Minggu, 26 Mei 2013

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken



“..setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan, jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas”

Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah : Ridwana Saleh
Penerbit : Mizan
Cetakan :II, Juli 2011, Gold Edition
Jumlah hal. : 282 halaman

“Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali di mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang hidup”

Sebagai seorang penggemar karya Jostein Gaarder, membaca buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken pada saat sekarang ini tergolong terlambat. Saya jauh lebih dulu mengenal Vita Bravis, Misteri Soliter dan Gadis Jeruk yang merupakan karya Jostein Gaarder lainnya. Maka jika harus membandingkan buku ini dengan buku-buku lainnya maka harus saya akui bahwa penuturan di buku ini jauh lebih ringan apalagi memang karya ini tampaknya ditujukan untuk anak-anak.

Buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken adalah sebuah buku yang disuguhkan dengan cara yang cukup menarik. Buku ini disetting agar pembaca seolah membaca sebuah buku surat yang ditulis secara bergantian oleh dua orang sepupu yang tinggal secara terpisah. Mereka bernama Berit Boyum dan Nils Boyum, keduanya berusia sekitar 12 tahun –kalau ditelusuri dari cerita mereka-. Keduanya bertukar buku surat yang tampak sepeti sebuah diary bersama yang mereka isi. Awalnya mereka lebih fokus pada cerita keseharian mereka, namun akhirnya isi ceritanya lebih berfokus pada wanita bernama Bibbi Bokken.

Kehadiran sosok Bibbi Bokken ini bermula dari cerita Nils yang menemukan surat aneh yang ditulis oleh seorang bernama Siri untuk Bibbi Bokken tentang buku yang bahkan belum ditulis tentang sebuah “perpustakaan ajaib”. Hal ini menggelitik rasa ingin tahu mereka sehingga mereka pun memutuskan untuk mencoba menelusuri sosok Bibbi Bokken dan keberadaan buku tersebut hingga keberadaan perpustakaan ajaib yang disebut-sebut itu. Setelah itu cerita ini menjadi semakin seru saat banyak kebetulan yang menunjukkan jalan kepada mereka untuk semakin mendekati jawaban-jawaban atas pertnyaan mereka. Namun diwaktu yang sama mereka pun merasa terancam dan diawasi oleh seseorang (atau sekelompok orang). Hal ini semakin ditegaskan dengan munculnya Mr.Smile yang seolah berupaya mencelakakan mereka dan merebut buku surat tersebut. Sebenarnya apa yang telah mereka ketahui dan dapatkan hingga ada pihak-pihak yang menginginkan buku surat mereka?

Bagi seorang yang tergila-gila pada buku, maka buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken ini layak untuk dibaca dan dimiliki. Banyak pengetahun terkait buku yang akan kita temukan di dalam buku ini. Seperti kata “incunabula” dan “Bibliografer” yang mungkin masih asing bagi orang-orang yang belum benar-benar berkecimpung dalam dunia buku dan kepustakaan. Selain itu orang-orang yang benar menyukai buku akan lebih mampu membayangkan dan merasakan kesenangan-kesenangan yang digambar di dalam buku ini. Tapi bagi yang belum begitu suka membaca buku, buku ini tetap cukup recomended  karena cara penuturannya ringan dan ceritanya orisinil.

Kalau harus memberi nilai untuk buku ini dengan skala 1 – 10, maka buku ini mendapat nilai 9 dari saya. (^_^)v

“Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik”

Quote lainnya:
 "Ini pemikiran yang penting, Nils. Maksudku, fantasi tak berbeda dengan kebohongan. Terkadang fantasi adalah kebohongan itu sendiri."

"Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan pembohong yang paling antusias. Maksudku mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli kebohongan mereka."

"Aku rasa, beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi. Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar yang didalamnya kebohongan berkumpul berbaris-baris, dan kita menyebutnya sebagai perpustakaan. Kita pun dapat menjulukinya sebagai "laboratorium kebohongan" atau yang paling mirip2 itu. Mungkin paling baik kita menamai perpustakaan dengan "tempat penyimpanan lelucon dan fakta""

Tidak ada komentar:

Posting Komentar