menjadi penutup cerita yang paling benar? Hm.. who knows

Kalau dari sampul sih tergolong menarik, sinopsis cerita yang juga menggugah khas terbitan Gagas Media juga menambah nilai lebih untuk buku ini. Namun sayang cara berceritanya membuat saya mengantuk dan menjadi tidak begitu tertarik untuk menamatkannya. Akhirnya novel ini selesai dengan tertatih-tatih dan tanpa kenikmatan-kenikmatan dari membaca sebuah buku yang menggugah hati. Tapi persoalan cara bercerita ini menjadi hak masing-masing pembaca. Saya mungkin tidak bisa menikmatinya, tapi ada pembacanya yang mungkin malah mencintai cerita yang naratif itu. (^_^)

Jadi, jika harus memberi nilai dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 7 (^_^)

Quote   :
“Terkadang, orang dewasa seperti seonggok badan tak berjiwa. Semakin dewasa seseorang, semakin pudar jiwanya, menjadi robot yang berkutat dengan rutinitas”

“Lelaki itu berbicara mengenai pulang. Pulang, baginya adalah untuk meninggalkan bekas kemenangan pada peta di kamarnya. Rumah adalah tempat yang didatang, untuk kembali ditinggalkan.”

“Seseorang pernah berkata..., kita tidak akan pernah benar-benar berhenti mencintai seseorang. Kita hanya belajar untuk hidup tanpa mereka.”

“...mereka adalah dua orang yang tepat, yang bertemu pada waktu yang salah”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar