Selasa, 16 Juli 2013

Gelap Terang Hidup Kartini




Penulis                  :Tim Penulis Tempo
Penerbit              : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan               : Pertama, Juni 2013
Jumlah hal.         : 148 halaman

Seorang Raden Ajeng Kartini merupakan sosok yang banyak dikenal oleh bangsa Indonesia. Mulai dari anak-anak SD sampai generasi-generasi yang lebih tua.  Namun bentuk pengenalan yang diketahui masyarakat umum hanyalah sedikit. Mereka hanya akan berkata bahwa, “Kartini adalah pahlawan perempuan. Ia memperjuangkan hak-hak perempuan untuk memperoleh pendidikan. Menyuarakan tentang persamaan derajat perempuan dan pria,”.

Sejujurnya kalau saya ingin mendebat salah satu pernyataan tentang “Kartini adalah orang pertama yang mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi” maka ada data yang bisa dijadikan perbandingan. Seorang Raden Dewi Sartika, pahlawan perempuan dari tanah Sunda, telah lebih dulu membuat sekolah ini. Dewi Sartika tercatat telah mulai mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi sejak 1902 di halaman belakang ibunya. Sekolah itu bernama “Sakola Istri”. Sekolah yang dibuatnya ini diketahui oleh C.Den Hammer (Inspektur Pengajaran Hindia Belanda) dan sempat dicurigai mengingat latar belakang keluarga Dewi Sartika. Kemudian pada tahun 1904 Sakola Istri pindah ke halaman pendopo alun-alun.

Kalau dari segi lebih dahulu membuka sekolah, maka dari yang saya baca, Kartini baru membuka sekolahnya pada tahun 1903 dan tipenya mirip dengan Sakola Istri. Kartini membuka sekolah di beranda belakang rumah ayahnya seorang Bupati Jepara. Selain itu sekolah Kartini diisi oleh anak-anak dari gologan priyayi, sedangkan Dewi Sartika sejak awal mendirikan sekolah menolak klasifikasi seperti itu. Menurut Dewi Sartika semua perempuan berhak mendapatkan pendidikan. Untuk membaca lebih banyak tentang Dewi Sartika silahkan baca di sini.

Namun di luar itu semua, dengan membaca buku Gelap Terang Hidup Kartini ini kita akan membaca kehidupan Kartini dalam bentuk yang lebih kompleks. Kita akan disuguhkan mengenai bagaimana kecerdasan seorang Kartini berkembang dan yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran yang ia tuliskan dalam suratnya. Proses pingitan yang dijalani oleh Kartini karena tuntutan adat, menjadi penghalang bagi berkembangnya seorang Kartini tapi sekaligus menjadi titik awal bagi Kartini untuk lebih membuka wawasan. Dalam masa pingitan inilah Kartini menjadi produktif menuliskan gagasan-gagasannya kepada sahabat-sahabat penanya yang ternyata mereka bukanlah orang-orang biasa saja.


Yang menjadi sahabat pena Kartini selain istri JH Abendanon,  Rosa Manuela Abendanon-Mandri, Kartini juga bersurat-suratan dengan Marie Ovink-Soer, istri Asisten Residen Jepara yang kemudian pindah ke Jombang. Marie Ovink adalah pengarang novel remaja Belanda yang cukup dikenal dan juga seorang tokoh feminis di Belanda. Selain itu di Belanda ia memiliki sahabat pena bernama Estelle Zeehandelaar, yang disapa Kartini dengan nama “Stella”. Setella adalah pembela hak-hak perempuan dan anak. Lewat Stella dan Marie Ovink, Kartini pun mengenal dan bersurat-suratan dengan Henri Hubert van Kol, anggota parlemen partai buruh sosial-demokratik Belanda; dan istrinya, Nellie van Kol Porreij, editor Hollandsche Lelie.

Orang-orang ini bukanlah orang biasa. Mereka memiliki  pengaruh di Belanda. Itu sebabnya membuat nama Kartini lebih di kenal daripada nama pahlawan perempuan lainnya. Tapi kedekatannya dengan orang-orang Belanda ini membuat sejumlah orang pun menganggap bahwa kepahlawan Kartini adalah sebuah setting dari Hindia Belanda. Tapi terlepas dari itu, saya harus mengakui kekaguman saya pada kecerdasan seorang Kartini.

Di usia yang masih belia, ia menjadi seornag pengamat sosial yang kritis. Umurnya baru 13 tahun saat ia masuk dalam masa pingitan. Pada masa ini, Kartini mengkayakan diri dengan bacaan-bacaan sastra dan tulisan-tulisan atau artikel-artikel dari majalah “De Hollandsche Lelie” yang memberi banyak pemahaman pada Kartini tentang gerakan feminisme. Dengan pengetahuan-pengetahuan yang ia temukan dari bacaannya, Kartini pun mulai mengamati dan kemudian mengkritisi hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Tentang ketidaksetaraan anatara perempuan dan laki-laki dalam ada Jawa serta fenomena sosial lainnya. Bayangkan, pada usia 16 tahun ia mampu menulis dengan penuturan yang ilmiah tentang kejadian-kejadian sosial yang ia dapati di masyarakat sekitarnya.

Buku ini juga menceritakan lika-liku kehidupan Kartini hingga akhirnya harus "kalah" pada adat. Ia yang menentang poligami akhirnya menerima pinangan dari Bupati Rebang, Adipati Djojoadiningrat dan telah memiliki 3 istri. Dia pun tak bisa menolak pendapat orang-orang di sekitarnya dan memilih untuk membatalkan niat bersekolah ke Belanda meskipun telah mengantongi izin untuk sekolah di sana dari orang tua dan pihak Pemerintah Belanda. Kompromi yang dipilih Kartini mengecewakan sejumlah pihak yang mendukung ide-idenya. Tapi di lain pihak Kartini melakukan pengorbanan itu demi orang yang paling dia cintai, yakni ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Dalam buku ini juga kita akan menemukan cerita tentang kematian Kartini serta sepenggal cerita tentang keturunan Kartini. Satu-satunya anak yang dilahirkan Kartini bernama Raden Mas Soesalit. Ia berkiprah di dunia militer dan melepaskan jabatan Bupati yang telah ditawarkan padanya.

Melalui buku ini kita bisa belajar secara singkat dan lebih mendalam tentang kehidupan Kartini. perdebatan atau pun penjelasan tentang kepahlawan seorang Kartini. Maka dengan mengesampingkan perbandingan-perbandingan kepahlawanan dari Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Siti Aisyah We Tenriolle, Inggit Garnasih dan pahlawan-pahlawan perempuan lainnya, maka Kartini memang ikut memperjuangkan hak-hak perempuan. Pemikiran kritis di usia muda pun menjadi nilai lebih dari seorang Kartini. Sebuah contoh yang patut diteladani oleh generasi penerusnya. (Hm..saya pribadi di usia itu masih sibuk dengan hal-hal remeh dalam hidup saya..he..he..(^_^)v)

2 komentar:

  1. ada ebooknya ga sih ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya kurang tahu.
      Sebelum dijadikan buku, tulisan-tulisan ini diterbitkan oleh Majalah Tempo di edisi April 2013. Kemudian oleh Tempo diterbitkan sebagai buku.

      Mungkin bisa menghubungi pihak Tempo untuk informasi ketersediaan ebook-nya (^_^)v

      Terima kasih sudah berkunjung

      Hapus