Jumat, 19 Mei 2017

[Review + Blogtour + Giveaway]Among the Pink Poppies




Penulis: K. Fischer
Penyunting: Shara Yosevina
Desain: Amanda M.T Castilani
Penerbit: Bhuana Sastra (Imprint Penerbit Bhuana Ilmu Populer)
Cetakan: Pertama, 2017
Jumlah hal. : 552 halaman
ISBN: 978-602-394-513-9

Saras bertemu gadis kecil bernama Amelia di tempatnya bekerja di pusat teknologi kota Linz, Austria. Ibunya Amelia sudah meninggal dunia. Saras terenyuh dan ingin berteman dengan Amelia dan paman merangkap ayah asuhnya, Jonas. Mereka jadi sering bertemu, Saras mulai menyayangi Amelia, bahkan ia semakin dekat dengan Jonas hingga keduanya jatuh cinta.

Sementara di Jakarta, ibunya yang diktator sudah mempunya calon suami untuk Saras. Ketika mengetahui tentang hubungannya dengan Amelia dan Jonas, ibunya dan seluruh keluarganya langsung memojokkan Saras. Dengan semakin bertambahnya konflik baik antara Saras dengan keluarganya, maupun dengan “keluarga baru” di Austria, ia mulai belajar untuk mengambil keputusan secara dewasa.
***

Saras, 27 tahun dan berasal dari Indonesia. Ia bekerja di Austria dam hidup jauh dari keluarganya. Namun berbeda dengan para perantau pada umumnya, Saras tidak memiliki kerinduan tertentu pada rumah selain kepada Eyangnya. Ini karena ia selalu merasa dibelenggu oleh keluarganya. Bahkan hingga kini, meski ia jauh dari Indonesia namun “cengkraman” sang ibu masih kuat terasa. Ibunya mulai semakin sering menyuruhnya pulang dan menikah dengan anak kenalan yang berusaha dijodohkan dengannya. Sayangnya Saras memiliki keinginan sendiri. Hatinya terlanjut ia isi dengan keceriaan seorang gadis kecil bernama Amelia dan pamannya, Jonas. Tapi sekali lagi Saras kembali dicengkram dengan kuat. Ia seolah tidak bisa menolak upaya sang ibu untuk menjodohkannya.

Di saat yang sama saat ia dan Jonas semakin dekat, ada satu rahasia besar yang Saras simpan dari laki-laki itu dan Amelia. Rahasia yang ternyata akan membuat hubungan mereka berada di ujung tanduk.

***

Sejak pertama kali membuka novel ini, saya menyukai layout bukunya. Halaman awal yang indah, ukuran tulisan yang cukup besar dengan spasi yang cukup lebar. Menyegarkan mata dan tidak membebani saat membacanya. Belum lagi covernya yang merupakan perpaduan warna putih dan pink. Sayangnya, tulisan nama penulisnya sangat kecil dan warnanya terlihat buram karena lebih ke arah silver. Lebih baik jika warnanya hitam.

Kamis, 04 Mei 2017

[Blog Tour + Giveaway] Love Is ... 2





Karya: Da-mi Park (Puuung)
Pengalih bahasa: Lovelyta Panggabean
Penyunting: Ani Nuraini Syahara
Redesain: Amygo Febri
Penerbit: Bhuana Sastra (lini Penerbit Bhuana Ilmu Populer)
ISBN: 978-602-394-416-3
Pembelian dapat dilakukan di: http://www.gramedia.com/love-is-2.html


Hidup memang tak bisa selalu bahagia, seperti yang ditunjukkan oleh dua tokoh di dalam gambarku. Seringkali aku merasa sangat lelah dan ingin menangis. Namun, dalam kehidupan yang tidak sempurna itu, aku bisa merasakan suka cita dan kebahagiaan. Aku mensyukuri momen-momen kecil yang berharga itu, kemudian menuangkannya ke dalam gambar-gambarku.

-          Puuung

***

Sebelumnya izinkan saya mengenang saat saya jatuh cinta pada Love Is ... karya Puuung. Saat itu saya tengah hamil 5 bulan dan terserang typus hingga harus bedrest. Bayangkan pengaruh hormon dan tubuh yang lemah membuat saya mudah baper. Butuh penantian panjang hingga saya bisa memeluk buku Love Is... dan saat membuka lembar demi lembar memberi saya perasaan hangat.

Selasa, 02 Mei 2017

Rumah Tangga



“Kita selalu gagal menertawakan lelucon yang sama untuk kali kedua atau ketiga, kan? Lalu, mengapa kita selalu berhasil menangisi hal yang sama berkali-kali?” (Hal. 31)


Penulis: Fahd Pahdepie
Editor: Gita Romadhona
Editor akhir: Ayuning
Penyelaras akhir: eNHa
Penata letak: Nopianto Ricaesar
Desain sampul: Indra Fauzi
Penyelaras tata letak dan desain sampul: Landi A. Handwiko
Penerbit: PandaMedia
Cetakan: Keenam, 2015
Jumlah hal.: x + 286 halaman
ISBN: 979-780-813-0

Kita adalah dua orang biasa yang saling jatuh cinta. Lalu, kita bersandar pada kekuatan satu sama lain. Terus berusaha memaafkan kekurangan satu sama lain.
Kita adalah dua orang yang berbagi rahasia untuk menyumblimkan diri masing-masing. Saling percaya dan berusaha saling menjaga.
Kita adalah dua pemimpi yang kadang-kadang terlalu lelah untuk terus berlari. Namun, kita berjanji saling berbagi punggung untuk bersandar, berbagi tangis saat harus bertengkar.
Kita adalah dua orang egois yang memutuskan menikah.
Kemudian, setiap hari, kita berusaha mengalahkan diri masing-masing.

...Dengan sejumlah rasa pengertian dan kesepahaman, engkau bersenang hati menghormatiku sebagai suami dan aku bahagia menyayangimu sebagai seorang istri.

***

“Barangkali, ada yang pernah atau sedang kita sesali; hal-hal yang kita pikir lebih baik tak usah terjadi. Segala sesuatu yang selalu membuat kita berpikir tentang waktu, ibunda segala peristiwa seraya mencari-cari cara terbaik untuk melupakan semuanya.” (Hal. 30)

Buku ini berisi kumpulan tulisan singkat Fahd Pahdepi dalam memandang berbagai hal dalam rumah tangga. Tulisannya pendek-pendek berkisah 1-4 halaman untuk setiap judul. Beberapa tulisannya saya dapati sebagai tulisan yang sempat di-share Fahd di fanpage-nya.

Tulisan dibuka dengan cara yang pas. Ia menggali kembali ingatannya tentang hari pernikahannya dengan Rizqha, sang istri. Saya dibuat terharu dengan ceritanya. Ternyata hubungan mereka tidak seindah di dalam dongeng.

Senin, 06 Februari 2017

Table for Two



“Kata Eyang Uti, anak cowok itu harus ngelindungin anak cewek. Aku kan, anak cowok, jadi aku bakal ngelindungin kamu, anak cewek.” (Hal. 116)


Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang sampul: Musthofa Nur Wardoyo
Ilustrasi sampul: Boby Erianto
Pemeriksa aksara: Fitriana STP & Septi Ws
Penata aksara: Martin Buczer & Rio
Penerbit: Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: Pertama, Desember 2016
Jumlah hal: iv + 260 halaman
ISBN: 978-602-1383-63-6

“Dia memang teman masa kecilku. Tapi, dia sudah bukan lagi bocah kurus yang ada alam ingatanku, melainkan seorang pria. Seorang pria yang, sungguh tidak ingin aku akui, sangat menarik”

Asha benci tinju sebesar dia membenci Arga, pria yang pernah disebutnya sebagai sahabat. Tragedi yang merenggut nyawa Papa membuat hubungan Asha dan Arga merenggang. Bertemu lagi dengan Arga nggak pernah terpikirkan olehnya. Tapi, itu yang terjadi. Permintaan Mama memaksanya untuk bertemu dengan Arga sekaligus menjadi pengawas diet petinju super-menyebalkan itu.

Menjadi pengawas diet Arga berarti pertengkaran tanpa henti, rencana diet yang berantakan dan berkurangnya waktu untuk dinikmati bersama Kak Rama, dietisien di klinik kesehatan Mama. Namun, Asha nggak punya pilihan. Ia harus profesional dan berusaha berdamai dengan trauma masa lalunya.

Tapi ... bisakah?

***

“Ternyata kenangan bahagia, tidak peduli selama apa pun tersimpan, selalu menghadirkan getar kerinduan ketika mengingatnya.” (Hal. 7)

Kehidupan Asha awalnya terasa menyenangkan. Asal persoalan skrip-shit tidak dihitung. Bagaimana tidak jika dia punya ibu yang selalu bisa menjadi tempatnya mencari ketenangan dan cinta kasih. Ia juga punya Kak Rama yang selalu memberi warna cerah pada kehidupannya. Secerah perempuan yang tengah jatuh hati.

Namun mendadak serasa ada awan gelap yang datang, membuat kehidupan Asha yang cerah bahagia menjadi kelabu. Awan gelap itu datang dalam bentuk sosok masa lalu. Arga, laki-laki yang dulu pernah menjadi orang terdekatnya. Menjadi sahabatnya. Namun pertengkaran membuat mereka menjauh.

Terlebih lagi Arga menggeluti dunia yang ingin dilupakan Asha. Dunia tinju. Dunia yang merenggut papa yang sangat dicintai Asha. Dunia itu juga yang membuat ia dan Arga berpisah. Sebab Arga memilih untuk tetap menjadi petinju.

Tujuh tahun tidak pernah bertemu, Arga dan Asha kembali dipertemukan. Kali ini Asha harus berusaha mencegah Arga mengalami nasib yang sama dengan yang dialami oleh papanya. Namun Arga terlalu bebal untuk peduli. Membuat mereka selalu saja bertengkar setiap kali bertemu. Dan perlahan kehadiran Arga mengubah sesuatu dalam hubungan Asha dan Rama.

Bagaimana jadinya hidup Asha? Bisakah ia ‘menolong’ Arga? Dan bagaimanakah akhir hubungan Asha dan Rama juga hubungan Asha dan Arga?

“Waktu selalu bisa mengubah apa pun, termasuk karakter seseorang.” (Hal. 35-36)

***

“Ternyata benar, kenangan tidak tersimpan dalam hati atau ingatan. Tetapi, pada benda atau tempat kenangan itu terjadi.” (Hal. 64)

Novel Table for Two ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka di bawah naungan lini Bentang Belia. Lini yang dikhususkan bagi pembaca muda Bentang, bagi pembaca remaja. Namun sejujurnya cakupan pembaca untuk novel ini jauh lebih luas. Novel ini  bisa masuk dalam kategori young adult mengingat tokoh utamanya sudah menempuh semester akhir kuliah dan sedang berkutat dengan skripsi. Selain itu dari segi konflik, tidak sesimple novel-novel remaja. Sedikit lebih kompleks. Dan tidak berfokus pada percintaan. Lebih banyak ke hubungan hate-loveship antara Arga dan Asha serta bagaimana Asha menjadi pengawas dietnya Arga.

Yang menarik dari novel ini adalah profesi tokohnya unik. Yang satu petinju dan satu lagi adalah dietisien. Dua profesi yang sangat jarang saya jumpai dalam novel yang saya baca. Apalagi dalam novel remaja.

Sabtu, 28 Januari 2017

The Playlist



“Mungkin memang harus seperti ini. Mungkin kita dipertemukan untuk belajar mempelajari kesalahan, supaya tidak terulang lagi nanti... saat bersama orang baru.” (Hal. 206)


Penulis: Erlin Natawiria
Penyunting: Septi Ws
Desainer sampul: Tim Desain Broccoli
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, September 2016
Jumlah hal.: 230 halaman
ISBN: 978-602-375-6782

Musik latar bukan sekadar aksesori bagi Winona.

Ketika food writer lain memusatkan perhatian pada rasa dan tampilan, Winona akan menajamkan telinganya untuk menilai pilihan lagu di sebuah tempat makan. Baginya, lantunan melodi memberi pengaruh besar terhadap suasana hati pengunjung. Semakin sesuai musik latar dengan hidangan, semakin tinggi penilaian yang akan Winona berikan.

Hingga kehidupan Winona berubah saat mengunjungi No.46. Absennya musik latar dan kemisteriusan Aries mengusik benak hingga hatinya. Jerat yang coba dia lepaskan justru menariknya semakin dekat dengan pria yang menyimpan duka dan sepi yang terasa familier baginya. Belum cukup di situ, Winona pun harus berhadapan dengan Ethan – pesona dari masa lalu yang mengisi hidupnya dengan kenangan-kenangan manis.

Di antara iringan musik latar dan hidangan-hidangan lezat, Winona harus memilih: menghadapi rasa takut yang terus dia hindari atau kembali ke tempat ternyaman yang melengahkan?

***

“Pertama, toko-toko musik yang menjual rilisan fisik. Sekarang toko buku juga mulai menyusul. Aku tidak bisa menolak perkembangan teknologi juga, Wine. Tapi, melihat tempat-tempat itu mulai hilang ... rasanya seperti menyaksikan sebagian dari hidupmu direnggut paksa.” (Hal. 121)

Winona, yang awalnya adalah seorang bekerja di majalah musik, akhirnya berubah haluan menjadi food writer di YummyFood. Ia mendatangi tempat-tempat makan di kota Bandung untuk diulas. Meski pindah haluan, namun Winona tidak bisa melepaskan kedekatannya dengan musik. Hal ini membuat ulasan Winona menjadi unik sebab memasukkan musik latar di rumah makan yang ia kunjungi ke dalam standar penilaian.

Namun suatu hari ia diminta meliput No.46, sebuah rumah makan yang ada di daerah Dago. Di sana ia mendadak merasa bingung karena di rumah makan itu tidak ada musik sama sekali. Tidak ada lagu yang terputar. Ini membuat Winono merasa bahwa tempat itu mencekam dan membuatnya tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini pun dirasakannya saat bersama Aries, pemilik No.46.

Di sisi lain, Winona masih menyimpan perasaan pada mantan kekasihnya, Ethan. Dan entah bagaimana Ethan sendiri seolah tidak ingin keluar dari kehidupan Winona. Pun dengan takdir yang sering kali membuat mereka bertemu tanpa sengaja, tanpa rencana.

***

Novel ini bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama dari sisi Winona. Ini membuat pikiran-pikiran dan perasaan Winona bisa “diintip” oleh pembaca. Dan bisa menyimpan banyak hal untuk mempertahankan rasa penasaran pembaca.

Minggu, 22 Januari 2017

MOMMYCLOPEDIA: Panduan Lengkap Merawat Bayi (0-1 tahun)




Penulis: dr. Meta Hanindita Sp. A
Desain sampul dan ilustrasi: Nynda Fatmawati Public Relation Management in collaboration with Haikalogy
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 123 halaman
ISBN: 978-602-03-3461-5

Buku ini memberikan panduan yang tepat dan praktis secara medis untuk merawat bayi pada tahun pertama.

Ditulis dengan bahasa singkat dan jelas serta dipenuhi ilustrasi menarik, semua informasi di dalamnya akan membuat hari-hari merawat dan mengasuh bayi semakin menyenangkan.

Dilengkapi dengan QR Code di hampir setiap halaman, Anda bisa mendapatkan informasi tambahan yang lebih lengkap melalui aplikasi Mommyclopedia.

***

Sejak hamil, saya menyadari bahwa bacaan terkait kehamilan, melahirkan dan menyusui jarang dilirik jika dirasa belum dibutuhkan. Padahal ada baiknya jika tanggal pernikahan sudah ditetapkan, maka ilmu terkait kehamilan dan melahirkan sudah mulai dikumpulkan. Hal serupa pun terjadi dalam hal merawat bayi. Buku-buku terkait perawatan bayi sudah mulai dilirik saat sudah memasuki tri semester akhir.

Saat menyadari kebutuhan akan buku-buku yang membahas tentang perawatan bayi, saya menyadari bahwa buku-buku tipe ini sulit ditemui dan lebih banyak yang menitiberatkan pada MPASI. Padahal sebagai new mom yang baru pertama kali merawat bayi, maka pengetahuan paling awal yang saya butuhkan adalah bagaimana merawat bayi yang baru lahir. Baru kemudian fokus pada MPASI. Itu sebabnya saya langsung tertarik saat judulnya menyebutkan usia bayi yakni 0 sampai 1 tahun.

Buku ini memiliki tampilan yang menarik. Tidak hanya cover nya yang manis dengan gambar ibu dan anak. Di dalam buku pun ilustrasinya menampilkan gambar yang setipe sebagai pelengkap penjelasan yang tertulis di dalam buku. Dan paling menyenangkan adalah buku ini full colour. Saat dibaca bersama bayi pun akan membuat mereka tertarik untuk meraihnya.

Jumat, 30 Desember 2016

[Blogtour: Review + GA] Rewrite



“Laki-laki ganteng dan kalimat gombal memang merupakan paduan yang cocok untuk membuat jantungmu berdebar kencang, bukan?” (Hal. 13)

Penulis: Dirsta Alifia
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.:  249 halaman
ISBN: 978-602-02-9546-6

Sejauh apa pun aku menghindar, ternyata, langkah-langkahku selalu terarah padamu.
Saras Widjaya, seorang perempuan yang harga dirinya lebih tinggi dari langit ketujuh menepis segala rindu yang ia punya pada sang mantan kekasih.
Gilang Ranggala, yang pandai menerbangkan pesawat dan juga harapan Saras, tak pernah tidak menyesali perbuatannya satu tahun lalu. Emosi yang begitu meledak, juga kata-kata yang tak seharusnya ada, membuat hubungan yang sudah mereka bangun tiga tahun runtuh begitu saja.
Namun, sekuat apa pun Saras menyangkal, ia tetap tak bisa menghindari bayang-bayang Gilang. Sedalam apa pun Gilang menyesal, ia sudah kehabisan cara meyakinkan Saras.
Dalam diam, mereka berharap.
Semoga kisah ini dapat ditulis ulang dengan akhir yang paling baik untuk mereka berdua.

***

“Kadang, banyak orang yang berpikir bahwa mereka adalah pusat kehidupan bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Padahal belum tentu orang-orang peduli sama mereka.” (Hal. 7)

Novel ini berkisah tentang Saras dan Gilang, yang pernah memiliki masa lalu bersama. Mereka pernah menjalin kasih selama 3 tahun. Berbagi banyak hal, termasuk impian untuk menjalani masa depan bersama. Sayangnya hubungan itu harus berakhir dalam satu malam.

Gilang yang kemudian menyadari bahwa ia tidak bisa melupakan Saras. Mencoba untuk memperjuangkan kembali Saras. Berusaha mendapatkan kembali kesempatan itu. Saat mereka kembali bertemu di London, Gilang merasa itu menjadi kesempatan yang dia miliki untuk mengubah kenangan yang mereka miliki setahun sebelumnya. Setahun lalu, hubungan Gilang dan Saras berakhir di London. Maka ia berharap London pula yang akan membawa kembali Saras padanya.

Bisakah Gilang meraih kembali Saras? Mengobati luka yang sudah ia torehkan di hati Saras?

***

“.... Senyum kamu selalu bikin aku ingat, di mana pun aku berada, aku selalu punya tempat untuk istirahat. Tempat untuk kembali pulang.” (Hal. 60)

Kamis, 29 Desember 2016

Unpredictable Marriage



"Hati yang kecewa selalu menimbulkan luka. Luka di hati memang tidak terlihat, tapi justru yang tidak terlihat itulah yang paling sulit untuk disembuhkan"(Hal. 222)


Penulis: Aiu Ahra
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Penata Letak Sampul: Tim Desain Broccoli
Penata Isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Oktober 2016
Jumlah hal.: 249 halaman
ISBN: 978-602-3756919

Apa jadinya kalau ada lelaki yang tak kau kenal tiba-tiba menawarkan pernikahan denganmu?

Gilda, pada usianya yang ke-29 tahun dan tuntutan menikah dari ibunya, dihadapkan pada tawaran menikah oleh Darrel. Lelaki yang lebih muda tiga tahun darinya. Lelaki bergaya slengean yang adalah pemain band. Keduanya menikah tanpa cinta. Hanya mengandalkan komitmen untuk membentuk sebuah keluarga.

Darrel bukanlah tipe ideal Gilda. Namun, perlahan ia sadar cinta memang bisa hadir tanpa rencana. Di balik sikap Darrel yang semaunya, lelaki itu selalu punya kejutan.

Namun, ketika keduanya mulai sadar dengan perasaan cinta masing-masing, masalah besar justru hadir. Pernikahan mereka terancam! Mampukah Darrel dan Gilda melewatinya?

***

“Cinta mungkin datang secara tiba-tiba, tapi ingat cinta juga bisa tumbuh kalau ditanam. ...” (Hal. 25)

Gilda, perempuan yang usianya mendekati kepala tiga dan mulai dirisaukan oleh masalah pernikahan. Ia semakin terdesak saat adiknya sangat ingin menikah dengan kekasihnya namun tidak ingin mendahului Gilda. Ibunya pun semakin semangat menyomblanginya.


Pertemuannya dengan Darrel terasa sebagai jalan keluar baginya. Pertemuan mereka  awalnya terasa aneh. Pertemuan kedua sangat menyebalkan. Namun akhirnya tawaran dari Darrel untuk menikah seolah menjadi jalan keluar baginya. Dan bagi Darrel sendiri, pernikahan hanyalah sebuah alat atau cara untuk membuatnya bisa tetap tinggal di Jakarta demi meraih impiannya untuk menjadikan bandnya terkenal. Sekaligus menjaga satu impian yang ia pendam sejak lama, melihat keluarganya utuh kembali.


Gilda dan Darrel berjanji untuk menjalani pernikahan mereka dengan serius. Namun mereka memutuskan untuk tidur terpisah dan akan menjalani semuanya pelan-pelan. Masing-masing berharap cinta bisa tumbuh perlahan di antara mereka. Sayangnya saat mereka sedang berusaha memiliki hubungan yang normal muncul pihak lain di tengah mereka. Ada Fandi sang mantan terakhir dan terindah bagi Gilda. Juga ada Deby, penyiar perempuan yang cantik dan muda yang sangat mengerti musik


Bagaimana nasib pernikahan mereka? Bisakah mereka pertahankan? Dan bisakah mereka menjalaninya dengan bahagia?


“Tidak mudah menyukai seseorang.” (Hal. 27)

Senin, 19 Desember 2016

Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara



“Sesungguhnya tak ada fatwa yang mengharamkan media massa menulis tentang orang yang paling jahat sekalipun. Dasar media menulis adalah kemenarikan suatu peristiwa. Di atas itu ada hak publik untuk tahu.” (Hal. viii)


Tim Penyunting: Arif Zulkifli, Bagja Hidayat
Tim Produksi: Gilang Ramadhan, Kendra H. Paramita, Kiagus auliansyah, Hendy Prakarsa, Bismo Agung
Ilustrasi Sampul: Kendra H. Paramita
Tata Letak Sampul: Wendie Artswenda
Tata Letak isi: Windie Artswenda
Penerbit: KPG
Cetakan: Pertama, Oktober 2010
Jumlah hal.: xiv + 108 halaman
ISBN: 978-979-91-0268-3

Ia berbeda dari orang komunis pada umumnya. Ia necis serta piawai biola dan saksofon. Ia menikmati musik simfoni, menonton teater, dan menulis puisi yang tak melulu “pro-rakyat”. Ia menghapus The Old Man dan the Sea –film yang diangkat dari novel Ernest Hemingway- dari daftar film Barat yang diharamkan Partai Komunis Indonesia. Ia menghayati Marxisme dan Leninisme, tapi tak mengganggap yang “kapitalis” harus selalu dimusihi.

Njoto adalah sisi lain dari sejarah Gerakan 30 September 1965. Kecuali buku-buku Orde Baru yang menyebut semua anggota PKI terlibat G30S, kebanyakan sejarawan tak menemukan keterlibatan Njoto dalam aski revolusioner itu.

Menjelang prahara 1965 ia tak lagi berada di lingkaran dalam Ketua PKI D.N Aidit: ia disingkirkan akibat terlalu dekat dengan Sukarno. Keretakan Njoto dengan Aidit dipercaya juga disebabkan oleh perselingkuhan Njoto dengan Rita, seorang perempuan Rusia yang disebut-sebut intel KGB.

Kisah tentang Njoto ini adalah satu cerita tentang “orang kiri Indonesia” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo pada 2007-2010. Menyingkap yang belum terungkap, buku ini mengetengahkan pemikiran, ketakutan, kekecewaan, pengkhianatan, juga kisah cinta dan perselingkuhan sejumlah tokoh komunis Indonesia.

***

“Menyusuri masa lalu adalah memasuki ruang dengan tirai berlapis. Semakin disibak, semakin berdatangan misteri yang baru.” (Hal. x)

Menjadi pengalaman menarik bagi saya saat membaca Seri Buku TEMPO yang diterbitkan oleh KPG. Ini karena sejarah tampil dengan seksi bagi seorang pembaca seperti saya. Membaca sejarah tidak menjadi sebuah hal yang membosankan dan dianggap serius. Dalam buku ini sejarah disampaikan bak sebuah dongeng. Bercerita dengan mengangkat sisi humanis dan mampu menyentuh emosi pembaca.

Hal ini sangat terasa saat saya membaca buku Njoto. Sejujurnya sosok ini sangat asing bagi saya yang jarang menggeluti bahasan “kiri”. Saya tahu tentang PKI, saya tahu tentang G30S namun tidak banyak nama yang saya kenali. Membaca buku ini membuat saya mendapatkan banyak ilmu baru.

Dalam buku ini, saya menangkap gambaran sosok Njoto sebagai orang yang simpatik dan karismatik. “Dalam hal seni dan budaya, Njoto sangat kental. Setiap terbit buku baru, dia pasti mencarinya. Dan, dia tidak pernah tidak membaca majalah kebudayaan yang baru terbit,” kata Trikoyo, .... Penggambaran yang menarik.

00.00



“This ia just two friends going out together. This is just two strangers who decided to going out together.” (Hal. 47)


Penulis: Ardelia Karisa
Editor: Septi Ws
Desainer Kover: Teguh
Ilustrasi isi: Cynthia
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Maret 2016
Jumlah hal.: xvi + 201 halaman
ISBN: 9786023753758
“You realize that you’re always leaving me by this time? The first time we met, the second time, now.”
“I’m such a Cinderella,” kataku singkat menanggapi kalimatnya itu.
“Maybe. But I’m not a stupid prince.”
“Why the prince is stupid?”
“Well, he told Cinderella that he’s in love with her, but he forgets how she looks and has to put a shoe on every girl in the kingdom.” Sangat masuk akal. Tapi, sayangnya aku tidak sepintar itu untuk menyadarinya.
“If I fall in love with a girl I’ll never forget how she looks. And I know exactly where to find her.”

Charvi Adipraman tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Nicolas Moreau – seorang ekspatriat Perancis yang tinggal di Jakarta – mengantarkannya pada ide kencan satu hari penuh. Charvi bertemu Nic tepat satu hari sebelum ia terbang ke Paris untuk mengejar mimpi. Hari itu untuk kali pertama ia mengku jatuh cinta kepada laki-laki yang baru saja ia kenal – suatu hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Berpegang pada rasa saling percaya, Charvi dan Nic berjanji untuk bertemu lagi satu tahun kemudian di tempat yang sama. Namun, satu tahun adalah waktu yang lama. Satu tahun bisa mengubah apa saja, termasuk cinta. Masihkah Charvi menjaga perasaannya untuk Nic setelah keduanya terpisah jarak dan waktu yang terbentang antara Perancis dan Jakarta?
***

“This marriage thing is not the happy ending. As you said before, it’s never ending hard work.” (Hal. xv)

Novel ini bercerita tentang Charvi dan kisah cintanya. Charvi pernah berkenalan dengan seorang ekspatriat dari Perancis, Nic, sehari sebelum ia berangkat ke Perancis. Sebuah keyakinan membuat Charvi memutuskan hal yang membuat Charvi dan Nic bertemu. Membuat mereka menghabiskan waktu bersama. Namun sayangnya semua berjalan di luar rencna Charvi. Sebab jatuh cinta tidak termasuk dalam rencana itu.

Demi mempertahankan prinsipnya sekaligus untuk menjaga dirinya dari patah hati, Charvi meminta Nic untuk “berjudi” dengan nasib. Mereka tidak saling bertukar nomor kontak. Mereka tidak bisa saling berkabar. Cukup datang tepat setahun kemudian di tempat mereka pertama kali bertemu. Jika memang mereka ditakdirkan untuk bersama, maka mereka pasti bertemu.

Lantas bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Apakah takdir sekali lagi mempertemukan mereka? Bagimana kehidupan mereka setelahnya?

“.... Harusnya aku sadar dari awal kalau ‘terlalu sempurna’ itu cuma kamuflase dari hal buruk yang terpendam.” (Hal. 58)