Sabtu, 01 Juni 2013

Tuesdays with Morrie




Penulis                 : Mitch Albom
Penerjemah         : Alex Tri Kartjono Widodo
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan               : Kedelapan, Juli 2011
Jumlah hal.         : 209 halaman

Seperti biasa, saat membaca karya Mitch Albom saya sering kali tertatih-tatih. Bukan karena bahasanya yang berat, tapi karena tulisannya sangat berisi. Ada yang membaca benar-benar untuk mendapatkan  hiburan, jadi hanya sekedar membaca dan menikmati kesenangan membaca itu sendiri. Tapi ada juga tipe pembaca yang berusaha mengambil pelajaran dari apa yang dibaca. Nah tipe seperti ini akan cukup tertatih saat membaca karena fokusnya agak terbagi antara mengikuti alur cerita dan memaknai isi bacaannya.

Buku Mitch Albom tidaklah setebal buku-buku lain yang saya resensi sebelumnya seperti Libri diLuca atau The Hunter, tapi membutuhkan waktu yang sama lamanya dalam menyelesaikan buku ini seperti saat menyelesaikan dua buku tersebut.

Tidak banyak yang bisa saya jabarkan tentang karya Mitch Albom selain berkata bahwa, “Seperti biasa, buku Mitch Albom selalu berisi pesan untuk lebih menghargai waktu yang kita miliki”. Karya Mitch Albom yang lain seperti The Timekeeper pun mengangkat hal yang sama. Tapi dengan cara penuturan yang berbeda dan masalah yang berbeda. Keduanya pun memiliki daya tarik yang berbeda.


Tuesdays with Morrie ditulis Mitch Albom berdasarkan kisah nyatanya bersama seorang Professor yang disenangi dan dikaguminya di kampus. Ia baru bertemu kembali sang Professor enam belas tahun kemudian saat dia mengetahui bahwa sang Professor tengah menghitung waktu menuju akhir hidupnya. Ya, Professor itu bernama Morrie Schwartz.

Maka Mitch kemudian memberanikan diri mengunjungi beliau kembali setelah melanggar janji selama enam belas tahun untuk keep contact dengan Morrie yang disapanya dengan panggilan “Coach” –pelatih-. Saat itulah ia mulai menerima kuliah terakhir dari Morrie. Kembali merenungi kehidupannya tentang apa yang sudah diraihnya, tentang apa yang ia lewatkan dan berbagai hal lain tentang hidup yang dia (dan kita) abaikan karena merasa masih memiliki banyak waktu.

Salah satu bagian yang paling saya sukai adalah “Selasa Kelima: Kami Bicara Tentang Keluarga”. Hati ini rasanya ikut menghangat saat membacanya. Mengakui kebenaran yang jauh di dalam diri kita tersimpan rapat. Hal-hal yang kita akui tanpa sadar. Jauh di dalam hati kita meyakini bahwa keluarga-lah yang akan menerima kita apa adanya. Saat semua orang meninggalkan kita, mereka selalu ada di sana siap dengan serentang pelukan untuk hati yang letih dan terluka.

Ah, tidak pernah mudah menjabarkan isi buku semacam ini. Saya hanya mengajak pembaca mencoba menilai isi buku ini dari kutipan-kutipan yang akan saya tuliskan di akhir tulisan ini. Dan seperti biasa, jika harus memberi nilai pada buku ini dalam skala 1-10,  maka buku ini layak mendapatkan nilai 9 (^_^)v

Quotes :

“Menanti datangnya ajal,” tiba-tiba Morrie berkata,”hanya salah satu di antara yang patut disedihkan, Mitch. Tapi hidup tanpa kebahagiaan lebih menyedihkan. Banyak di antara orang yang mengunjungiku adalah orang yang tidak bahagia.”

“ Hidup ini merupakan rangkaian peristiwa yang menarik dan mengulur. Suatu saat kita ingin mengerjakan satu hal, padahal kita perlu mengerjakan sesuatu yang lain. Ada sesuatu yang membuat kita sakit, namun kita tahu bahwa seharusnya tidak demikian. Kita menerima hal-hal tertentu secara begitu saja, bahkan meskipun kita tahu bahwa seharusnya kita tidak pernah menikmati sesuatu secara cuma-cuma.”

“Begitu banyak orang menjalani hidup mereka tanpa makna sama sekali. Mereka seperti separuh terlelap, bahkan meskipun mereka sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang menurut mereka penting. Ini karena mereka memburu sasaran yang salah. Satu-satunya cara agar hidup menjadi bermakna adalah mengabdikan diri untuk menyayangi orang lain,  mengabdikan diri bagi masyarakat di sekitar kita, dan mengabdikan diri untuk menciptakan sesuatu yang memberi kita tujuan serta makna.”

“Yang penting dalam hidup adalah belajar cara memberikan cinta kita dan membiarkan cinta itu datang”.

“Setiap orang tahu mereka akan mati,” katanya sekali lagi, “tapi tak seorang pun percaya itu akan terjadi pada mereka sendiri. Kalau saja kita percaya, kita akan mengerjakan segala sesuatu secara berbeda.”
“begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati, itu sama dengan belajar tentang bagaimana kita harus hidup.”

“Apabila kita belajar tentang cara menghadapi maut, berarti kita belajar cara menghadapi hidup.”

“Banyak orang merasa hidup ini tidak memuaskan, ada keinginan yang tidak terpenuhi. Hidup terasa tidak bermakna. Karena kalau kita telah menemukan makna hidup, kita tidak ingin kembali. Kita ingin lanjut ke depan. Kita ingin tahu lebih banyak lagi, berbuat lebih banyak lagi. Dan kita tidak sabar menunggu sampai usia kita enam puluh lima tahu.”

6 komentar:

  1. Iya karya Mitch dalem maknanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Ini kisah nyata tapi narasinya mantap

      Hapus
  2. Aduh, makin penasaran deh. very nice review Atria :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini karena yang direview adalah "very nice book", Mbak (^_^)v

      Hapus
  3. Jauh di dalam hati kita meyakini bahwa keluarga-lah yang akan menerima kita apa adanya. Saat semua orang meninggalkan kita, mereka selalu ada di sana siap dengan serentang pelukan untuk hati yang letih dan terluka >>>> ini jg keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arti penting keluarga ini sering sekali diangkat oleh Mitch Albom dalam karya-karyanya, kak (^_^)

      Hapus