Jumat, 26 Juli 2013

Cryring 100 Times




Penulis                 :Nakamura Kou

Penerbit              : Haru

Cetakan               : Pertama,  Juni 2013

Jumlah hal.         : 250 halaman

Buku ini adalah sebuah terjemahan dari novel Jepang berjudul 100 Kai Naku Koto yang diterjmahkan oleh Khairun Nisak. Honesty ini pertama kalinya saya membaca buku terjemahan dari Jepang dengan gendre drama ringan seperti ini. Saya membaca karya Haruki Murakami dan bagi saya buku-bukunya tidak tergolong ringan. Sedangkan gendre lain yang saya baca adalah detektif seperti “The Tokyo Zodiac Murder” dan “The Hunter”.

Namun semakin banyak lembaran yang saya baca saya semakin teringat dengan “Love Story” karya Enrich Segal yang telah saya baca sebelumnya. Ya, yang paling mirip adalah sudut pandang pria yang digunakan dalam buku ini. Bisa dikatakan 90% novel yang saya baca menggunakan sudut pandang perempuan bahkan ketika ia menggunakan metode bernarasi dan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Kenapa saya mengatakan bahwa novel-novel itu lebih banyak menggunakan sudut pandang perempuan? Hm..bagaimana menjelaskannya yah? Mungkin karena deskripsi perasaan yang terasa lebih “menggebu-gebu”. Moment-moment yang digambarkan lebih indah dengan deskripsi lebih “berbunga-bunga”. Hal ini berbeda jika menggunakan kacamata seorang pria. Pola pikirnya cenderung logis. Deskripsi atas apa yang dirasakan oleh tokoh lebih banyak diceritakan dengan lugas tidak dengan analogi yang terkesan manis atau indah.

Dari segi cerita, saya cukup menyukai cara berceritanya. Novel ini dibuka dengan kabar tentang seekor anjing bernama Book. Book adalah anjing yang dipungut oleh Fujii-kun. Fujii-kun adalah tokoh utama dalam cerita ini. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandangn orang pertama, dimana kita akan melihat semua hal melalui mata dan hati Fujii-kun. Fujii-kun mendapat kabar bahwa Book bisa saja segera mati akibat gagal ginjal yang sudah ia derita sejak setahun lalu. Ia pun berencana untuk pulang pada akhir pekan depan setelah menerima kabar tersebut.


Dengan saran dari kekasihnya, Yoshimi, ia pun berencana menggunakan sepeda motornya yang sudah 4 tahun tidak pernah ia gunakan. Book sangat menyukai bunyi sepeda motor tersebut, sehingga mereka berpikir dengan membawa motor itu Book akan semakin senang. Akhirnya setelah itu perhatian tokoh utama dialihkan ke upaya memperbaiki motor tersebut. Dalam prosesnya ia bertemu dengan Kato-san, seorang petugas di pom bensin yang dalam hati ia juluki Guru Karburator.

Akhirnya setelah motor berhasil diselesaika dan Book telah dijenguk, fokus kehidupan Fujii-san pindah ke hubungan ia dan Yoshimi. Ia telah melamar kekasihnya itu, dan mereka melakukan latihan berumahtangga selama 1 tahun untuk mempersiapkan kehidupan berumah tangga yang sebenarnya. Akhirnya Yoshimi dan Fujii-kun pun tinggal bersama. Mereka berbagi banyak hal selama tinggal bersama. Hingga akhirnya Yoshimi sakit.

Awalnya mereka berfikir sakitnya Yoshimi adalah sakit biasa saja akibat kelemahan daya tahan dan suhu yang tidak bersahabat. Akhirnya Yoshimi memutuskan untuk pulang kembali ke kampungnya untuk beristirahat sambil memeriksakan diri lebih lanjut. Namun ternyata sakit Yoshimi bukanlah sakit biasa saja. Yoshimi terkena kanker indung telur stadium III. Selama proses pengobatan Fujii-ku melatih diri untuk terus kuat dan fokus pada pekerjaannya dan membuat perencanaan untuk tetap bisa bersama kekasihnya.
Setelah itu kehidupannya benar-benar penuh tekanan. Banyak hal yang dia alami dan rasakan. Dan buku ini ditutup dengan berita kematian Book. Ternyata Book berhasil bertahan hidup selama tiga tahun sebelum mati dengan tenang. Dan dalam tiga tahun itu pun kehidupan Fujii-kun banyak berubah.

Semua bermula dari kabar bahwa Book sekarat. Sebuah sepeda motor diperbaiki untuk menjenguk Book atas saran kekasihnya. Lamaran. Tinggal bersama. Rumah sakit. Pengobatan. Pekerjaan. Dan akhirnya ditutup dengan kematian.

Hm.. sampul buku ini kurang menggugah. Warna pink lembutnya memang manis. Gambar sepeda motor dan anjing yang ada di dalam kardus pun menampilkan kesan lembut. Tapi sayang masih kurang menggugah dan mudah dilewatkan oleh pembaca saat memilih buku di rak-rak toko buku. Selain itu dari segi pembentukan emosi masih agak kurang. Mungkin karena lebih banyak berisi logika pria. Namun tetap saja bisa mem buat pembaca menitikkan air mata.

Ok, waktunya memberi nilai pada buku ini. Jika harus memberi nilai dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 7,5 (^_^)

3 komentar:

  1. Satu lagi blog yang bisa dijadikan rujukan untuk mencari buku.. REviewnya, sesuatulah,,:)
    Tria,, saya bookmark (Ctrl+D) nah blognya,, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. he..he.. alhamdulillah kalau bisa dijadikan rujukan. Tapi genre buku saya kebanyakan fiksi (^_^)v

      jangan cuma di bookmark donk.. di follow juga donk (^_^)v

      Hapus
  2. loh, kok ini spoiler abis ya -__- hihihi

    BalasHapus