Minggu, 22 Januari 2017

MOMMYCLOPEDIA: Panduan Lengkap Merawat Bayi (0-1 tahun)




Penulis: dr. Meta Hanindita Sp. A
Desain sampul dan ilustrasi: Nynda Fatmawati Public Relation Management in collaboration with Haikalogy
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: 123 halaman
ISBN: 978-602-03-3461-5

Buku ini memberikan panduan yang tepat dan praktis secara medis untuk merawat bayi pada tahun pertama.

Ditulis dengan bahasa singkat dan jelas serta dipenuhi ilustrasi menarik, semua informasi di dalamnya akan membuat hari-hari merawat dan mengasuh bayi semakin menyenangkan.

Dilengkapi dengan QR Code di hampir setiap halaman, Anda bisa mendapatkan informasi tambahan yang lebih lengkap melalui aplikasi Mommyclopedia.

***

Sejak hamil, saya menyadari bahwa bacaan terkait kehamilan, melahirkan dan menyusui jarang dilirik jika dirasa belum dibutuhkan. Padahal ada baiknya jika tanggal pernikahan sudah ditetapkan, maka ilmu terkait kehamilan dan melahirkan sudah mulai dikumpulkan. Hal serupa pun terjadi dalam hal merawat bayi. Buku-buku terkait perawatan bayi sudah mulai dilirik saat sudah memasuki tri semester akhir.

Saat menyadari kebutuhan akan buku-buku yang membahas tentang perawatan bayi, saya menyadari bahwa buku-buku tipe ini sulit ditemui dan lebih banyak yang menitiberatkan pada MPASI. Padahal sebagai new mom yang baru pertama kali merawat bayi, maka pengetahuan paling awal yang saya butuhkan adalah bagaimana merawat bayi yang baru lahir. Baru kemudian fokus pada MPASI. Itu sebabnya saya langsung tertarik saat judulnya menyebutkan usia bayi yakni 0 sampai 1 tahun.

Buku ini memiliki tampilan yang menarik. Tidak hanya cover nya yang manis dengan gambar ibu dan anak. Di dalam buku pun ilustrasinya menampilkan gambar yang setipe sebagai pelengkap penjelasan yang tertulis di dalam buku. Dan paling menyenangkan adalah buku ini full colour. Saat dibaca bersama bayi pun akan membuat mereka tertarik untuk meraihnya.

Jumat, 30 Desember 2016

[Blogtour: Review + GA] Rewrite



“Laki-laki ganteng dan kalimat gombal memang merupakan paduan yang cocok untuk membuat jantungmu berdebar kencang, bukan?” (Hal. 13)

Penulis: Dirsta Alifia
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.:  249 halaman
ISBN: 978-602-02-9546-6

Sejauh apa pun aku menghindar, ternyata, langkah-langkahku selalu terarah padamu.
Saras Widjaya, seorang perempuan yang harga dirinya lebih tinggi dari langit ketujuh menepis segala rindu yang ia punya pada sang mantan kekasih.
Gilang Ranggala, yang pandai menerbangkan pesawat dan juga harapan Saras, tak pernah tidak menyesali perbuatannya satu tahun lalu. Emosi yang begitu meledak, juga kata-kata yang tak seharusnya ada, membuat hubungan yang sudah mereka bangun tiga tahun runtuh begitu saja.
Namun, sekuat apa pun Saras menyangkal, ia tetap tak bisa menghindari bayang-bayang Gilang. Sedalam apa pun Gilang menyesal, ia sudah kehabisan cara meyakinkan Saras.
Dalam diam, mereka berharap.
Semoga kisah ini dapat ditulis ulang dengan akhir yang paling baik untuk mereka berdua.

***

“Kadang, banyak orang yang berpikir bahwa mereka adalah pusat kehidupan bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Padahal belum tentu orang-orang peduli sama mereka.” (Hal. 7)

Novel ini berkisah tentang Saras dan Gilang, yang pernah memiliki masa lalu bersama. Mereka pernah menjalin kasih selama 3 tahun. Berbagi banyak hal, termasuk impian untuk menjalani masa depan bersama. Sayangnya hubungan itu harus berakhir dalam satu malam.

Gilang yang kemudian menyadari bahwa ia tidak bisa melupakan Saras. Mencoba untuk memperjuangkan kembali Saras. Berusaha mendapatkan kembali kesempatan itu. Saat mereka kembali bertemu di London, Gilang merasa itu menjadi kesempatan yang dia miliki untuk mengubah kenangan yang mereka miliki setahun sebelumnya. Setahun lalu, hubungan Gilang dan Saras berakhir di London. Maka ia berharap London pula yang akan membawa kembali Saras padanya.

Bisakah Gilang meraih kembali Saras? Mengobati luka yang sudah ia torehkan di hati Saras?

***

“.... Senyum kamu selalu bikin aku ingat, di mana pun aku berada, aku selalu punya tempat untuk istirahat. Tempat untuk kembali pulang.” (Hal. 60)

Kamis, 29 Desember 2016

Unpredictable Marriage



"Hati yang kecewa selalu menimbulkan luka. Luka di hati memang tidak terlihat, tapi justru yang tidak terlihat itulah yang paling sulit untuk disembuhkan"(Hal. 222)


Penulis: Aiu Ahra
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Penata Letak Sampul: Tim Desain Broccoli
Penata Isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Oktober 2016
Jumlah hal.: 249 halaman
ISBN: 978-602-3756919

Apa jadinya kalau ada lelaki yang tak kau kenal tiba-tiba menawarkan pernikahan denganmu?

Gilda, pada usianya yang ke-29 tahun dan tuntutan menikah dari ibunya, dihadapkan pada tawaran menikah oleh Darrel. Lelaki yang lebih muda tiga tahun darinya. Lelaki bergaya slengean yang adalah pemain band. Keduanya menikah tanpa cinta. Hanya mengandalkan komitmen untuk membentuk sebuah keluarga.

Darrel bukanlah tipe ideal Gilda. Namun, perlahan ia sadar cinta memang bisa hadir tanpa rencana. Di balik sikap Darrel yang semaunya, lelaki itu selalu punya kejutan.

Namun, ketika keduanya mulai sadar dengan perasaan cinta masing-masing, masalah besar justru hadir. Pernikahan mereka terancam! Mampukah Darrel dan Gilda melewatinya?

***

“Cinta mungkin datang secara tiba-tiba, tapi ingat cinta juga bisa tumbuh kalau ditanam. ...” (Hal. 25)

Gilda, perempuan yang usianya mendekati kepala tiga dan mulai dirisaukan oleh masalah pernikahan. Ia semakin terdesak saat adiknya sangat ingin menikah dengan kekasihnya namun tidak ingin mendahului Gilda. Ibunya pun semakin semangat menyomblanginya.


Pertemuannya dengan Darrel terasa sebagai jalan keluar baginya. Pertemuan mereka  awalnya terasa aneh. Pertemuan kedua sangat menyebalkan. Namun akhirnya tawaran dari Darrel untuk menikah seolah menjadi jalan keluar baginya. Dan bagi Darrel sendiri, pernikahan hanyalah sebuah alat atau cara untuk membuatnya bisa tetap tinggal di Jakarta demi meraih impiannya untuk menjadikan bandnya terkenal. Sekaligus menjaga satu impian yang ia pendam sejak lama, melihat keluarganya utuh kembali.


Gilda dan Darrel berjanji untuk menjalani pernikahan mereka dengan serius. Namun mereka memutuskan untuk tidur terpisah dan akan menjalani semuanya pelan-pelan. Masing-masing berharap cinta bisa tumbuh perlahan di antara mereka. Sayangnya saat mereka sedang berusaha memiliki hubungan yang normal muncul pihak lain di tengah mereka. Ada Fandi sang mantan terakhir dan terindah bagi Gilda. Juga ada Deby, penyiar perempuan yang cantik dan muda yang sangat mengerti musik


Bagaimana nasib pernikahan mereka? Bisakah mereka pertahankan? Dan bisakah mereka menjalaninya dengan bahagia?


“Tidak mudah menyukai seseorang.” (Hal. 27)

Senin, 19 Desember 2016

Njoto: Peniup Saksofon di Tengah Prahara



“Sesungguhnya tak ada fatwa yang mengharamkan media massa menulis tentang orang yang paling jahat sekalipun. Dasar media menulis adalah kemenarikan suatu peristiwa. Di atas itu ada hak publik untuk tahu.” (Hal. viii)


Tim Penyunting: Arif Zulkifli, Bagja Hidayat
Tim Produksi: Gilang Ramadhan, Kendra H. Paramita, Kiagus auliansyah, Hendy Prakarsa, Bismo Agung
Ilustrasi Sampul: Kendra H. Paramita
Tata Letak Sampul: Wendie Artswenda
Tata Letak isi: Windie Artswenda
Penerbit: KPG
Cetakan: Pertama, Oktober 2010
Jumlah hal.: xiv + 108 halaman
ISBN: 978-979-91-0268-3

Ia berbeda dari orang komunis pada umumnya. Ia necis serta piawai biola dan saksofon. Ia menikmati musik simfoni, menonton teater, dan menulis puisi yang tak melulu “pro-rakyat”. Ia menghapus The Old Man dan the Sea –film yang diangkat dari novel Ernest Hemingway- dari daftar film Barat yang diharamkan Partai Komunis Indonesia. Ia menghayati Marxisme dan Leninisme, tapi tak mengganggap yang “kapitalis” harus selalu dimusihi.

Njoto adalah sisi lain dari sejarah Gerakan 30 September 1965. Kecuali buku-buku Orde Baru yang menyebut semua anggota PKI terlibat G30S, kebanyakan sejarawan tak menemukan keterlibatan Njoto dalam aski revolusioner itu.

Menjelang prahara 1965 ia tak lagi berada di lingkaran dalam Ketua PKI D.N Aidit: ia disingkirkan akibat terlalu dekat dengan Sukarno. Keretakan Njoto dengan Aidit dipercaya juga disebabkan oleh perselingkuhan Njoto dengan Rita, seorang perempuan Rusia yang disebut-sebut intel KGB.

Kisah tentang Njoto ini adalah satu cerita tentang “orang kiri Indonesia” yang diangkat dari liputan khusus Majalah Berita Mingguan Tempo pada 2007-2010. Menyingkap yang belum terungkap, buku ini mengetengahkan pemikiran, ketakutan, kekecewaan, pengkhianatan, juga kisah cinta dan perselingkuhan sejumlah tokoh komunis Indonesia.

***

“Menyusuri masa lalu adalah memasuki ruang dengan tirai berlapis. Semakin disibak, semakin berdatangan misteri yang baru.” (Hal. x)

Menjadi pengalaman menarik bagi saya saat membaca Seri Buku TEMPO yang diterbitkan oleh KPG. Ini karena sejarah tampil dengan seksi bagi seorang pembaca seperti saya. Membaca sejarah tidak menjadi sebuah hal yang membosankan dan dianggap serius. Dalam buku ini sejarah disampaikan bak sebuah dongeng. Bercerita dengan mengangkat sisi humanis dan mampu menyentuh emosi pembaca.

Hal ini sangat terasa saat saya membaca buku Njoto. Sejujurnya sosok ini sangat asing bagi saya yang jarang menggeluti bahasan “kiri”. Saya tahu tentang PKI, saya tahu tentang G30S namun tidak banyak nama yang saya kenali. Membaca buku ini membuat saya mendapatkan banyak ilmu baru.

Dalam buku ini, saya menangkap gambaran sosok Njoto sebagai orang yang simpatik dan karismatik. “Dalam hal seni dan budaya, Njoto sangat kental. Setiap terbit buku baru, dia pasti mencarinya. Dan, dia tidak pernah tidak membaca majalah kebudayaan yang baru terbit,” kata Trikoyo, .... Penggambaran yang menarik.

00.00



“This ia just two friends going out together. This is just two strangers who decided to going out together.” (Hal. 47)


Penulis: Ardelia Karisa
Editor: Septi Ws
Desainer Kover: Teguh
Ilustrasi isi: Cynthia
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Maret 2016
Jumlah hal.: xvi + 201 halaman
ISBN: 9786023753758
“You realize that you’re always leaving me by this time? The first time we met, the second time, now.”
“I’m such a Cinderella,” kataku singkat menanggapi kalimatnya itu.
“Maybe. But I’m not a stupid prince.”
“Why the prince is stupid?”
“Well, he told Cinderella that he’s in love with her, but he forgets how she looks and has to put a shoe on every girl in the kingdom.” Sangat masuk akal. Tapi, sayangnya aku tidak sepintar itu untuk menyadarinya.
“If I fall in love with a girl I’ll never forget how she looks. And I know exactly where to find her.”

Charvi Adipraman tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Nicolas Moreau – seorang ekspatriat Perancis yang tinggal di Jakarta – mengantarkannya pada ide kencan satu hari penuh. Charvi bertemu Nic tepat satu hari sebelum ia terbang ke Paris untuk mengejar mimpi. Hari itu untuk kali pertama ia mengku jatuh cinta kepada laki-laki yang baru saja ia kenal – suatu hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Berpegang pada rasa saling percaya, Charvi dan Nic berjanji untuk bertemu lagi satu tahun kemudian di tempat yang sama. Namun, satu tahun adalah waktu yang lama. Satu tahun bisa mengubah apa saja, termasuk cinta. Masihkah Charvi menjaga perasaannya untuk Nic setelah keduanya terpisah jarak dan waktu yang terbentang antara Perancis dan Jakarta?
***

“This marriage thing is not the happy ending. As you said before, it’s never ending hard work.” (Hal. xv)

Novel ini bercerita tentang Charvi dan kisah cintanya. Charvi pernah berkenalan dengan seorang ekspatriat dari Perancis, Nic, sehari sebelum ia berangkat ke Perancis. Sebuah keyakinan membuat Charvi memutuskan hal yang membuat Charvi dan Nic bertemu. Membuat mereka menghabiskan waktu bersama. Namun sayangnya semua berjalan di luar rencna Charvi. Sebab jatuh cinta tidak termasuk dalam rencana itu.

Demi mempertahankan prinsipnya sekaligus untuk menjaga dirinya dari patah hati, Charvi meminta Nic untuk “berjudi” dengan nasib. Mereka tidak saling bertukar nomor kontak. Mereka tidak bisa saling berkabar. Cukup datang tepat setahun kemudian di tempat mereka pertama kali bertemu. Jika memang mereka ditakdirkan untuk bersama, maka mereka pasti bertemu.

Lantas bagaimana kelanjutan hubungan mereka? Apakah takdir sekali lagi mempertemukan mereka? Bagimana kehidupan mereka setelahnya?

“.... Harusnya aku sadar dari awal kalau ‘terlalu sempurna’ itu cuma kamuflase dari hal buruk yang terpendam.” (Hal. 58)

Kamis, 01 Desember 2016

 
Halo, para pembaca Haru yang tercinta!
 
Tak terasa sudah satu tahun berlalu sejak Haru Awards pertama yang diselenggarakan oleh Penerbit Haru. Kali ini, dalam rangka menyambut ulang tahun Penerbit Haru yang ke-6, Penerbit Haru menggandeng adik-adik Haru yaitu Penerbit Spring dan Penerbit Inari untuk mengadakan Haru Grup Awards 2016.
 
Apa itu sih Haru Awards itu? Haru Awards merupakan sebuah ajang untuk mengapresiasi pihak yang pernah terlibat dalam kerja sama dengan Penerbit Haru. Apresiasi ini akan diberikan untuk para penulis, buku, desainer, dan pembaca/reviewer Penerbit Haru. Namun, kali ini kami tidak hanya akan memberikan apresiasi terhadap pihak-pihak yang bekerja sama dengan Penerbit Haru saja, melainkan juga dengan pihak-pihak yang bekerja sama dengan Penerbit Spring dan Penerbit Inari.
 
Sama seperti Haru Awards di tahun sebelumnya, akan ada beberapa kategori dalam Haru Grup Awards 2016 ini. Akan ada pula tahap pemilihan oleh pembaca (voting) untuk menentukan pemenang dalam setiap kategori. Kategori apa saja yang akan muncul dalam Haru Awards 2016, ya?

Selasa, 22 November 2016

[Review + Artikel] Lost and Found




Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Penata Letak Sampul: Tim Desain Broccoli
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Oktober 2016
Jumlah hal: 243 halaman
ISBN: 9786023757077

Setiap benda akan patah. Termasuk hati.
Walau sudah delapan tahun berlalu, hati Illa masih patah dan jiwanya rusak. Sampai detik ini dia masih tidak memiliki kepercayaan diri untuk kembali berurusan dengan cinta. Bukan tanpa alasan, dia takut untuk kembali terluka, mental dan fisik.

Illa menjalani hidupnya dengan membuka sebuah toko bernama My Ex-Boyfriend di sudut jalan Braga. Toko yang menarik perhatian banyak orang karena tokonya khusus menjual barang pemberian dari mantan. My Ex-Boyfriend tidak pernah sepi membuat hidupnya cukup sibuk dan untuk sesaat dia berhasil melupakan sesuatu bernama cinta.
Hingga seorang pria tidak sengaja hadir dalam hidupnya.

Mungkinkah hati yang tidak hanya sudah patah melainkan berderai mampu kembali utuh?
Mungkinkah rasa percaya yang sirna karena pengalaman buruk mampu kembali untuk percaya?

Pada akhirnya, akankah tragedi menghasilkan bahagia?

***
Novel ini berkisah tentang tokoh Illa yang pernah menjadi korban kekerasan dalam berpacaran. Fenomena yang kini semakin marak terjadi. Sering kali perempuan yang menjadi korban kekerasan ini tidak hanya mengalami luka fisik, mereka juga mengalami luka batin. Membuatnya kehilangan kepercayaan diri juga membuat mereka sulit percaya bahwa ada cinta yang penuh kelembutan dan kasih sayang di luar sana. Cinta yang menjaga dan tidak menyakiti.

Illa mencoba menata kembali hidupnya. Ia membuka toko My Ex-Boyfriend di ruas jalan yang jadi saksi sejarah panjang kota Bandung. Jalan Braga. Jalan itu pun kemudian menjadi saksi bagi kisah cinta milik orang tua Illa. Dan kini Jalan Braga kembali menjadi saksi bagi kisah Illa sendiri.

Pertemuan Illa dengan Pandu membuat Illa harus berhadapan dengan ketakutannya sendiri. Ia masih belum mampu percaya bahwa ada cinta lain untuknya. Parahnya, ia bahkan tidak bisa memercayai dirinya sendiri, bahwa ia cukup baik dan berhak bahagia. Bahwa bukan dia yang memicu Danang, mantan kekasihnya, menjadi “tukang pukul”.

Nah, sanggupkah Illa mengobati rasa traumanya? Sanggupkah Pandu meyakinkah Illa bahwa apa yang mereka miliki berhak dipercaya oleh Illa? Dan sanggupkah Illa menghadapi kenyatan ketika Danang, mimpi terburuknya, hadir kembali di hadapannya?
***

Tidak banyak yang ingin saya komentari tentang novel ini. Saya takut subjektivitas saya akan sangat mewarnai ulasan ini. Mengingat saya sudah menjadi bagian dari naskah ini sejak awal. Sejak ia masih menjadi embrio. Sejak ia bahkan tidak direncanakan oleh Mbak Dy.

Senin, 21 November 2016

Bahagia Itu.... 500 Hal yang Membuat Kita Bahagia




Penulis: Lisa Swerling dan Ralph Lazar
Alih Bahasa: Ratu Fortunata Rahmi Puspahadi
Desain isi dan sampul: Anne Kenady
Penyelaras isi: Era Saptiana
Penyelaras sampul: Suprianto
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2016
ISBN: 978-602-03-32115-4

Bahagia itu...
Meniup lilin ulang tahun, pujian dari orang yang tak kita kenal, melihat kampung halamanmu dari dalam pesawat, dan membaca buku ini!

Ilustrasi-ilustrasi yang menawan dan menggelitik ini sungguh pas serta mengingatkan kita bahwa ada ratusan hal yang bisa membuat kita bahagia setiap hari. Jadi, temukan dan reguk segalanya –besar atau kecil, diharapkan atau tak diharapkan- yang membuat kita bahagia!

Lisa Swerling dan Ralph Lazar adalah penulis Me Without You dan We Without You. Mereka tinggal di Marin County, California.

***

 Buku ini adalah sebuah buku grafis sederhana. Gambarnya sangat simple. Bukan gambar dengan tingkat keakuratan tinggi. Lebih mudah disebut sebagai gambar yang bisa dinikmati oleh semua umur bahkan oleh anak kecil sekalipun. Ini karena gambarnya super simple. Mirip dengan gambar anak SD  namun dengan nuansa yang lebih hidup dan menarik.

Di buku ini, pembaca tidak akan menemukan nomor halaman, seperti juga tidak akan mendapati angka 1 sampai 500 seperti yang ada di judul. Jadi, pembaca dibuat sesantai mungkin mengikuti seluruh gambar tanpa perlu berpikir “kapan habisnya ini? ini kebahagiaan nomor berapa? Sebab bukankah kebahagian sederhana itu tidak memiliki nomor urut?

Sabtu, 12 November 2016

Pengumuman Pemenang GA Blogtour #TentangKamu





Hai, berhubung bayi saya lagi rewel-rewelnya, langsung saja saya umumkan pemenang Giveaway Blogtour #TentangKamu ya.

Seperti yang sudah saya infokan sebelumnya, saya akan memilih satu pemenang dari Instagram dan satu pemenang dari twitter. Dan ini dia dua orang yang beruntung mendapatkan #TentangKamu karya Tere Liye dari Penerbit Republika

Selamat kepada:

Jumat, 11 November 2016

Menemukan Indonesia



“You can’t kill an idea.” (Hal. 40)


Penulis: Pandji Pragiwaksono
Penyunting: Eka Saputra & Nurjannah Intan
Perancang & ilustrasi sampul: Anugerah
Pemeriksa Aksara: gabriel_sih
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Kedua, Mei 2016
Jumlah hal.: xvi+284 halaman
ISBN: 978-602-291-143-2

Selama ini, saya selalu berkata bahwa saya mencintai Indonesia. Tak pernah ada sedikit pun keraguan. Hingga kemudian, saya memutuskan untuk menantang rasa cinta terhadap negara ini dengan membuat perbandingan-perbandingan. Saya harus melakukan perjalanan keliling dunia dan melihat dengan mata kepala sendiri, seperti apa situasi di luar sana.

Dan akhirnya, kesempatan itu tiba. Dari April 2014 sampai April 2015, saya melakukan perjalanan ke Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Gold Coast, Hong Kong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.

Dua puluh kota. Delapan negara. Empat benua. Satu tahun.

Perjalanan saya membawa misi, mengenalkan dan mengenal kembali Indonesia melalui Mesakke Bangsaku World Tour. Setiap detail dan segala sesuatu yang saya lihat, dengar, dan rasakan di negara-negara tersebut, saya tuliskan dalam buku ini.

Lalu, setelah Anda selesai membacanya, coba tanyakan hal ini kepada diri Anda: Seperti apakah Indonesia yang selama ini saya kenal?
***
“Kenapa kita nggak bikin karya yang bagus dan bikin orang – orang  jadi belajar bahasa Indonesia, sebagaimana orang Indonesia pada belajar bahasa Korea supaya ngerti lagu-lagu dan serial TV Korea?” (Hal. XV)
“Masalahnya, kunci untuk hasil yang optimal dalam mengerjakan sesuatu datang dari kemampuan untuk memahami perbedaan, mengakomodasi perbedaan pendapat tersebut dan meramunya menjadi kekuatan besar.” (Hal. 145)
Buku Menemukan Indonesia dengan tagline: 365 Hari. 20 Kota. 8 Negara. 4 Benua. 1 Buku ini sebenarnya bisa dikategorikan dalam genre traveling. Namun disuguhkan dengan cara yang berbeda. Tidak hanya melalui penuturan dari sudut pandang orang pertama yakni Pandji sendiri, namun juga melalui gaya bercerita yang kasual.

Membaca buku ini lebih terasa seperti sebagai sebuah cerita yang dituturkan oleh Pandji dalam sebuah percakapan. Ini karena yang dipakai adalah bahasa tutur. Hal ini sekaligus menjadikan buku ini mudah dipahami.

Dalam hal layout, tulisan di dalam buku ini cukup ramah mata. Selain itu penekanan dilakukan pada beberapa kalimat dalam setiap bab dengan mensettingnya sebagai quote yang ditulis dengan ukuran font yang lebih besar.

Yang membuat buku ini berbeda dari buku dengan genre traveling lainnya adalah