Jumat, 18 Januari 2013

Little Men by Louisa May Alcott

...Little Men...

Akhirnya buku Little Men telah ku tamatkan. Buku yang benar-benar membawa energi positif dan keceriaan masa kanak-kanak. Satu hal yang harus kuakui dari buku ini adalah kecerdasan dalam mendeskripisikan, menarasikan, dan menggambarkan dialog tokoh-tokohnya sangat menarik. Dengan 14 tokoh anak laki-laki, ibu Bhaer, Pak Bhaer, Silas, Asia dan Mary Ann, tokoh-tokoh mampu menampilkan kisah yang menarik dan menggambarkan tentang sika-sikap baik yang selayaknya dipelajari oleh anak-anak seperti layaknya mereka mempelajari matematika, bahas Latin, dan ilmu-ilmu lainnya.

Sempat terbesit di kepalaku, “Jangan-jangan penulis Toto-Chan terinspirasi oleh kisah di tanah Plumfield ini?”. Jika buku ini ditulis pada masa 100 tahun yang lalu, maka penulisnya adalah seorang yang ikut memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Masih teringat olehku kisah di Little Women yang menceritakan tentang Jo (nama kecil Ibu Bhaer) yang menjadi seorang pejuang hak-hak wanita dan mengiginkan kebebasan yang sama seperti yang dimiliki oleh anak laki-laki. Dan dalam kisah Little Men ini dikisahkan tentang, Asia seorang wanita kulit hitam yang menjadi juru masak di keluarga itu namun tidak diperlakukan sebagai budak melainkan seperti keluarga. Ini adalah kebaikan universal yang berusaha diselipkan dalam buku itu.

Ada banyak dialog yang menceritakan tentang kebijakan filofosis seperti yang diucapkan oleh Ibu Bhaer pada Nan ini, “Sayang sekali kau benci anak laki-laki, karena mereka sangat baik, dan sangat menyenangkan kalau mereka mau. Kebaikan di wajah dan dalam ucapan adalah ciri kesopanan sejati, dan setiap orang bisa melakukannya jika mereka berusaha meperlakukan orang lain seperti mereka memperlakukan diri mereka sendiri”.

Atau nasihat yang diberikan oleh Ibu Bhaer pada Dan yang sebelumnya hidup “liar” dan tidak mempercayai kebaikan orang lain serta bersikap sesukanya. “... Lakukan apa yang kau tidak sukai, dan lakukan dengan baik, maka kau akan mendapatkan dua imbalan. Pertama, hadiah yang kau lihat dan pegang; kedua, kepuasaan setelah melakukan tugas dengan senang hati. Apa kau mengerti?”

Atau kalimat yang digunakan oleh Ibu Bhaer untuk menjawab godaan Tuan Laurie bahwa eksperimennya untuk mengajak anak perempuan di sekolahnya tidak akan bisa berhasil. Dan ibu Bhaer menjawab, “...mengutip seorang profesor, ‘Biarpun eksperimennya gagal, prinsipnya tetap sama’”.

Buku ini “kaya rasa”, dalam BAB Hari Mengarang maka kita akan disajikan sebuah metode belajar yang menarik yang tidak pernah kita temukan di Indonesia. Dimana anak-anak ini memberi kuliah tentang hal yang mereka amati dan menceritakannya dengan cara mereka yang kocak dan banyak akal. Kita dikenalkan metamorfosis capung, jenis-jenis burung hantu, tanaman, dan berbagai hal yang menarik. Anak-anak menjadi pemberi materi dan setiap usaha mereka dihargai dengan pujian yang tulus. (ugh..hal ini entah mengapa sangat jarang ditemukan dalam sistem pendidikan Indonesia. Kasihan anak Indonesia, mereka dididik tanpa menerima award and punishment secara seimbang.. semoga pendidikan Indonesia bisa lebih baik lagi..agar menumbuhkan mental yang benar dalam diri anak-anak Indonesia. Agar keberhasilan tidak lagi dinilai dari seberapa banyak materi yang dimiliki tapi seberapa bermanfaat orang tersebut bagi dirinya dan orang lain)

Dalam BAB PANEN, diceritakan tentang buah dari hasil kerja keras. Dan kerja keras dibarengi keikhlasan dan keceriaan akan menghasilkan panen yang “manis”. Sedangkan dalam BAB JOHN BROOKE diceritakan tentang bagaimana jiwa-jiwa kecil yang ceria itu berempati dan belajar menghadapi kesedihan dan kehilangan.
Buku ini layak untuk menjadi buku suplemen bacaan bagi anak-anak SD kelas 5 ke atas. Mereka bisa belajar tentang keberanian, kejujuran, kehormatan, kesetiaan, keceriaan, kecerdasan, dan banyak hal lain yang sulit untuk diajarkan secara langsung oleh guru-guru di sekolah dan orang tua di rumah. Baik dan buruk memang secara jelas digambarkan dalam buku ini, namun sikap pemaaf dan kebijaksanaan menjadi penengah bagi kedua hal tersebut.

Selamat membaca, dan kelak jika aku punya anak, buku ini akan membantu dia dan diriku menghadapi keceriaan anak-anak yang banyak akal dengan baik. Agar jiwa mereka tidak menjadi jiwa yang terluka dan akhirnya tidak mampu menghadapi kehidupan nyata dengan baik.

Dan untuk landak-landakku tersayang..buku ini pantas untuk kita lahap. Tokoh Dan dalam kisah ini mungkin adalah salah satu jenis landak yang unik. Mungkin memang sifat landak kita butuh dijinakkan oleh sesroang..
(^_^)v

Tidak ada komentar:

Posting Komentar