Selasa, 16 Juli 2013

Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe)




Penulis                 : Haryoto Kunto
Penerbit              : Granesia
Cetakan               : Pertama 1996
Jumlah hal.         : 114 halaman

Buku Ramadhan di Priangan ini adalah salah satu bacaan yang menarik untuk menghabiskan waktu menanti waktu berbuka puasa tiba. Meskipun membahas sejarah dan hal-hal berbau tempo doeloe, buku ini ditulis menggunakan bahasa tutur sehingga lebih mudah dipahami. Menyenangkan membaca suasana Ramadhan masa lalu yang pasti sudah banyak berbeda.

Masyarakat Bandung benar-benar membuat “sambutan” khusus untuk bulan Ramadhan ini. Diceritakan fenomena yang tidak mungkin lagi dirasakan oleh masyarakat Bandung masa kini. Salah satunya adalah cerita bahwa dulu bunyi kentongan Mesjid Agung Bandung bisa terdengar sampai ke wilayah Bandung Utara seperti wilayah Dago Simpang, Mentos (Jl.Siliwangi sekarnag), Terpedo (Wastukencana). Fenomena ini tidak akan lagi bisa terulang sebab meskipun kentongan sudah diganti dengan pengeras suara, tetap saja bunyi dari Masjid Agung tersebut tidak akan terdengar lagi ke wilayah Dago. Kondisi ini bisa menjadi cermin tentang bagaimana kondisi alam dan masih sepinya Bandung hingga awal tahun 1900-an.


Selain itu, dalam buku ini akan kita baca cerita tentang suasan Bandung di bulan Ramadhan. Saat dimana malam-malam Ramadhan setiap rumah menyalakan lampu minyak di depan rumah mereka serta menyalakan obor untuk menerangi jalan dan lorong yang gelap. Padahal saat itu aliran listrik belum ada. Jalanan di malam hari masih gelap. Maka pada bulan Ramadhan jalan-jalan di Bandung menjadi terang oleh lampu-lampu yang dinyalakan oleh warga.

Warga Bandung juga menyambut Ramadhan dengan mengecat atau mengapur ulang dinding-dinding rumah. Membuat lampion-lampion dan saling bersaing dengan tetangga mengenai keindahan dan kehebatan lampion masing-masing. Sayang keriuhan macam ini tidak akan lagi dijumpai di masa kini.

Selain itu dengan membaca buku ini kita akan lebih banyak tahu mengenai sejarah Mesjid Agung Bandung dan wilayah sekitar alun-alun Bandung. Mesjid Agung Bandung memiliki catatan sejarah yang panjang dengan 7 kali renovasi yang mengubah bentuk Masjid Agung Bandung menjadi seperti sekarang. Selain itu diceritakan pula mengenai alun-alun yang sejak dulu menjadi pusat kegiatan masyarakat. Alun-alun menjadi salah satu tujuan ngabuburit warga Bandung dengan berbagai jajanan yang  dijajakan penjual.

Dalam buku ini juga tersebar berbagai info terkait jajanan tempo doeloe (perlu klarifikasi ulang sih, sebab kemungkinan besar semua jajanan itu sudah hilang atau pindah tempat). Informasi ini disisipkan pada beberapa bagian. Sempat disebut-sebut tentang soto “cipati” Abah Encim di Pasar baru, soto “Oranje” di Cibadak, dan soto di warung kecil tersembunyi di Jl. Pasundan. Informasi seperti ini mungkin menarik untuk dijelajahi ulang, mengetahui nasib makanan-makanan ini.

Membaca buku ini kita bisa tersenyum-senyum sendiri membaca polah anak-anak yang ikut meramaikan masjid di bulan Ramadhan. Kenakalannya jelas berbeda dengan kenakalan anak sekarang. Yah mereka bukan nakal hanya banyak akal..ha..ha.. (korban iklan) (^_^)v

Bagaimana tidak tertawa kalau kita akan membaca tentang anak-anak yang sukses bikin imam masjid meliuk-liuk kegelian karena ditusuk lidi oleh mereka dari celah bambu. Atau cerita anak-anak yang menukar pasangan sandal di masjid sehingga membuat tidak sedikit orang gagal menahan marah karena mengeluarkan sumpah serapah.

Oiya, pasti menyenangkan kalau menu buka puasa yang tersedia di masjid adalah nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya seperti yang diceritakan dalam BAB Sidekah dan Bayar Zakat (seketika membayangkan d(^_^)b Banyak kemeriahan bulan Ramadhan yang kini telah padam ditelan waktu. Hanya bisa dibayangkan saja. (tapi di kampung saya di Majene, Sulawesi Barat pawai masih diadakan tapi tidak dengan mengusung makanan tapi mengusung berbagai bentuk hiasan yang dibuat dari kertas minyak warna warni sambil bertakbir. Hal ini mungkin tidak akan ditemukan di kota-kota besar dengan jumlah mall yang banyak karena sebagian besar orang akan berdesakan di mall untuk mencari baju lebaran)

Gaya penceritaan Haryoto Kunto memang terkesan ringan sehingga menyenangkan untuk dibaca. Sejarah tidak harus menjadi hal yang membosankan dan serius. Namun meskipun ringan, tulisan Haryoto Kunto pun sangat informatif. Selain itu di dalam buku ini juga ditampilkan foto-foto yang menggambarkan kondisi Bandung tempo doeloe.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar