Rabu, 06 Maret 2013

Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya : Adakah Ibu yang Durhaka??



Judul                     : Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya

Penulis                 : Triani Retno A

Penerbit              : Diva Press

Cetakan               : Pertama, Oktober 2012

Tebal                     : 331 halaman

Kasih ibu kepada beta..tak terhingga sepanjang masa..Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia.

Sejak kecil seorang anak selalu dibuai dengan nyanyian tentang cinta kasih seorang ibu dan ayah. Dan sering diancam dengan dosa sebagai anak durhaka. Namun adakah yang membantunya mengerti dan waspada tentang hak dan kewajiban orang tua. Hanya anakkah yang bisa durhaka? Tak bisakah seorang tua juga di klaim durhaka? Bukankah kini kian marak kasus orang tua yang menganiaya anaknya? Tentang ayah yang memperkosa anaknya? Ibu yang membunuh anak kandungnya?

Seorang Triani Retno mencoba menggugah hal ini. Melalui tulisannya ia ingin menghadirkan sisi lain tentang pola hubungan orang tua anak. Kita tidak lagi hanya mengenal kisah Malin Kundang yang durhaka terhadap ibunya. Penulis ingin menampilkan sisi lain koin itu bahwa bagaimana jika bakti seorang anak tak dapat ditagih jika kasih seorang ibu tak pernah diberi?!

Buku ini mengisahkan tentang seorang Amelia Citra yang selalu diam dan memiliki pembawaan tenang serta menghadapi hiruk pikuk dunianya dalam diam. Cerita dibuka dengan pernyataan tentang kekuatan personal Amelia. Kehadiran bisikan-bisikan dalam hati menguatkan penokohan dalam cerita ini. 

Kisah masa lalu dan pemikiran Amelia menyatukan satu demi satu kepingan kehidupan Amelia yang tercecer. Amelia yang berusaha menyembunyikan kondisi keluarganya hingga akhirnya cenderung sensitif pada pembahasan terkait keluarga. Hingga Amelia yang kuat namun pada satu titik pun dapat menyerah pada keadaan. Hal ini terlihat saat Amelia akhirnya memilih mundur dalam menghadapi masalah pelik yang ia alami di kantor.

Di lain pihak tekanan ibunya yang selalu berlaku seenaknya padanya kian parah. Ibunya terus marah-marah sambil terus menuntut materi tanpa peduli apa yang dihadapi oleh Amelia. Tak pernah mau tau pada pencapaian Amelia. Hanya bisa terus mengeluh dan mengeluh.

Dimana ayahnya? Kenapa Ayah Amelia seolah tidak ada? Oh, ayahnya masih ada namun bersikap bak orang yang telah tiada. Ayahnya lebih banyak diam. Tidak mau ambil pusing pada sikap ibu Amelia. Membiarkan semua ocehan dan omelan ibunya yang mengiris-iris hati. Seolah takut menjadi korban serangan ibu Amelia. Berusaha membela pun tidak pernah. Sering kali Amelia berharap sang ayah akan melakukan sesutau. Namun apa yang dia peroleh? Ah, tak perlulah aku tuturkan semuanya disini. Temukan sendiri dengan membacanya.

Dalam novel ini dikisahkan pula kegigihan Amelia yang di usia muda dituntut untuk mandiri dan membiayai diri sendiri. Bahkan ia pun harus menghidupi ibu dan bapaknya sambil terus memakan semua cacian ibunya. Persahabatannya dengan Santi pun menguatkannya. Kehadiran Santi menjadi penolongnya. Upaya pemberontakan atas dominasi ibunya akhirnya membuat Amelia memilih untuk melarikan diri. Puncaknya saat Amelia tidak lagi bisa memenui keinginan ibunya yang ingin menjodohkannya dan mengambil sikap tegas untuk menolak.

Di tengah semua kondisi itu Amelia terus bertanya-tanya tentang berdosakah ia? Durhakakah dia pada orang tuanya?Pertanya-tanyaan tersebut mulai terjawab satu persatu. Pada akhirnya kita akan bisa menilai bahwa hubungan orang tua dan anak itu dua arah. Tidak selalu satu yang menguasai yang lainnya. Dan akhirnya kisah di buku ini menggugah kita untuk belajar tentang penderitaan anak-anak di panti asuhan dan anak-anak korban penganiayaan.

Hal lain yang bisa dipetik adalah kesadaran bahwa menjadi ibu yang terbaik mungkin tidak mudah. Namun dengan menyadari bahwa anak bukanlah benda yang dimiliki dan bisa diperlakukan sesuka hati melainkan amanah dari Rabb Semesta Alam, akan membantu kita menghadapi anak-anak dengan lebih bijak.

Ah, kasihmu sepanjang hayat dan baktiku tak kan genap. 
Namun sesungguhnya cinta Allah itu adil. Dia membuat ketetapan tidak dari satu arah melainkan dari berbagai arah.

52 komentar:

  1. sedih ya ceritanya.. jd ibu jg bs durhaka poada anak2 jika tak hati2 dalam bersikap ya..

    jd pengen bukunyaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bikin sedih. Tapi saya suka dengan karakter Amelia yang kuat (^_^)

      Hapus
  2. Apa sebab yang paling dominan sehingga Ibu Amelia bersikap demikian? Apakah Ibu Amelia itu statusnya 'Ibu Tiri'? *kepo*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hm..kasih tau nggak ya?? (>_<)v

      Hapus
    2. @Nanda: Baca novelnya deh, pasti tau kenapa ibu Amelia begitu :D

      Hapus
  3. sumpah ni novel kayaknya keren abiiss... menceritakan conflict sebuah keluarga, yg menuntut seorang anak mandiri! ibu juga bisa durhaka? pingin banget baca keseluruhan cerita, review nya kakak mendorong saya untuk membca nih novel.. *tulisdidaftarlistbuku :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, masukin bukunya ke wishlist (^_^)9

      Hapus
    2. @Rizky: Makasih, Rizky. Ayo, baca novelnya :)

      Hapus
  4. Awal kali tertarik karena judul novelnya, bahkan kata penulisnya sendiri, mbak Eno, dia sampai menangis-nangis sambil menuliskan kisah Amelia ini.
    Setelah baca reviewnya disini malah lebih tertarik lagi. Tertarik dengan karakter Amelia yang dikisahkan menghadapi semua masalahnya dalam diam.
    Saya sebagai seorang ibu dari dua orang anak rasanya sangat perlu membaca novel ini, melihat hubungan orang tua dan anak dari sudut pandang anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Saya rasa memandang semua hal memang harus berimbang. Nggak hanya tentang hubungan ibu-anak, melainkan dalam hal-hal lain pun sebaiknya begitu.

      Hapus
    2. @Juwita: Haha... saya emang penulis yang gampang terbawa suasana. Nulis sedih, ikut nangis. Nulis yang lucu, cekikikan sendiri. :D

      Hapus
  5. Waktu awal-awal terbit, rada sering baca promonya di berbagai media, salah satunya review blog salah satu member BBI juga (dan lagi-lagi lupa siapa). Tertarik sama judulnya, Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya, bener nggak sih ada ibu yang durhaka sama anaknya? Tapi kadang nggak sopan kalau ada yang bilang, "Mamah turutin dong semua kemauan aku, mau jadi ibu durhaka?" Itu sih anaknya yang harus ditendang xP

    Rasanya sering mengeluh sama kondisi di saat Mamah terlalu over-protektif, berlebihan larang aku. Kadang nggak suka dengan caranya marah-marah, tapi kalau dipikir-pikir berarti beliau itu sayang, perhatian, dan khawatir banget.

    Walaupun bukunya (mungkin) lebih cocok dibaca mahmud alias mamah muda atau ya mamah-mamah deh, tapi nggak ada salahnya dong anak muda juga baca *kode*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga perlu dibaca oleh anak mudah, kok.
      Biar kita bisa bersyukur, biar kita belajar untuk tidak selalu menerima begitu saja hal yang muncul di masyarakat, melainkan lebih terbuka dan kritis dalam menanggapi fenomena di masyarakat (^_^)

      Hapus
  6. Judulnya benar-benar diluar dugaan, Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya. Soalnya baru kali ini aku menemukan buku yang judulnya agak "berlawanan" dengan apa yang sering aku temui di toko buku :p hehe
    Orang tua menuntut banyak hal? Hmm, emang kepada siapa lagi orang tua akan menuntut kalau bukan sama anaknya. Masa sama tetangga u.u hehehe Namun memang betul, orang tua juga harus memahami keterbatasan yang dimiliki anaknya. Kan, masa iya anak masih kuliah disuruh beli rumah sendiri -.-
    Aku selalu berpikir seperti ini, orang tua tidak boleh dilawan, tapi sebenarnya minta dilawan melalui omelannya yang terkadang sudah sangat jelas tapi diulang berulang kali kayak sinetron dari pagi sampai malam XD
    Aku selalu menemui hal-hal seperti ini saat berurusan dengan mamaku. Aku lebih banyak diam saat diomeli mama dari A-Z dipagi hari. Namun, disiang harinya aku diomel lagi dengan "materi" yang sama -.- Ujung-ujungnya aku bilang deh, "Jangan bikin dian melawan" hahaha Alhamdulillah mama pengertian walau kadang materinya tetap dilanjutnya :3
    Tergantung dari sikap kita melihat situasi. Kalau anak cewek paling ujung-ujungnya nangis di kamar hikshiks T__T
    Kepengen baca deh :') hihihi Nice review mbak ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he..buku ini nggak ngajarin kita melawan ke orang tua.
      tapi buku ini hanya ingin mengangkat beberapa kenyataan bahwa memang ada sejumlah orang tua yang mungkin bisa kita sebut "durhaka". Karena Allah menitipkan seorang anak kepadanya bukan untuk dimanfaatkan, dicaci-maki, melainkan dididik dan disayang (^_^)

      Hapus
  7. saya punya bukunya :D
    saya suka tulisan teh Eno yang yah mengaduk emosi :D
    dan reviewnya boleh ditambah kekurangan bukunya ga? menurut kamu bagian yang mana gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejujurnya, buku ini adalah buku pertama yang saya review. Kekurangan buku ini sendiri lebih pada layout dan sampul yang kurang menarik. Kalau dari segi isi, saya sendiri merasa bahwa emosi yang dibangun oleh Mbak Eno dalam buku ini sudah cukup kuat. Karena saya bahkan menyimpan kemarahan tersendiri pada sikap Ibu dan Bapak.
      Yah, walaupun saya sebenarnya agak bingung dengan pembuka dan penutup ceritanya,

      Hapus
  8. Hiks....dari review mba aja uda berasa banget pengen nangis, apalagi baca buku nya langsung.... aku sangat sayang sama mama ku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, kita harus bersyukur jika punya ibu yang ngomel karena sayang. (^_^)

      Hapus
  9. Dari pertama kali baca judul ini di fb Mbak Eno, aku udah mikir, "kok berani banget ya make judul sekontroversial ini?" tapi setelah baca uraian di atas, rasanya aku mulai mengerti kalau konflik yg menjadi pembahasan di novel ini memang cukup kuat untuk diberi judul seperti itu :D

    Penasaran pake banget nih. Idenya di-luar-kotak banget huihihihi :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Isi cerita memang membuat judul ini layak disandang. Sebab alurnya jelas menuju ke sana. Mengajak kita mempertanyakan tentang apakah benar semua ibu itu penyayang? Bagaimana dengan mereka yang tega membunuh anaknya sendiri? Yang tega menyiram anaknya dengan air panas?

      Hapus
  10. aaah kayanya novel ini bakalan menguras emosi & air mata deh, soalnya baru baca review nya aja udah kebawa emosi gimana baca sampai habis? Makasih ka sudah mereview buku ini,kalo kk gk ngereview mungkin aku ngga akan tau ada buku yg keren ini hehe


    Nama: Linda Novianty
    Twitter: @cumee22
    Email: cumee22@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he..senang jika review saya bisa bikin orang kenal buku yang sebelumnya asing bagi mereka :)

      Hapus
  11. Covernya agak unik ya, kayak gambar siluet seorang ibu yang memarahi anaknya yang disorot dari luar rumah. Judulnya pun tak kalah menarik "Ibuku tak menyimpan surga di telapak kakinya" bikin orang penasaran pasti. :D

    Ohya, setiap cerita tentang Ibu ataupun ayah nggak ada yang nggak menguras air mata deh pasti :(

    @Oktaviamithaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya cukup bikin sedih. Tapi bikin kita bersyukur punya orang tua yang baik dan peduli (^_^)

      Hapus
  12. Kisah ibu dan anak selalu menyayat hati ya,
    apalagi ini kisah ibu dari sisi lain,
    penasaran... ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak ide ceritanya cukup berbeda dari yang ada dipasaran (^_^)

      Hapus
  13. Tiba-tiba keinget kata Stay Close, entah kenapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he.. asal jangan inget "Get Lost" aja (>_<)v

      Hapus
  14. Baca reviewnya jadi kasiann sama Amelia. Pengen baca novelnya deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kasihan si Amelia. Tapi saya juga kagum dengan karakternya yang kuat (^_^)

      Hapus
  15. Judulnya kontroversial banget, mengupas sosok ibu dan anak dari sisi lain.
    Membicarakan kisah tentang Ibu, memang selalu menarik untuk di ulas apa lagi ini kalo baca dari judulnya merupakan sudut pandang yang tak umum tentang sosok ibu. Penasaran hehehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya sendiri gak nyangka alurnya akan setajam itu waktu pertama kali beli (^_^)v

      Hapus
  16. Ceritanya sedih banget... Mungkin bakalan nangis kalau baca...
    Pengin baca banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ceritanya sedih. Yuk baca juga. Ntar bagi reviewnya ke sini (^_^)v

      Hapus
  17. baca reviewnya udah cukup bikin sedih. betul juga, koin punya dua sisi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, segala sesuatu sebaiknya nggak dibaca hanya dengan satu sudut pandang
      *ah, kenapa jadi sok tua gini (>_<)v*

      Hapus
  18. kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, tak pantas pula protes karena Tuhan memilihkannya untuk kita. bagaimana keadaan orangtua merupakan salah satu ujian dari-Nya. membaca reviewnya sangat bagus, cerita yang penuh emosi dan gejolak. hanya berharap agar saya tidak menjadi ibu seperti itu :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ya Rabb..
      saya juga berharap yang sama (>_<)

      Hapus
  19. Saya selalu senang dengan ide-ide cerita seperti ini. Melihat sesuatu hal tidak hanya dari satu sisi. Kita terlalu sering menerapkan pemikiran-pemikiran bahwa anak yang mungkin durhaka kepada orang tuanya. Hingga kita lupa bahwa tidak ada satu hal pun yang pasti di dunia ini. Anak tidak selalu benar dan Orang tua tidak selalu salah.

    Sebenarnya saya belum pernah membaca buku Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya ini, saya sangat penasaran kenapa sang Ibu bersikap seperti itu (tentu semua akan ada alasannya).

    Satu hal yang saya pelajari dari kisah tersebut, saya amat bersyukur memiliki Ibu yang kuat dan tegar yang selalu menyayangi anaknya dan menyemangatinya ketika sang anak hampir terjatuh. TIba-tiba saya jadi rindu Ibu saya :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, baca buku ini bikin rindu rumah.. rindu mama.. bikin pengen meluk mama sambil bilang "terima kasih untuk cinta yang tanpa tepi" (T_T)

      Hapus
  20. Membaca judulnya membuatku merinding, cover manis dengan warna coklat cukup menarik. Membaca reviewnya membuat aku cukup emosi. Sesuatu ema yang menarik untuk diangkat menjadi sebuah cerita. Aku penasaran dengan buku ini. reviewnya menarik, tetapi aku memberi saran agar kekurangan buku juga bisa dicantumkan kalau ada. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini termasuk buku-buku yang pertama kali aku buat reviewnya, makanya waktu itu dimensi reviewnya sedikit. Lebih pada menuliskan opini saya pribadi tentang sebuah buku dan belum detail menelaah.
      insyaAllah lain kali saya re-read dan re-write review-review lama saya (kalau sempat..ha..ha..sok sibuk deh saya)

      Hapus
  21. Buat seorang ibu, menggelitik sekali padahal baru membaca judulnya. Apakah ada surga di bawah telapak kakiku?

    BalasHapus
  22. Resensinya bagus kak.. kalimat-kalimatnya sangat friendly mudah dipahami dan diksinya bagus..
    baca review nya jadi pengen baca bukunya yang pasti bakal buat aku nangis :)

    BalasHapus
  23. Baca buku ini nyesek dah T_T ada ya ibu kandung se keji itu ? tapi lagi-lagi teh eno hendak menyampaikan bahwa se kejam apapun ibu kandung tetap harus diperlakukan dengan baik, seperti yg dilakukan Amelia

    Setidaknya novel ini, menjadi solusi bagi mereka yang mungkin punya hidup kurang lebih sama seperti Amelia, dan kadang salahsatu sumber solusi adalah buku ya buku :)

    BalasHapus
  24. saya punya satu kata u/ judul bukunya : ANTIMAINSTREAM haha. jika kita punya Malin Kundang sbg ikon anak durhaka, saya pikir ibunya Amelia jadi daftar pertama kandidat ikon ibu durhaka. haha. Buku ini sepertinya akan menguras rasa gemas dan feram bagi para pembacanya, apalagi jika sang pembaca adalah seorang perempuan. ;P

    BalasHapus
  25. Makasih, Tria, Makasih semuanya. Tadi aku mau komen satu per satu tapi ternyata susah *pelototin internet*

    Soal judul... aku juga kaget waktu tau judul jadinya ini. Huaaa... serem banget. Ini judul aslinya "Di Mana Surga Itu". Penerbit pasti punya pertimbangan sendiri ketika memutuskan memakai judul ini. Terbukti, ya. Langsung menyengat mata :D

    Btw, Tria, resensi ini kukopas ke blogku, ya. Lengkap dengan link ke sini. :)

    http://takhanyanovel.blogspot.com/2014/04/buku-saya-diresensi-ibuku-tak-menyimpan.html

    BalasHapus
  26. Sampai sekarang belum dpt bukunya.. beli dimana?

    BalasHapus
  27. Anyway sebenarnya dari kemarin saya selalu bertanya2 apakah ada durhaka atau dosa orgtua kepada anak?
    Karna sebenarnya saya,kakak,dan adik2 sya mungkin merasakan kesamaan atas buku ini entah itu lebih baik atau lebih parah.
    dan alhamdulillah ternyata ada hal seperti ini yg setidaknya membuka mata sya klau tidak selamanya anak yg slalu durhaka kpd orgtua.
    menyadari saya bahwa saya tidak sendirian :")

    BalasHapus