Kamis, 01 Desember 2016

 
Halo, para pembaca Haru yang tercinta!
 
Tak terasa sudah satu tahun berlalu sejak Haru Awards pertama yang diselenggarakan oleh Penerbit Haru. Kali ini, dalam rangka menyambut ulang tahun Penerbit Haru yang ke-6, Penerbit Haru menggandeng adik-adik Haru yaitu Penerbit Spring dan Penerbit Inari untuk mengadakan Haru Grup Awards 2016.
 
Apa itu sih Haru Awards itu? Haru Awards merupakan sebuah ajang untuk mengapresiasi pihak yang pernah terlibat dalam kerja sama dengan Penerbit Haru. Apresiasi ini akan diberikan untuk para penulis, buku, desainer, dan pembaca/reviewer Penerbit Haru. Namun, kali ini kami tidak hanya akan memberikan apresiasi terhadap pihak-pihak yang bekerja sama dengan Penerbit Haru saja, melainkan juga dengan pihak-pihak yang bekerja sama dengan Penerbit Spring dan Penerbit Inari.
 
Sama seperti Haru Awards di tahun sebelumnya, akan ada beberapa kategori dalam Haru Grup Awards 2016 ini. Akan ada pula tahap pemilihan oleh pembaca (voting) untuk menentukan pemenang dalam setiap kategori. Kategori apa saja yang akan muncul dalam Haru Awards 2016, ya?

Selasa, 22 November 2016

[Review + Artikel] Lost and Found




Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Tim Editor Fiksi
Penata Letak Sampul: Tim Desain Broccoli
Penata isi: Tim Desain Broccoli
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, Oktober 2016
Jumlah hal: 243 halaman
ISBN: 9786023757077

Setiap benda akan patah. Termasuk hati.
Walau sudah delapan tahun berlalu, hati Illa masih patah dan jiwanya rusak. Sampai detik ini dia masih tidak memiliki kepercayaan diri untuk kembali berurusan dengan cinta. Bukan tanpa alasan, dia takut untuk kembali terluka, mental dan fisik.

Illa menjalani hidupnya dengan membuka sebuah toko bernama My Ex-Boyfriend di sudut jalan Braga. Toko yang menarik perhatian banyak orang karena tokonya khusus menjual barang pemberian dari mantan. My Ex-Boyfriend tidak pernah sepi membuat hidupnya cukup sibuk dan untuk sesaat dia berhasil melupakan sesuatu bernama cinta.
Hingga seorang pria tidak sengaja hadir dalam hidupnya.

Mungkinkah hati yang tidak hanya sudah patah melainkan berderai mampu kembali utuh?
Mungkinkah rasa percaya yang sirna karena pengalaman buruk mampu kembali untuk percaya?

Pada akhirnya, akankah tragedi menghasilkan bahagia?

***
Novel ini berkisah tentang tokoh Illa yang pernah menjadi korban kekerasan dalam berpacaran. Fenomena yang kini semakin marak terjadi. Sering kali perempuan yang menjadi korban kekerasan ini tidak hanya mengalami luka fisik, mereka juga mengalami luka batin. Membuatnya kehilangan kepercayaan diri juga membuat mereka sulit percaya bahwa ada cinta yang penuh kelembutan dan kasih sayang di luar sana. Cinta yang menjaga dan tidak menyakiti.

Illa mencoba menata kembali hidupnya. Ia membuka toko My Ex-Boyfriend di ruas jalan yang jadi saksi sejarah panjang kota Bandung. Jalan Braga. Jalan itu pun kemudian menjadi saksi bagi kisah cinta milik orang tua Illa. Dan kini Jalan Braga kembali menjadi saksi bagi kisah Illa sendiri.

Pertemuan Illa dengan Pandu membuat Illa harus berhadapan dengan ketakutannya sendiri. Ia masih belum mampu percaya bahwa ada cinta lain untuknya. Parahnya, ia bahkan tidak bisa memercayai dirinya sendiri, bahwa ia cukup baik dan berhak bahagia. Bahwa bukan dia yang memicu Danang, mantan kekasihnya, menjadi “tukang pukul”.

Nah, sanggupkah Illa mengobati rasa traumanya? Sanggupkah Pandu meyakinkah Illa bahwa apa yang mereka miliki berhak dipercaya oleh Illa? Dan sanggupkah Illa menghadapi kenyatan ketika Danang, mimpi terburuknya, hadir kembali di hadapannya?
***

Tidak banyak yang ingin saya komentari tentang novel ini. Saya takut subjektivitas saya akan sangat mewarnai ulasan ini. Mengingat saya sudah menjadi bagian dari naskah ini sejak awal. Sejak ia masih menjadi embrio. Sejak ia bahkan tidak direncanakan oleh Mbak Dy.

Senin, 21 November 2016

Bahagia Itu.... 500 Hal yang Membuat Kita Bahagia




Penulis: Lisa Swerling dan Ralph Lazar
Alih Bahasa: Ratu Fortunata Rahmi Puspahadi
Desain isi dan sampul: Anne Kenady
Penyelaras isi: Era Saptiana
Penyelaras sampul: Suprianto
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2016
ISBN: 978-602-03-32115-4

Bahagia itu...
Meniup lilin ulang tahun, pujian dari orang yang tak kita kenal, melihat kampung halamanmu dari dalam pesawat, dan membaca buku ini!

Ilustrasi-ilustrasi yang menawan dan menggelitik ini sungguh pas serta mengingatkan kita bahwa ada ratusan hal yang bisa membuat kita bahagia setiap hari. Jadi, temukan dan reguk segalanya –besar atau kecil, diharapkan atau tak diharapkan- yang membuat kita bahagia!

Lisa Swerling dan Ralph Lazar adalah penulis Me Without You dan We Without You. Mereka tinggal di Marin County, California.

***

 Buku ini adalah sebuah buku grafis sederhana. Gambarnya sangat simple. Bukan gambar dengan tingkat keakuratan tinggi. Lebih mudah disebut sebagai gambar yang bisa dinikmati oleh semua umur bahkan oleh anak kecil sekalipun. Ini karena gambarnya super simple. Mirip dengan gambar anak SD  namun dengan nuansa yang lebih hidup dan menarik.

Di buku ini, pembaca tidak akan menemukan nomor halaman, seperti juga tidak akan mendapati angka 1 sampai 500 seperti yang ada di judul. Jadi, pembaca dibuat sesantai mungkin mengikuti seluruh gambar tanpa perlu berpikir “kapan habisnya ini? ini kebahagiaan nomor berapa? Sebab bukankah kebahagian sederhana itu tidak memiliki nomor urut?

Sabtu, 12 November 2016

Pengumuman Pemenang GA Blogtour #TentangKamu





Hai, berhubung bayi saya lagi rewel-rewelnya, langsung saja saya umumkan pemenang Giveaway Blogtour #TentangKamu ya.

Seperti yang sudah saya infokan sebelumnya, saya akan memilih satu pemenang dari Instagram dan satu pemenang dari twitter. Dan ini dia dua orang yang beruntung mendapatkan #TentangKamu karya Tere Liye dari Penerbit Republika

Selamat kepada:

Jumat, 11 November 2016

Menemukan Indonesia



“You can’t kill an idea.” (Hal. 40)


Penulis: Pandji Pragiwaksono
Penyunting: Eka Saputra & Nurjannah Intan
Perancang & ilustrasi sampul: Anugerah
Pemeriksa Aksara: gabriel_sih
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Kedua, Mei 2016
Jumlah hal.: xvi+284 halaman
ISBN: 978-602-291-143-2

Selama ini, saya selalu berkata bahwa saya mencintai Indonesia. Tak pernah ada sedikit pun keraguan. Hingga kemudian, saya memutuskan untuk menantang rasa cinta terhadap negara ini dengan membuat perbandingan-perbandingan. Saya harus melakukan perjalanan keliling dunia dan melihat dengan mata kepala sendiri, seperti apa situasi di luar sana.

Dan akhirnya, kesempatan itu tiba. Dari April 2014 sampai April 2015, saya melakukan perjalanan ke Singapura, Sydney, Melbourne, Adelaide, Brisbane, Gold Coast, Hong Kong, Makau, London, Liverpool, Manchester, Amsterdam, Leiden, Berlin, Guangzhou, Beijing, Tokyo, Kyoto, Los Angeles, dan San Fransisco.

Dua puluh kota. Delapan negara. Empat benua. Satu tahun.

Perjalanan saya membawa misi, mengenalkan dan mengenal kembali Indonesia melalui Mesakke Bangsaku World Tour. Setiap detail dan segala sesuatu yang saya lihat, dengar, dan rasakan di negara-negara tersebut, saya tuliskan dalam buku ini.

Lalu, setelah Anda selesai membacanya, coba tanyakan hal ini kepada diri Anda: Seperti apakah Indonesia yang selama ini saya kenal?
***
“Kenapa kita nggak bikin karya yang bagus dan bikin orang – orang  jadi belajar bahasa Indonesia, sebagaimana orang Indonesia pada belajar bahasa Korea supaya ngerti lagu-lagu dan serial TV Korea?” (Hal. XV)
“Masalahnya, kunci untuk hasil yang optimal dalam mengerjakan sesuatu datang dari kemampuan untuk memahami perbedaan, mengakomodasi perbedaan pendapat tersebut dan meramunya menjadi kekuatan besar.” (Hal. 145)
Buku Menemukan Indonesia dengan tagline: 365 Hari. 20 Kota. 8 Negara. 4 Benua. 1 Buku ini sebenarnya bisa dikategorikan dalam genre traveling. Namun disuguhkan dengan cara yang berbeda. Tidak hanya melalui penuturan dari sudut pandang orang pertama yakni Pandji sendiri, namun juga melalui gaya bercerita yang kasual.

Membaca buku ini lebih terasa seperti sebagai sebuah cerita yang dituturkan oleh Pandji dalam sebuah percakapan. Ini karena yang dipakai adalah bahasa tutur. Hal ini sekaligus menjadikan buku ini mudah dipahami.

Dalam hal layout, tulisan di dalam buku ini cukup ramah mata. Selain itu penekanan dilakukan pada beberapa kalimat dalam setiap bab dengan mensettingnya sebagai quote yang ditulis dengan ukuran font yang lebih besar.

Yang membuat buku ini berbeda dari buku dengan genre traveling lainnya adalah

Winter

“Bermimpi hanyalah untuk orang-orang yang tidak punya hal lebih baik untuk dilakakukan.” (Hal. 72)

Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K
Design Cover: @hanheebin
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama, Agustus 2016
Jumlah hal.: 900 halaman
ISBN:978-602-74322-3-9

Putir Winter dikagumi oleh penduduk Bulan karena kebaikan hatinya. Meskipun ada luka di wajahnya, banyak orang bulan yang mngatakan bahwa Sang Putri lebih cantik daripada Ratu Levana.

Iri dengan Sang Putri yang dianggapnya lemah dan gila, Levana memerintahkan Jacin Clay, pengawalnya, untuk mengawasi Winter agar tidak mempermalukan sang Ratu dan kerajaannya. Namun Winter menyukai Jacin, hal itu justru membuatnya semakin terlihat lemah.

Hanya saja, Winter tidak selemah yang Levana kira. Besama dengan Cinder, sang mekanik, dan para sekutunya, mereka bahkan mungkim bisa membangkitkan sebuah revolus dan memenangkan perang yang sudah berkecamuk terlalu lama.

Daptkah Cinder, Scrlett, Cress dan Winter mengalahkan Levana dan mendapatkan kebahagiaan mereka selamanya?
***
“..., beberapa orang mungkin mengatakan bahwa melakukan hal yang benar adalah hadiah itu sendiri.” (Hal. 156)
Petualangan Cinder, Scarlet, dan Cress kini berlanjut. Dan seorang tokoh baru bergabung dalam perjuangan mereka melawan Ratu Levana. Ia adalah Winter. Winter adalah anak tiri Ratu Levana.

Winter adalah orang bulan yang menolak menggunakan anugerahnya. Ini membuat Winter menderita kegilaan dalam taraf tertentu. Ia sering kali kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang merupakan imajinasinya. Namun ini tidak terjadi sepanjang waktu. Hal ini karena sejak kecil Winter didampingi oleh Jacin berusaha meminimalisir “kegilaan” yang disebabkan oleh sikap Winter yang enggan menggunakan kemampuan bulannya, kemampuan untuk memanipulasi.

Oiya, tokoh Jacin Clay ini adalah tokoh yang sebelumnya telah muncul dalam buku ketiga The Lunar Chronicles, Cress. Jacin adalah pengawal Sybil yang sempat ikut dalam rampion dan sempat menolong Cinder meski pada akhirnya ia mengkhianati Cinder dan kawan-kawan.

Jacin dan Winter memiliki hubungan yang rumit. Saling mencintai namun harus saling menjaga. Hingga akhirnya keluarlah perintah itu. Ratu Levana menyuruh Jacin untuk melenyapkan Winter sebab Levana merasa bahwa Winter adalah ancaman bagi kekuasaannya. Rakyat bulan menyukai Winter, mencintainya tanpa syarat. Berbeda dengan Levana. Ia harus memanipulasi mereka untuk bisa mendapatkan cinta dan kepatuhan rakyat bulan.

Bagaimana nasib Winter? Bagaimana hingga akhirnya ia bisa bergabung dengan Cinder dan kawan-kawan yang kini menjejak di bulan demi mengalahkan Levana, memulai revolusi di bulan dan mengembalikan hak Cinder sebagai ratu di bulan.

Berhasilkan rencana Cinder dan kawan-kawan dalam menggulingkan kepemimpinan Ratu Levana di bulan?

Kamis, 10 November 2016

Cress




Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Jia Effendi
Penyunting: Selsa Chinty, Brigda Ruri
Proofreader: Titish A.K
Design cover: @hanheebin
Penerbit: Spring
Cetakan: Pertama, Mei 2016
Jumlah hal.: 576 Halaman
ISBN: 978-602-71505-8-4

Cinder dan Kapten Thorne masih buron. Scarlet dan Wolf bergabung dalam rombongan kecil mereka, berencana untuk menggulingkan Levana dari takhtanya.

Mereka mengharapkan bantuan dari seorang gadis bernama Cress. Gadis itu dipenjara di sebuah satelit sejak kecil, hanya ditemani oleh beberapa netscreen yang menjadikannya peretas andal. Namun kenyataannya, Cress menerima perintah dari Levana untuk melacak Cinder, dan Cress bisa menemukan mereka dengan mudah.

Sementara itu di Bumi, Levana tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu pernikahannya dengan Kaisar Kai.

***

Cress adalah buku ketiga dalam The Lunar Chronicles series yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Spring. Di dua buku sebelumnya kita telah berkenalan dengan dua tokoh utama lain yakni Cinder dan Scarlet.

Di buku ketiga ini, keduanya pun muncul. Masih dengan sudut pandang orang ketiga, novel ini berkisah tentang kehidupan Crescent Moon. Cress adalah seorang shell yang keberadaannya disembunyikan. Ia hidup dalam sebuah satelit, sendirian selama bertahun-tahun. Menjalankan tugas yg diberi oleh Ahli Sihir Sybil terkait teknologi. Mulai dari memata-matai bumi hingga mereka berbagai jaringan teknologi komunikasi di bumi.

Untuk yang membaca novel Cinder & Scarlet, ya Cress adalah tokoh yang terkait dengan D-COMM yang ditemukan Cinder. Cress menjadi tokoh utama lain dalam novel ini. Cerita dari sisi Cress muncul bergantia dengan cerita dari sisi Cinder dan Scarlet.

Oiya, sedikit bocoran, Scarlet tertangkap oleh Sybil. Kira-kira bagaimana nasib gadis itu ya? Dan bagaimana reaksi Wolf yang harus berpisah dengan Scarlet. Mengetahui bahwa gadis itu kini ada di bulan dan bisa saja dibunuh ataupun di siksa di sana.

Bagaimana Cinder dan kawan kawan menyelamatkan diri dari kejaran Ratu Levana dan bagaimana mereka bisa menyelamatkan Scarlet? Dan siapa sebenarnya Cress?

Rabu, 09 November 2016

She’s Natasha



“Bukankah cinta memang harus diperjuangkan selagi dirimu bisa melakukannya?” (Hal. 85)


Penulis: Thiarany Putri
Penyunting: Hayatun Nufus
Penata Letak: Melz
Pendesain sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrasi: freepik.com
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2016
Jumlah hal.: viii + 278 halaman
ISBN: 978-602-74863-1-7

Natasha tanpa Gabriel. Seperti ikan yang kehilangan air. Seperti bumi yang kehilangan sinar matahari. Seperti manusia yang kehilangan oksigen. Seluruhnya rapuh dan tak bermakna. Gabriel tanpa Natasha. Seperti musik tanpa nada. Seperti lagu tanpa suara. Seperti alunan tanpa getar. Sepenuhnya sepi dan rumpang.

*
Sejak kehadiran Gabriel Leander, tutor piano yang juga merupakan anak sahabat dari mamanya, hidup Natasha Adelina berubah. Gabriel Leander membuatnya kembali menemukan keceriaan yang telah lama hilang.

Ketika cinta mulai tumbuh, kenyataan pahit muncul. Masa lalu Gabriel hadir kembali di tengah mereka dan kenyataan lain yang lebih pahit lagi datang bagai tembok penghalang cinta Natasha dan Gabriel.

***

“.... Belajar piano itu harus dari hati, begitu pun saat lo bermain dengan piano tersebut, karena yang ngedengerin bukan cuma lo, tapi semua orang yang ada di sekitar piano tersebut dimainin. Jadi, klo lo mainin nggak dari hati, percuma, karena nada yang keluar nggak akan bisa dinikmati sama mereka yang ngedengerin.” (Hal. 22-23)

Gabriel adalah siswa SMU yang tengah menikmati masa putih abu-abu. Kepatuhan pada ibunya  membuatnya bersedia menjadi tutor Natasha. Ia mengajari gadis itu bermain piano. Natasha adalah putri dari sahabat orangtua Gabriel. Ini semakin menyulitkannya untuk menolak mengajari Natasha.

Pertemuan pertama mereka berlangsung kurang baik. Impresi pertama Gabriel pada Natasha adalah Natasha gadis yang cerewet. Natasha juga cenderung memaksakan kehendaknya. Sedangkan bagi Natasha, sejak pertemuan pertama ia sudah menyukai Gabriel. Ini karena secara fisik Gabriel memang menarik. Sayangnya Gabriel selalu bersikap dingin pada Natasha.

Kebersamaan mereka membuat hubungan keduanya berubah. Gabriel mulai menyukai Natasha. Sedangkan Natasha yang sejak awal menyukai Gabriel sering dibuat bingung oleh sikap cowok itu. Gabriel kadang bersikap hangat namun di waktu tertentu juga kadang bersikap dingin. Kehadiran Rei, cowok yang menolong Natasha saat pingsan memperumit keadaan. Kemudian kehadiran sosok yang mirip Hanna, cinta pertama Gabriel, ikut memperkeruh keadaan. Bukankah Hanna sudah meninggal? Siapa gadis itu?

Dan satu hal penting. Natasha menyembunyikan sesuatu dari Gabriel. Hal yang jadi penghalang utama kebersamaan mereka. Bisakah cinta mereka bersatu? Adakah masa depan bagi hubungan Gabriel dan Natasha?

Senin, 07 November 2016

[Blog Tour] Tentang Kamu + Giveaway



“Chaty, jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. ....” (Hal. 278)


Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Layout: Alfian
Penerbit: Republika
Cetakan: I, Oktober 2016
Jumlah hal.: vi + 524 halaman
ISBN:9786020-822341

Terima kasihu untuk kesempatan mengenalmu,
itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku.
Cinta memang tidak perlu ditemukan,
cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali,
aku tidak akan menangis karena suatu telah berakhis,
tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi.
Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir.
maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.

***

“... Kamu adalah anak seorang pelaut tangguh. Bersabarlah dalam setiap perkara.” (Hal. 95)

Novel ini dibuka dengan penugasan Zaman Zulkarnaen, pemuda asal Indonesia yang menjadi associate di Thompson & Co. yang memiliki nama besar dan melegenda dalam dunia hukum khususnya dalam hal hukum waris. Kali ini ia harus menangani warisan dari seorang perempuan yang menghabiskan hidupnya di panti jompo padahal ia memiliki uang senilai satu miliar pounsterling. Zaman harus menelusuri kehidupan Sri Ningsih demi bisa menemukan ahli waris yang tepat bagi harta yang sangat besar tersebut.

Ini kemudian membawa Zaman dalam sebuah perjalanan panjang dan sarat makna. Ia menelusuri kehidupan Sri sejak lahir hingga akhirnya meninggal dunia. Ini membawanya mengunjungi Pulau Bungin, Surakarta, Jakarta, London hingga Paris. Membuat Zaman mengikuti kisah pilu Sri Ningsih namun sekaligus belajar tentang kesabaran dan kemampuan untuk bangkit dari kisah perempuan tersebut.

Namun pada akhirnya pencarian Zaman ini terbentur banyak hal. Membuat warisan Sri Ningsih terancam akan jatuh ke pihak lain. Membuat Sri Ningsih tidak bisa mendapatkan keadilan.

Berhasilkan Zaman menemukan ahli waris Sri Ningsih yang sah? Jika tidak adakah surat wasiat yang disembunyikan oleh Sri Ningsih yang bisa menjadi petunjuk atas keinginan perempuan tegar tersebut terkait pembagian harta yang ditinggalkannya?

Rabu, 02 November 2016

Pengumuman Pemenang Giveaway You Are My Moon & The Girl on Paper





Halo, Readers. Rasanya sudah lama saya tidak mengupdate tulisan di blog ini ya.
He..he..
Persalinan saya yang maju cukup jauh dari perkiraan tanggal persalinan membuat banyak rencana harus tertunda. Tapi syukurlah rangkaian Giveaway You are My Moon & The Girl on Paper bisa terlaksana dengan baik.

Nah, berhubung baby-ku sudah gelisah dan bikin saya tidak bisa lama-lama di depan laptop, langsung saja ya saya umumkan. Dua orang yang beruntung menjadi pemenangnya.