Selasa, 27 September 2016

Terapi Pikiran Bahagia



“... anak adalah “tabularasa”, seperti kertas putih kosong yang siap menerima tulisan apa saja. Intinya, setiap manusia yang dilahirkan ke dunia adalah kosong. Lingkungan yang kemudian berperan untuk mengisi dan membentuk kepribadian tersebut.” (Hal. 110)
 

Penulis: Okatastika Badai Nirmala
Editor: Andriansyah Syihabuddin, Hijrah Saputra, Adhika Prasetya Kusharsanto
Desain sampul: Yudi Nur Riyadi
Penerbit: Emir (divisi Penerbit Erlangga)
Cetakan: kelima, 2016
Jumlah hal: 158 halaman
ISBN: 978-602-703-190-6

Anda ingin bahagai atau tidak bahagia, pikiran Anda sendiri yang menentukan. Jika Anda berpikir bahwa Anda adalah orang yang bahagia, maka Insya Allah Anda akan menjadi orang bahagia. Akan tetapi, jika Anda berpikir bahwa Anda adalah orang yang tidak bahagia, maka seperti itulah diri Anda.

Kebahagiaan Anda hari ini adalah karena kemarin Anda selalu berpikir bahagia. Sedangkan kebahagiaan yang akan Anda raih esok hari adalah karena Anda berpikir bahagia hari ini. berpikir selalu bahagia pada saat ini akan menetukan kebahagiaan Anda di masa mendatang. Kekuatan dahsyat pikiran ini adalah anugerah terbesar dari Allah SWT yang diberikan hanya kepada manusia, tidak bagi makhluk lainnya.

Buku Terapi Pikiran Bahagia ini mengajak Anda untuk mengenal siapa diri Anda sebenarnya, apakah termasuk orang yang bahagia atau orang yang enggan untuk bahagia. Siapa pun Anda, dan apa pun profesi Anda, bacalah buku ini. Ikuti cara terapi yang tepat untuk berpikir bahagia di dalamnya. Kemudian biarkan pikiran bahagia mendominasi isi kepala Anda. InsyaAllah Anda akan menjadi orang yang bahagia secara lebih cepat, terhormat, lebih baik dan spektakuler.

***
“Kebahagiaan tidak ubahnya seperti aliran listrik yang tidak diketahui bentuk atau pun warnanya tetapi nyata sekali dampaknya bagi lampu yang menyala terang di rumah anda, ...” (Hal. 2)

Buku ini adalah sebuah buku yang membahas tentang Happiness atau kebahagiaan. Pencarian tentang makna kebahagiaan serta elemen yang menyusunnya akan menjadi pecarian tanpa henti bagi umat manusia. Aristotles dan Plato sudah melakukan pencarian jawaban atas banyak pertanyaan tentang kebahagiaan manusia. Dan hingga kini orang-orang masih terus mempertanyakan hal yang sama. Ini karena akhirnya, setiap orang memiliki definisi sendiri atas kebahagiaan dan juga standar masing-masing atas hal itu.

Namun buku ini mencoba mengetengahkan tentang makna kebahagiaan dan cara untuk meraih kebahagiaan yang bisa diterima secara umum. Tentang kebahagiaan bersyarat ataupun tanpa syarat. Tentang bagaimana menjadi orang bahagia berdasarkan pengalamannya selama menjadi hipnoterapis dan motivator.

Dalam buku ini terdapat 12 bab pembahasan tentang kebahagiaan. Dibuka dengan pembahaasan 1) “Apa Itu Bahagia?”; kemudian 2) Mengapa Harus Bahagia; kemudian berturut-turut 3) Bagaimana Cara Bahagia; 4) Cara Menemukan “Wortel” dan “Cambukan”; 4) Mengetahui Cara Kerja Pikiran; 5) Pikiran Sadar; 6) Pikiran Bawah Sadar; 7) Channel Pikiran; 8) Sinyal Pikiran; 9) Instal Pikiran; 10) Memahami Kehidupan di Masa Lalu; 11) Virtual Forgiveness; 12) Tips Praktis Bahagia.

Melihat pembagian chapter di dalam buku ini kita bisa melihat betapa menyeluruh bahasan yang berusaha dijelaskan oleh penulis. Di dalam masing-masing chapter tersebut terdapat pembahasan simple. Contohnya di bab “Mengapa Harus Bahagia?”, ada pembahasan tentang keunggulan orang bahagia yang terbagi menjadi 3 poin. Ada pula pembahasan tentang dampak yang dialami oleh orang yang hidup tanpa kebahagiaan, yaitu 1) Hidup terasa sulit; 2) Mudah terserang penyakit; dan 3) Dikelilingi oleh orang-orang yang menderita.

Di dalam buku ini ada dua penjelasan yang menarik bagi saya, yakni tentang Law of Attraction dan Virtual Forgiveness. Di dalam Law of Attraction, penulis menjelaskan tentang pentingnya sebuah pikiran positif. Bahwa ketika kita berpikir tentang kebahagiaan atau hal positif lainnya, maka pikiran kita akan memantulkan hal tersebut ke semesta sehingga hal-hal terkait kebahagiaan atau hal-hal positif ini akan kembali ke kita karena dipantulkan kembali oleh semesta. Nah, hal yang sama berlaku bagi pikiran negatif.

Sedangkan dalam Virtual Forgiveness, pembaca akan diajarkan cara berdamai masa lalu dan mendapatkan penjelasan tentang kenapa hal ini perlu dan penting di lakukan. Bagaimana cara yang tepat untuk melakukan virtual forgiveness ini

Membaca buku ini akan mengajak pembaca untuk mulai membiasakan diri untuk berpikir positif. Percaya bahwa kebahagiaannya ditentukan oleh diri sendiri. Bahwa tidak selalu karena mendapatkan hal-hal menyenangkan kita menjadi bahagia; melainkan karena yakin bahwa kita adalah orang yang bahagia maka hal-hal bahagia akan menghampiri kita.

Oiya, sedikit masukan dari saya untuk penulis. Gaya bahasa masih terkesan kaku. Padahal pembahasannya cukup untuk semua usia termasuk remaja. Sangat disayangkan jika pembaca remaja berhenti membaca buku ini di tengah jalan karena gaya menulis yang terasa serius dan kaku ini.

“Bahagia adalah suatu kondisi ketika Anda bisa berpikir, merasakan, dan menikmati keindahan, sehingga apa pun tantangn yang Anda hadapi dalam kehidupan tetap dipersepsi indah di dalam pikiran Anda.” (Hal. 5)
***

Kumpulan Quote dalam Terapi Pikiran Bahagia
“... hidup akan mudah dijalani oleh orang yang memutuskan untuk bahagia bagi dirinya.” (Hal. 28)
“Masalah tetap jadi masalah jika dianggap masalah.” (Hal. 28)
“Orang yang ingin bahagia, di saat mengalami kesulitan sekali pun, ia tetap berorientasi pada kebahagiaan.” (Hal. 30)
“Jadi, prinsipnya, setiap gelombang pikiran apa pun yang Anda pancarkan ke alam semesta, maka semesta dunia akan memantulkan kembali energi yang sama ke dalam kehidupan Anda.” (Hal. 39)
“Manusia akan mendekati kesenangan dan akan menjauhi kesengsaraan.” (Hal. 52)

“Tanpa menentukan impian, Anda tidak akan tahu akan ke mana menjalani kehidupan ini. Tanpa impian, Anda bisa hidup, tapi dalam kegalauan. Tanpa impian, kebahagiaan yang Anda ingin mustahil tercapai. Sebab Anda sendiri tidak tahu kebahagiaan seperti apa yang Anda harapkan?” (Hal. 148)

Toraja



“Sahabat adalah orag yang bisa menerima kamu dalam keadaan apa pun,....” (Hal. 122)
“Sahabat itu ibarat keluarga kedua.” (Hal. 123)


Penulis: Endang SSN
Editor: Diaz
Desainer cover: Aan_Retiree
Layouter: Fitri Raharjo
Pracetak: Endang
Penerbit: de Teens
Cetakan: Pertama, Agustus 2014
Jumlah hal.: 244 halaman
ISBN: 978-602-296-006-5

“Bira! Pada cinta yang tulus, jarak hanya cara Tuhan untuk membuatmu mengerti bagaimana rindu itu akan menemukan jalan pulang.”

Toraja menjadi pilihan dua sahabat, Tomi dan Sandy, untuk traveling sekaligus sebagai pelarian Sandy dari patah hati dan status pengangguran. Di tempat yang eksotis itu, Sandy berhasil move on dan menemukan seorang gadis Toraja. Tapi, masalah tak selesai di situ. Cinta mereka tak direstui orang tua si gadis karena tidak boleh menikah dengan orang dari luar Toraja.

Ah, cinta..., selalu butuh perjuangan, meski hati keduanya telah bertaut sekalipun.
***

“Cinta tak pernah salah untuk datang,...” (Hal. 11)

Novel ini bercerita tentang kehidupan Sandy, mahasiswa psikologi yang lulus dengan predikat cum laude dan selesai tepat waktu. Sayangnya prestasi akademik tersebut tidak membuatnya segera mendapatkan pekerjaan dan kemudian siap untuk hidup mapan.

Di sisi lain, Sandy juga sedang berusaha membunuh rasa cinta yang sesekali masih membuatnya merindukan Olly, gadis yang sempat mengisi waktu dan harinya saat masih kuliah. Olly adalah pacar pertamanya. Sayangnya hubungan mereka berakhir dengan buruk. Sandy mengetahui bahwa Olly berbagi kasih dengan laki-laki lain di belakangnya.

Novel ini kemudian menceritakan petualangan Sandy ke Toraja bersama Tomi. Banyak hal yang mereka lewati. Sandy menemukan banyak hal baru. Termasuk cinta baru bernama Bira. Sayangnya hubungan mereka tidak mudah. Bira yang asli berasal dari Toraja dan Sandy yang berasal dari Jakarta terbentur oleh adat.

Sanggupkah Sandy memperjuangkan cintanya kali ini?

“Sering kali, duka dan perih membuat seseorang tampil sebagai Superman. Energi negatif yang bisa bertransformasi positif sedikit banyak memberi kekuatan untuk sebuah pencapaian.” (Hal 15)

***

 “Jangan terperdaya oleh cinta semu! Belajarlah untuk menilai hati dengan lebih baik!” (Hal. 18)

Minggu, 25 September 2016

Jadian 6 Bulan



“..., izinkan aku untuk hanya mencintai-Mu. Mengukir nama-Mu dalam kalbuku, dan menjaga cinta-Mu dengan segenap tenaga, hati, dan pikiran. Aku tidak ingin, cinta yang selama ini telah Kau beri, ternoda oleh cinta-cinta semu lain yang tiada guna.” (Hal. 121)


Penulis: Rhein Fathia
Ilustrasi: Nisa Nafisah
Penyunting naskah: Dadan Ramadhani
Penyunting ilustrasi: Kulniya Sally
Proofreader: Renny Andriyani
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I, 2013
Jumlah hal.: 192 halaman
ISBN: 978-602-242-159-7

Cinta bukanlah permainan. Apa pun alasannya, cinta bukanlah sarana pertaruhan gengsi.
Siapa pun tak ada yang menduga kalo Rio, cowok keren idola cewek se-SMA Negeri 1 Bogor itu, nekat nembak Tiara, seorang jilbaber, aktivis Rohis.
Gayung bersambut, Tiara mau jalan bareng sama cowok yang jago maen basket itu. Seisi “dunia” dibikin heboh oleh ulah mereka.
“Rio jadian sama Tiara? Mustahil!” cetus fans Rio.
“Tiara pacaran sama Rio? Masya Allah!” seru anak-anak Rohis.
Apa sesungguhnya yang mereka lakukan? Benarkah mereka jadian? Kalau benar mereka jadian, kenapa Rio suka uring-uringan sendiri?
Wah, bakal seru abis, nih, kalo benar mereka pacaran!
***

“Yang namanya kangen itu, berasal dari hawa nafsu. Cara menahan hawa nafsu yang efektif dengan berpuasa. Itu ajaran Rasulullah.” (Hal. 26)

Novel ini bercerita tentang Tiara, gadis yang kalem dan terkenal sangat menjaga diri serta berusaha menegakkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-harinya. Tiara yang kemudian dikabarkan menerima pernyataan cinta Rio, pemuda populer di sekolah karena fisik yang menawan, kemampuan basket yang mumpuni, kecerdasan otak, serta limpahan materi yang banyak.

Mereka bukanlah pasangan yang tidak serasi. Namun mereka adalah pasangan yang mustahil bersama. Kenapa? Karena bagaimana mungkin bad boy yang hobi menjalin hubungan tanpa status dengan cewek yang berbeda-beda bisa menjalin hubungan dengan seorang perempuan shalehah yang enggan jalan berdua dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Bahkan Tiara tidak bersalaman dengan laki-laki yang bukan mahramnya.

Hal inilah yang membuat seisi sekolah gempar. Tiara yang mengakui kebenaran berita itu malah disidang oleh anggota rohis lainnya. Dipaksa untuk mengakhiri hubungannya dengan Rio. Namun gadis itu menolak dengan alasan bahwa ia punya pertimbangan sendiri. Lagi pula salah satu ruang hati Tiara sudah diisi oleh seorang ikhwan. Perasaan tertarik yang telah dijadikan fitrah manusia oleh-Nya itu pun telah dirasai oleh Tiara. Bukan pada Rio, tapi pada sosok bernama Andromeda.

Di pihak lain, Rio sendiri memiliki alasan untuk mendekati Tiara. Demi sebuah pertaruhan. Ya, kawan-kawan Rio menantang pemuda itu untuk menjadikan Tiara “korban”nya. Dan demi harga diri Rio pun menerima tantangan itu.

Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sebenarnya alasan Tiara? Lantas bagaimana perasaan dan hubungan Tiara dengan Andromeda?

“Kalau kamu berada dalam keadaan tegang dan tidak bisa mengendalikan emosi, cobalah untuk berwudlu. Insya Allah, air wudhu bisa menenangkan pikiranmu.” (Hal. 122)

***

“Hm ... masa depan. Sebuah kehidupan yang tak seorang pun mengetahuinya. Meskipun itu milik diri sendiri. Karena dia tertutup oleh tirai. Tirai tipis yang harus kita sibak.” (Hal. 159)

Sabtu, 24 September 2016

Ladies' Journey



“Tapi gue capek jadi figuran di kisah cinta gue sendiri. Kenapa harus jadi nomor dua? Kenapa nggak bisa cuma ada aku dan kamu? Bukan aku, kamu, dan kenangan?” (Hal. 84)


Penulis: Lala, Purwono, Triani Retno, Icha Ayu, dkk
Editor: Herlina P. Dewi
Desain sampul: Teguh Santosa
Layout: DeeJe
Proofreader: Tikah Kumala
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: I, Juni 2013
Jumlah hal.: vii + 168 halaman
ISBN: 978-602-7572-15-7

Karena Setiap Perjalanan Menyimpan Cerita

Setiap perjalanan menyimpan cerita: kepedihan, kekecewaan, kehangatan, ataupun kebahagiaan. Begitulah kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini. Mereka meninggalkan rumah untuk mencari kepastian, mencari cinta, menemukan jati diri, atau bahkan untuk kabur dari hiruk pikuknya hidup.

Beberapa perempuan menempuh jarak dan waktu, demi cinta. Di sudut Jakarta, Lina harus menabung keberanian untuk kembali pulang dengan sekoper kesedihan. Sementara Clara menemukan dirinya kembali ke negeri antah-berantah. Perempuan lainnya sibuk membuang masa lalu dan mulai mengoleksi kepingan-kepingan masa depan.

Kisah-kisah dalam buku ini akan mengantarkanmu menjelajah waktu dan menelusuri kenangan, karena setiap perjalanan menyimpan cerita.
***

“Menjadi seorang ibu bukan melulu perkara hamil dan melahirkan. Tanpa harus berdiam di rahimnya, aku tahu dialah ibu yang dipilihkan Tuhan untukku.” (Hal. 1)

Buku Ladies’ Journey ini adalah sebuah kumpulan cerita yang ditulis oleh 13 orang penulis berbeda. Tulisannya berupa cerita pendek yang mengandung setting tentang sebuah perjalanan. Perjalanannya ini tidak melulu tentang sebuah perjalanan liburan tapi juga termasuk perjalanan pulang. Pulang dari mengelana, pulang untuk mengobati luka.

Bukankah hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan?

Dari 13 kisah yang terdapat di dalam buku ini, ada dua cerita yang lebih berkesan bagi saya. Pertama adalah tulisan Eva Sri Rahayu yang berjudul “Perjalanan Kenangan”. Cerpen ini bercerita tentang tokoh utamanya yang enggan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki yang memiliki kenangan. Sebab ia tidak mau jika harus bersaing dengan kenangan. Itu jauh lebih sulit daripada bersaing dengan seseorang yang nyata.

“Lo tahu, kadang gue berpikir, apa yang kalian cintai itu adalah kenangan bersama cewek lo, bukan orangnya. Itu hanya karena cinta lo dulu mungkin nggak tersampaikan, atau nggak selesai dan kalian keburu pisah.” (Hal. 88)

Itu adalah kutipan yang muncul dalam cerita ini. Pertanyaannya, adakah seseorang yang tidak memiliki kenangan? Bisa saja ia memang tidak pernah memiliki pacar seumur hidupnya, namuun bukan berarti ia tidak pernya menyukai orang lain sebelumnya. Bukankah hal itu pun adalah sebuah kenangan? Inilah yang membuat cerita ini menarik. Pembaca jadi bertanya-tanya tentang akhir cerita. Adakah laki-laki semacam itu? Laki-laki yang tidak memiliki kenangan.

Cerita kedua yang menarik bagi saya adalah tulisan Lala Purwono yang berjudul “I am Leaving”. Cerita ini lebih menceritakan tentang perjalanan pulang. Bagaimana kadang manusia dihadapkan pada satu-satunya pilihan yang ia punya, pulang!

Bercerita tentang tokoh bernama Lina yang berusia 34 tahun. Ia tengah berada di titik terbawah kehidupannya. Tidak punya masa depan, tidak punya uang dan hanya memiliki hati yang telah pecah berkeping-keping. Keputusan untuk meninggalkan rumah demi mengejar cinta ternyata berujung pada malapetaka. Ia menyerahkan hatinya pada orang yang salah. Suami orang. Dan kini saat semuanya kacau dan ia tidak lagi memiliki apapun ia pun memutuskan pulang. Kembali kepada orang yang selalu menunggunya dengan setia, Ibu. Ya, pelukan seorang ibu akan selalu menjadi tempat pulang paling nyaman.

Masih ada 11 cerita lainnya di dalam buku ini dengan warna dan tema yang berbeda. Menurutmu, perjelanan semacam apa yang akan meninggalkan kesan paling kuat bagimu, Readers?

“Setiap kelahiran pastilah membawa misi penting. Seperti umumnya manusia, lahir untuk memikirkan dan memimpin dunia. Paling tidak untuk nasib dan kepentingannya sendiri. Alangkah buruknya kelahiran tanpa misi. Kelahiran celaka yang tak pernah diharapkan.” (Hal. 53)

***

“Dan sekarang aku tahu, mematuhi perintah tanpa kehendak hati hanya akan menyiksa diri.” (Hal. 59)

Membaca kumpulan cerita selalu memberi sensasi yang berbeda dari membaca novella hingga novel. Apalagi jika kumpulan cerita tersebut ditulis oleh sejumlah orang bukan hanya satu orang. Kenapa? Karena biasanya buku semacam ini akan memberikan banyak warna. Sebab tidak ada dua orang yang akan menulis dengan gaya yang sama persis. Setiap penulis punya ke-khasannya sendiri.

Jumat, 23 September 2016

Promises



“Dalam perjalanan, Joshua tersadar, bahwa semuanya menyimpan rahasia dalam dirinya masing-masing. Baik Lana, Alex, juga dirinya. Karena pada dasarnya manusia akan selalu punya rahasia yang ia sembunyikan.” (Hal. 156)


Penulis: Kristi Jo
Desain cover: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 232 halaman
ISBN: 978-602-03-2000-7

“Kita tulis apa saja harapan kita dalam waktu lima tahun ke depan.”

Joshua, Lana, dan Alex sudah bersahabat sejak kecil dan memutuskan untuk menuliskan pesan berisi harapan yang nantinya akan dikubur di Taman Gembira. Hal itu dilakukan untuk mengenang persahabatan mereka yang sebentar lagi akan terpisah jarak.

Lima tahun kemudian mereka kembali bertemu dan menemukan bahwa persahabatan mereka tidaklah seperti dulu. Tidak mau persahabatan mereka putus, Joshua bertekad mencari tahu mengapa Alex yang kini dikenalnya terasa asing dan Lana memilih menutup diri.

Ada rentang waktu yang menyimpan rahasia dan membuat jalan mereka bertiga tak bersinggungan. Tapi, mereka berharap bahwa perasaan yang pernah ada itu hadir, membawa kembali persahabatan mereka seperti sedia kala.
***

“Setiap orang pasti berubah. Hidup lo berubah. Kita nggak cuma diam di tempat, kan?” (Hal. 93)

Sebuah janji diikrarkan oleh tiga orang yang bersahabat sejak SD, yakni Alex, Lana, dan Joshua. Selama sembilan tahun bersama mereka kemudian dihadapkan pada perpisahan. Lana melanjutkan SMA ke Melbourne dan Joshua ke Surabaya. Tinggallah Alex sendiri di Jakarta.

Sebelum mereka berpisah, mereka menanam kapsul waktu di Taman Gembira. Berjanji akan kembali lagi lima tahun kemudian untuk membuka kapsul waktu tersebut. Sekaligus memastikan bahwa pershabatan mereka akan tetap terjalin dengan baik.

Sejak berpisah mereka memang tidak pernah benar-benar putus komunikasi. Ini karena mereka masih terus berkomunikasi via e-mail, Skype, dan Whatsapp. Namun ternyata saat tiba waktunya untuk memenuhi janji lima tahun tersebut, satu persatu rahasia yang tersimpan rapat pun terbuka.

Bermula dari Alex yang tidak datang ke Taman Gembira untuk memenuhi janji untuk berkumpul lagi. Lana dan Joshua pun mencari sahabat mereka itu. Kemudian mendapati bahwa Alex sudah satu tahun pergi meninggalkan rumah. Menjadi pemakai obat-obatan terlarang dan hidup tidak jelas. Itulah rahasia Alex selama ini.

Selama pencarian ini, baik Lana dan Joshua pun menyimpan rahasia mereka masing-masing. Lana yang memendam cinta pada Joshou serta sebuah luka dipergelangan tangannya. Luka yang akan terus mengingatkannya tentang sebuah tragedi yang ia sembunyikan dari kedua sahabatnya. Sedangkan Joshua? Ia pun menyimpan rahasianya sendiri. Berusaha untuk tetap menjadi pihak yang paling kuat dan ceria di antara mereka. Meski sebenarnya ia pun sedang berjuang menghadapi kenyataan lain dalam hidupnya.

Bagaimanakah nasib persahabatan mereka? Bisakah mereka mempertahankannya? Bukankah usia pertemanan yang mencapai 15 tahun bukanlah rentang waktu yang singkat untuk berakhir begitu saja?
Ketika sebuah janji dan sebuah rahasia saling berhadapan, yang mana yang akan menang? Janji persahabatan itu atau rahasia kelam mereka masing-masing.

“Orang boleh beruabah, waktu boleh bertambah, tapi ikatan persahabat kita nggak harus putus.” (Hal 93)

Kamis, 22 September 2016

The Mirror Twins



“Sebuah peristiwa tidak selamanya disebut tragedi jika setelahnya ada hal baik yang tercipta.” (Hal. 174)

Penulis: Ida R. Yulia
Editor: Fanti Gemala
Desain kover & ilustrasi: Dyndha Hanjani Putri
Penata isi: Putri Widia Novita
Penerbit: Grasindo
Cetakan: pertama, Juni 2015
Jumlah hal.: vi + 177 halaman
ISBN: 978-602-375-057-3
Orang-orang mengenalku dan saudara kembarku, Vincent, sebagai The Mirror Twins, Kembar Cermin. Meski wajah kami sangat mirip, ia berusaha menjadi sosok yang berbeda denganku, sengaja atau tidak. Aku kidal, ia tangan kanan. Aku cerdas dan aktif di sekolah, ia tak peduli dengan sekolah. Aku gadis remaja baik-baik, ia cowok nakal dan suka berbuat semaunya sendiri. Dan, ini yang membuatku kesal sekaligus sedih; aku sangat menyayangi Mom, ia justru cenderung tak betah berada di dekat Mom.

Sampai kemudian sebuah tragedi menimpa keluarga kami, Whitney, kakak tertua kami, membawa lari uang bosnya sebesar 250 ribu dolar. Jumlah yang fantastis, mampu membuat orang sekaliber Reynold Hendale – sang bandar narkotika – melakukan tindakan brutal; menjebol rumah kami, membuat Mom menderita, hingga menculik aku dan Vincent sampai melintasi perbatasan Indianapolis.

Kami adalah Kembar Cermin. Kisah penculikan kami hampir menyerupai dongeng Hansel and Gretel. Hanya saja, jika Hansel meninggalkan remah roti sebagai jejak agar ia dan adiknya bisa menemukan jalan kembali ke rumah, Vincent justru meninggalkan bercak darah.

Aku bahkan tak yakin kami bisa kembali pulang.
***
“Tempus neminem manet. ... Waktu tak menunggu siapa pun.” (Hal. 17)
Novel in bercerita tentang dua orang yang bersaudara. Mereka kembar identik namun dengan jenis kelamin yang berbeda. Mereka tumbuh menjadi dua karakter yang saling bertolak belakang meskipun besar di lingkungan dan didikan yang sama. Ini karena mereka ternyata mengambil pilihan yang berbeda dalam menghadapi badai dalam keluarga mereka. Mereka adalah Vincent dan Emma.

Badai di keluarga mereka adalah sebuah kejadian yang tidak pernah mereka duga. Ayah Vincent dan Emma meninggal karena ditembak oleh polisi saat bertransaksi kokain. Ya, mereka tidak menduga bahwa ayah mereka yang ceria dan baik hati yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pipi ternyata adalah seorang pengedar narkoba. Ini membuat Vincent, Emma, ibu mereka dan kakak mereka terpukul. Ironisnya, Whitney, kakak perempuan mereka satu-satunya malah mengikuti jejak sang ayah. Dan akhirnya membawa malapetaka bagi Vincent dan Emma.

Karena tindakan Whitney yang membawa kabur uang hasil transaksi narkoba senilai 250 ribu dollar, Emma dan Vincent menjadi korbannya. Mereka dijadikan sandera untuk memaksa Whitney pulang. Sayangnya, kakak mereka seolah sudah mati rasa. Membuat keduanya harus berjuang meloloskan diri sendiri. Berjuang demi hidup dan mati. Syukurlah mereka tidak sendiri sebab mereka saling memiliki satu sama lain.

Lantas berhasilkan Vincent dan Emma membebaskan diri? Ataukah hanya salah satu dari mereka yang berhasil pulang dengan utuh dan selamat?
“.... Menangis tanpa bersuara, dan itu menyakitkan bagi Emma. Karena ia tahu, menangis dengan cara seperti itu lebih terasa perih di dalam.” (Hal. 88)

Rabu, 21 September 2016

Kisah Seorang Gadis



“Mudah rasanya berpikir akan tetap mencintai seseorang ketika suatu kejadian hanya berupa kemungkinan. Namun, saat kemungkinan itu menjadi kenyataan .... Tidak. Semuanya sama sekali tidak semudah yang aku bayangkan.” (Hal. 110)


Penulis: P.S. Putri
Desain Sampul: P.S. Putri
Penerbit: GrayScale Publishing
Cetakan: 2014
Diterbitkan melalui www.nulisbuku.com

“Tokoh utama pria memang selalu digambarkan dengan sempurna di layar kaca rakyat Indonesia. Namun, aku tidak pernah tertarik dengan tokoh utama. Bagiku, kesempurnaan itu terlalu berlebihan. Terlalu menyesakkan. Dalam beberapa cerita, kesempurnaan itu juga bisa membuat sang tokoh utama menjadi terlalu dominan. Tokoh utama cenderung merasa bahwa apapun yang diinginkannya, pasti akan ia dapatkan. Egois, ya? Makanya, aku tidak suka. Setiap kali menonton sebuah pertunjukan teater atau film, aku selalu lebih tertarik pada side character–pemeran pembantu....”

Gadis Aretha adalah mahasiswi baru di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Wajahnya biasa saja, keluarganya tidak kaya, dan kepribadiannya bisa dikatakan buruk. Anehnya, Hari Wijaya, sang ketua BEM yang menjadi idola banyak orang, tetap jatuh hati kepadanya. Sementara itu, Gadis justru tertarik kepada Seno, pemuda pendiam dari fakultas sebelah yang setiap hari kerjanya hanya menyendiri dan membaca buku saja. Perasaan Gadis tetap tidak berubah meskipun orang lain mengatakan bahwa Seno aneh atau memiliki tampang seperti “bapak-bapak”. Namun, ketika sebuah rahasia besar mulai terkuak, akan mampukah Gadis bertahan mencintai Seno?
***

“Aku tahu sebuah buku yang menarik bisa membuat beberapa orang lupa akan dunia nyata di sekelilingnya.” (Hal. 11)

Novel ini bercerita tentang tokoh utama bernama Gadis yang kuliah di jurusan komunikasi. Karakternya yang perfeksionis dan cenderung tertutup membuatnya kesulitan berbaur di kampus. Karakter Gadis ini mewakili mahasiswa yang kerjanya kuliah pulang – kuliah pulang (kupu-kupu) kali, ya. Ha..ha..

Hingga suatu hari, tanpa sengaja ia menemukan sebuah taman yang indah. Ia menyebutnya taman rahasia. Taman ini ia temukan tanpa sengaja saat menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar gedung fakultasnya. Taman ini indah dan sepi. Sangat jarang orang melintasinya. Namun ia selalu menemukan satu sosok itu di sana. Duduk sendiri dan sibuk membaca buku yang dipegangnya.

Lelaki itu bernama Seno, mahasiswa fakultas psikologi. Mereka jarang bertegur sapa. Hanya saling berbagi ruang di taman rahasia itu. Seno sibuk dengan bukunya, Gadis sibuk dengan pikirannya yang mengelana dan musik yang mengalun dari headphone-nya. Namun kebersamaan yang lebih sering diisi sunyi ini memberi rasa nyaman dan aman bagi Gadis. Hingga tanpa ia sadari perasaan itu tumbuh. Ia mencintai Seno.

Perasaan ini kemudian diuji oleh kenyataan yang ia ketahui belakangan. Kenyataan bahwa Seno berbeda. Bahwa laki-laki itu bisa saja berbahaya baginya. Dan akhirnya kita sebagai pembaca pun dibuat bertanya-tanya, yang manakah yang merupakan kebenaran?

“Cinta, kan, bisa datang dari mana saja, Dis.” (Hal. 24)

***

“Manusia itu hanya melihat apa yang ingin dia lihat. Mendengar apa yang ingin dia dengarkan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mempercayai sesuatu kalau dia tidak menginginkannya. Jadi ....” (Hal. 60)

Saat mendapatkan novel ini dari seorang teman, saya jatuh suka dengan cover-nya. Ternyata, gambar yang ada di sampul novel ini adalah gambar sebuah taman yang nyata yang menjadi inspirasi penulis dalam menciptakan “Taman Rahasia” miliki Gadis dan Seno. Indah ya :)