Rabu, 06 Maret 2013

Jodoh Terakhir: Wanita dan Status Lajang



Judul                     : Jodoh  Terakhir

Penulis                 : Netta Virgiantini

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan               : kedua, Oktober 2010

Tebal                     : 191 halaman

Setiap tempat punya adat dan nilai sosial masyrakat yang agak berbeda dengan yang lainnya. Meskipun nilai-nilai universal tentag kebaikan dan kejahatan tetaplah sama. Namun ada nilai-nilai yang secara kasat mata cukup berbeda. Salah satunya terkait tentang hak wanita dan hal-hal lainnya tentang nilai seorang wanita di masyarakat.

Buku ini mencoba menyoroti tentang pemahaman masyarakat tentang wanita yang belum menikah di usia 40 tahun. Dalam masyarakat Indonesia salah satu ukuran kesuksesannya adalah sudah menikah dan bahkan kalau bisa menikah pria yang mapan secara ekonomi. Meskipun era emansipasi sudah lama dialami namun dalam hal nilai-nilai masyarakat hal seperti ini belum terhapus. Inilah yang coba diangkat penulisnya dengan gaya yang ringan.


Dikisahkan tokoh utamanya, Neyna, diberi ultimatum oleh orang tuanya untuk menikah dalam 2 minggu. Jika ia tidak mau, maka ia harus angkat kaki dari rumah orang tuanya. Nah setelah ultimatum ini mendadak semua hal menjadi rumit. Apalagi ia bahkan tidak tahu siapa pria yang telah datang melamarnya langsung ke kedua orang tuanya tanpa sepengetahuannya. Bahkan kenapa orang tuanya sampai menerima lamaran itu dan memaksakan pernikahan ini ke Neyna.

Bukan hal baru baginya saat orang tuanya mencoba mencomblanginya dengan pria. Hal ini sudah beberapa kali dilakukan oleh orang tuanya. Namun biasanya pada akhirnya mereka tetap menyerahkan keputusan tersebut ke Neyna. Lanta kali ini kenapa berbeda?

Didera kebingungan, muncul pula masalah baru. Masa lalu yang menyisakan trauma bagi Neyna akibat hubungan yang pernah cukup lama dijalaninya kandas di tengah jalan kembali menghantuinya. Masih terbetik ingin tuk bertemu pria itu. Selain itu di saat yang sama dia dituduh menggoda suami orang yang dulunya memang mantan pacarnya.

Jika diceritakan seperti diatas maka kesan yang nampak adalah bahwa novel ini cukup “berat” untuk “dikonsumsi”. Namun harus saya akui bahwa penulis berhasil mengubah stigma ini. Banyak penuturan yangg terkesan konyol dan kocak dalam buku ini. Percakapannya bisa membuat kita senyum dan ngakak sambil geleng-geleng kepala. Namun di saat tertentu bisa saja membuat kita sedikit merenung tentang masa lalu kita sendiri. Tentang mengobati luka hati dan tentang menentukan pilihan.

Ah, nover ini menarik untuk menjadi pengisi waktu luang. Coba dan nikmatilah..

Untuk Quote? Maaf kali ini nggak ada. Sudah cukup lama berlalu sejak saya membaca buku ini. Dan sedang tidak ada waktu membaca ulangnya. Silahkan berbagi Quote dari buku ini kalau sudah baca. He..he.. (^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar