Rabu, 31 Juli 2013

Seven Days : Tujuh Hari Bersamamu




 Penulis             : Rhein Fathia
Penerbit         : Qanita
Cetakan          : Pertama, Februari 2013
Jumlah hal.     : 294 halaman

Saya membeli buku ini karena suka dengan cerita Macaroon Love yang telah saya baca sebelumnya. Akhirnya saya tertarik untuk membeli buku-buku yang memenangi Lomba Penulisan Romance Qanita. Saya pun mendatangi salah satu toko buku di Bandung dan cukup kesulitan menemukan rak buku yang memajang novel terbitan Qanita. Tapi syukurlah sambil menikmati jajaran buku-buku di rak-raknya saya berhasil menemukan buku ini.

Membaca Seven Days, maka bagian Prelude nya sungguh membuat kita bisa menebak alur ceritanya. Ya,  ide buku ini benar-benar umum dan sudah banyak dituliskan dalam novel-novel lain. Cerita tentang persahabatan yang berbeda jenis kelamin dan telah terjalin sejak kanak-kanak sudah tentu bukan hal yang baru bagi para penikmat fiksi. Ditambah lagi kehadiran seorang kekasih dari kedua sahabat tersebut. Ide yang sangat umum, pikirku. Pertanyaanya adalah, “Kenapa karya ini berhasil menjadi juara pertama di lomba tersebut?”

Maka saya pun melanjutkan membacanya. Harus saya akui antusiasme tokoh Nilam ketika menginjakkan kaki pertama kali di Bali benar-benar terasa dari deskripsi yang dituangkan oleh penulis. Kita seolah bisa ikut merasakan dan melihat melalui mata dan hati seorang Nilam. Dengan ditemani Shen, sahabat Nilam sejak kecil, ia pun berpetualang di Pulau Dewata itu. Kehadiran Shen-lah yang membuat petualangan itu semakin menyenangkan.

Shen adalah sahabat Nilam sejak kecil. Shen yang sangat efisien dan cenderung cepat dalam bertindak sebenarnya membuat Nilam terkadang agak kepayahan. Shen-lah yang mengusulkan acara liburan ke Bali. Shen-lah yang mengurus segala keperluan terkait liburan itu mulai dari beli tiket, booking hotel, izin ke mama bahkan izin ke Reza. Ya, Reza adalah kekasih Nilam selama 3 tahun terakhir. Bahkan Reza baru saja melamar Nilam. Namun sampai keberangkatannya untuk berlibur pun, Nilam masih belum memberi Reza jawaban. Ada yang terasa mengganjal di batin Nilam.

Maka ketika petualangannya selama 7 hari bersama Shen, Nilam menemukan banyak hal baru. Selain karena ia baru pertama kali datang ke Bali, tapi ia juga merasa ini seperti sebuah pengalaman yang kelak akan sulit dia lakukan bersama Shen lagi jika ia sudah menikah dengan Reza. Maka dengan semangat menggebu Nilam mengeksplorasi Bali. Menikmati pemandangan alam, menemui lingkungan yang berbeda dari kota Jakarta karena penduduk yang ramah dan lalu lintas yang teratur, hingga belajar menyembuhkan ketakutannya pada anjing.

Namun selama 7 hari itu pula Nilam bolak-balik mempertanyakan perasaannya pada Shen. Cintakah? Sayang bak saudara kah? Apakah Shen mencintainya? Nilam kebingungan dengan sikap Shen yang berubah-ubah. Kadang Shen terasa lebih perhatian, kadang biasa saja, dan bahkan terkadang cuek. Ini mengganggu Nilam. Di lain pihak ia pun mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah dia sudah bertindak tidak setia pada Reza?

Di novel ini kita akan sibuk menebak-nebak. Apa yang terjadi selanjutnya? Cintakah Nilam pada Shen? Cintakah Shen pada Nilam? Siapa yang akan Nilam pilih? Ya, konflik seputar itu. Tapi di samping itu, kita akan disuguhi deskripsi tempat-tempat wisata di Bali yang mungkin bisa jadi referensi bagi yang belum pernah ke Bali atau ke tempat-tempat yang ia sebutkan.

Dari segu sampul sih sudah menarik. Ukurannya juga lebih ramah untuk dibawa ke mana-mana. Layout tulisannya pun bagus dan tidak menyulitkan pembaca. Jadi, jika harus memberi nilai pada buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8 (^_^)

Oiya, kalau mau intip salah satu scene di dalam novel ini bisa di baca di sini.

1 komentar:

  1. Pertanyaan itu juga muncul di benak saya. 'Trus apa yang beda dari buku bertema teman tapi cinya yang lain?' Dan pertanyaan ini Sampai akhir buku pun belum terjawab

    BalasHapus