Senin, 27 Mei 2013

The Coffee Memory




Penulis                 : Riawani Elyta
Penerbit              : Bentang
Cetakan               : Pertama, Maret 2013
Tebal                     : 224 halaman

Hal pertama yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah sampul bukunya yang unik. Ya, bagi para penerbit, pastikan sampul anda cukup menarik saat tertangkap mata oleh para penikmat buku. Selain itu, bagi penggila buku yang juga mengoleksi buku, keunikan sampul sebuah buku bisa menjadi pertimbangan  yang sangat penting saat mereka ingin menambah koleksi buku. Tapi tetap saja selera itu sangat subyektif jadi belum tentu menurut saya menarik, bagi orang lain pun menarik.

Saat pertama kali membaca bab pertama buku ini saya langsung berfikir, “Wah dia membukanya langsung dengan sebuah klimaks. Hm..menarik..dan cukup berani”. Bagi yang sudah sering membaca berbagai jenis novel dari berbagai genre, maka membuka sebuah novel dengan cerita klimaks sangat butuh kehati-hatian karena jangan sampai anti-klimaks terjadi di pertengahan hingga akhir cerita. Itu akan membuat pembaca menjadi enggan untuk melanjutkan bacaannya.

Di bab awal kita disuguhi kehidupan seorang Dania yang kehilangan suaminya, Andro. Ia dan suaminya membuka sebuah kedai kopi bersama. Kegilaan Andro pada kopi menular pada Nia –sapaan akrabnya- dan kegilaan Andro pada kopi membuat Dania selalu menghubungkan aroma kopi dengan sosok suaminya itu.


Maka sepeninggal Andro, Nia harus menghadapi kehidupan yang sulit karena terus menerus berhadapan dengan aroma kopi yang akan selalu menyelimutinya dengan kenangan bersama Andro. Di saat yang sama Nia harus meneruskan usaha kedai kopi yang sebelumnya dikelola sendiri oleh Andro. Kedai kopi tersebut sepeninggal Andro mengalami berbagai masalah mulai dari loyalitas pegawai, pesaing yang semakin banyak, hingga penurunan omset yang cuku besar saat UMK (upah minimum kerja) malah naik cukup tinggi.

Di tengah semua masalah itu, ternyata Nia masih harus menghadapi masalah pribadi dengan hadirnya sosok pria lain yang mencoba menggantikan posisi Nia. Di saat yang sama Nia pun masih terus belajar merelakan Andro dan sering kali masih merindukan sosok suaminya itu. Semua masalah itu berhasil dikemas dalam cerita dengan alur yang tepat. Tidak lambat, tidak cepat. Sehingga saat membacanya saya tanpa sadar berhasil menyelesaikan buku tersebut.

Tambahan lagi, bagi penikmat kopi yang ingin tahu banyak tentang kopi, buku ini pun bisa menjadi alternatif yang menarik. Sambil membaca ceritanya kita akan memperoleh beberapa informasi yang menarik. Bagi pengusaha kedai kopi, buku ini juga layak baca karena bisa merepresentasikan dunia usaha tapi dengan cara yang lebih ringan.

Kalau harus memberi nilai dengan skala 1 – 10, maka buku ini saya beri nilai 8. (^_^)

2 komentar:

  1. Thank you untuk reviewnya, thank you juga udah baca :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he.. Sama-sama, mbak.. Senang bisa mengapresiasi penulis dalam negeri meski hanya lewat blog (^_^)v

      Hapus